Kali ini Terorisnya Orang Bule!

0
13 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Selasa 19 Mar 2019 05:41 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

“Pelaku penembakan di Christchurch tak pernah bergabung dengan organisasi teroris”

Oleh: Ikhwanul Kiram

Sudah dua kali saya berkunjung ke Selandia Baru. Pertama, memenuhi undangan sebuah lembaga yang mengurus atau tepatnya mempromosikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Selandia Baru untuk para pelajar/mahasiswa asing. Sekolah-sekolah/perguruan tinggi yang dipromosikan ada yang swasta dan ada yang negeri, dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi. Banyak juga lembaga-lembaga pendidikan yang dipromosikan khusus untuk belajar bahasa Inggris.

Saya berada di sana selama sepekan. Ketika datang, saya mendarat di Christchurch dan meninggalkan negara itu dari Auckland. Christchurch bisa dibilang sebagai kota budaya dan pendidikan, Auckland kota perdagangan, dan Wellington ibu kota Negara Kiwi itu. Dari Christchurch hingga Auckland saya menempuh perjalanan panjang, lebih dari seribu kilometer. Salah satunya dengan pesawat kecil, ditemani seorang pilot dan pramugari. Selebihnya lewat darat, berganti mobil setiap tiba di satu kota.

Ada lima kota/daerah yang saya kunjungi dalam perjalanan Christchurch-Auckland, termasuk Wellington. Dari udara yang tampak dari Selandia Baru hanyalah awan, perbukitan, hijau pertanian, dan putih jutaan kambing dan sapi di sela kehijauan padang rerumputan. Kehijauan pertanian, padang rumput, dan kambing-kambing dan sapi itu semakin tampak jelas di sepanjang perjalanan darat.

Produk industri agrokultur, terutama dari pertanian dan peternakan, memang menjadi kekuatan utama komoditas ekspor Selandia Baru. Sebanyak 50 persen komoditas ekspor negara itu dari sektor agrokultur ini.

Selama di Selandia Baru saya lebih banyak berkunjung ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, bercengkerama dan berdiskusi dengan para guru, dosen, dan para pemangku pendidikan di negeri itu. Juga bertemu dengan para murid/mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia. Di sebuah sekolah SMP, saya diminta untuk berdiri di depan kelas, memperkenalkan Indonesia kepada sekitar 30 murid.

Salah satu malam saya diinapkan di host family. Host family ini semacam orang tua didik, yang menerima pelajar/mahasiswa asing tinggal di rumahnya. Di Selandia Baru, para keluarga yang ingin menjadi host family diseleksi ketat. Antara lain harus pasangan suami-istri, berpendidikan tinggi, mempunyai jiwa pendidik, bersikap toleran.

Host family yang saya inapi adalah rumah pasangan suami isteri berusia di atas 60-an tahun. Mereka tinggal berdua setelah anak-anaknya dewasa, berkeluarga, dan pindah ke rumah mereka masing-masing. Kamar anak-anak mereka yang kosong inilah kemudian ditawarkan untuk tempat tinggal para pelajar/mahasiswa asing. Saya pun tidur di salah satu kamar itu, yang sedang kosong karena ‘si empunya’ (pelajar Indonesia) sedang pulang liburan ke Bandung. Ketika saya menanyakan arah kiblat untuk shalat, sang istri (host family) pun menunjukkan arah kiblat, membawakan sajadah, berikut selembar jadwal waktu shalat.

Kesimpulan saya dari kunjungan sepekan itu, belajar di Selandia Baru memang asyik dan mengasyikkan. Lembaga pendidikannya berkualitas, udaranya bersih, cuacanya sejuk, banyak hutan kota dan taman terbuka. Lalu lintasnya pun tertib. Dan, lebih dari itu, penduduknya ramah terhadap orang asing, masyarakatnya sangat multikultural dan menjunjung tinggi toleransi. Bahkan, Selandia Baru menempati peringkat kedua negara paling aman dan peringkat keempat paling damai di dunia.

Masyarakat Selandia Baru yang sangat toleran dan saling menghormati itu juga diakui oleh imam Masjid al-Noor, yang saya temui ketika berkesempatan shalat Zhuhur, waktu berada di Kota Christchurch. Termasuk, kata sang imam, toleransi dan hormat-menghormati antarpara pemeluk agama yang berbeda.

Sebagai info, di Masjid al-Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch ini, empat hari lalu (15/03) telah terjadi aksi penembakan terhadap para jamaah ketika sedang shalat Jumat. Akibat dari aksi brutal itu 50 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya cedera.

Toleransi dan saling menghormati ini juga sangat tampak dalam kunjungan kedua saya ke Selandia Baru beberapa tahun lalu, dalam rangka Bilateral Interfaith Dialogue antara Indonesia dan Negara Kiwi ini. Kedua negara memang sangat aktif mempromosikan perdamaian dunia, toleransi dan saling menghormati antaranggota masyarakat di level internasional, lewat dialog antarumat beragama dan keyakinan yang berbeda. Interfaith Dialogue ini melibatkan tokoh-tokoh agama yang berbeda, akademisi, tokoh masyarakat, dan jurnalis.

Dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan saya tentang Selandia Baru seperti itu, pada Jumat malam lalu saya pun sangat kaget bin terkejut ketika mendengar berita telah terjadi aksi penembakan brutal terhadap jamaah shalat Jumat di Masjid al-Noor dan masjid lain di Kota Christchurch. Selandia Baru diserang teroris? Salah satu negara yang paling aman dan damai itu?

Ketika berita itu belum jelas benar, saya pun menduga pelakunya terkait ISIS atau kelompok teroris yang sering mengatasnamakan Islam dan umat Islam. Misalnya dilakukan oleh warga Selandia Baru yang pernah bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah, dan kini telah kembali ke negaranya.

Toh, sasaran serangan ISIS selama ini tidak mengenal masjid atau bukan. Di sejumlah negara Arab, beberapa masjid telah jadi sasaran serangan ISIS. Ternyata saya telah terpengaruh stereotip yang dilancarkan Barat bahwa setiap aksiterorisme pelakunya selalu terkait dengan Islam dan umat Islam.

Beberapa waktu setelahnya, berita pun makin jelas. Pelaku teroris kali ini ternyata seorang bule! Ia tidak pernah bergabung dengan organisasi teroris yang selama ini sering mengatasnamakan Islam atau umat Islam.

Ia adalah Brenton Harrison Tarrant, berkulit putih, berkewarganegaraan Australia, berusia 28 tahun. Ia meyakini superioritas kulit putih, pengikut kelompok ekstrem kanan Eropa, antiimigran, antimulikulturalisme, anti-Islam dan umat Islam alias Islamofobia. Terakhir, ia pendukung kuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lalu, apa yang bisa kita jelaskan dengan fakta seperti ini?

Ya, pelaku penembakan di Selandia Baru adalah seorang teroris bengis. Bayangkan, si pelaku memasuki masjid dengan berjalan gagah, berpakaian militer, sambil mendengarkan musik, lalu melepaskan rentetan tembakan dengan darah dingin ke arah jamaah yang sedang menunaikan ibadah shalat Jumat. Ia seolah sedang menjalankan tugas suci, karena itu ia merekam tindakannya dan menyiarkan langsung melalui media sosial. Ia menyebutnya sedang ‘berpesta’.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern mengecam keras aksi kejam itu. Ia menegaskan, peristiwa berdarah itu sebagai salah satu hari terkelam di negaranya. Sedangkan PM Pakistan Imran Khan mengatakan, penembakan brutal di Selandia Baru makin menunjukkan bahwa teroris tidak mengenal agama. Atau dengan kata lain, pihak-pihak tertentu, terutama di Barat, yang terkena demam Islamofobia, tidak bisa lagi mengaitkan terorisme dengan Islam dan umat Islam. Kali ini pelakunya adalah seorang bule.

Bila paham ekstrem kanan itu hanya diikuti oleh Brenton Tarrant sendiri, mungkin akibat negatif dari peristiwa berdarah itu bisa segera dilokalisasi atau diminimalisasi. Namun, yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, ideologi seperti yang dianut Tarrant sudah melembaga, sudah berubah menjadi kebijakan politik yang terorganisasi.

Munculnya gelombang fasis dan rasis di daratan Eropa, tempat partai-partai yang menolak pluralisme dan multikulturalisme memulai berkuasa, adalah sebagai tanda ke arah sana. Maka, negeri yang paling aman dan damai seperti Selandia Baru pun bisa kena akibatnya, meskipun jumlah umat Islam di sana kurang dari 50 ribu dari total 4 juta penduduk.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here