Kabupaten Garut Semakin Rawan Wabah DBD

0
69 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 05/02 – 2016 ).

Lintasan Ruas Jalan Pembangunan Garut Sarat Dibanjiri Luapan Drainase yang Tak Berfungsi Ketika Diguyur Hujan, Jum'at (05/02-2016) Sore.
Lintasan Ruas Jalan Pembangunan Garut Sarat Dibanjiri Luapan Drainase yang Tak Berfungsi Ketika Diguyur Hujan, Jum’at (05/02-2016) Sore.

Dinkes Kabupaten Garut kian meningkatkan kewaspadaan dini terhadap kemungkinan merebak-maraknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten setempat.

Apalagi selama rentang waktu tiga tahun terakhir, siklus serangan DBD di Garut menunjukkan abnormal.

Kadinkes Teni Sewara Rifa’i melalui Kabid Pengendalian Penyakit Tatang Wahyudin katakan, kasus DBD di kabupatennya mengalami siklus abnormal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu terjadi kemungkinan berkaitan perubahan iklim cenderung tak bisa diprediksi.

Padahal biasanya, kasus DBD mulai terjadi sekitar Maret. Seperti terdata 2014. Namun pada 2015, siklus kasus tersebut bergeser menjadi sejak Februari, Maret, hingga April. Pada 2016, kasusnya justru terdeteksi terjadi sejak Januari, katanya.

Selama Januari 2016, kasus DBD di kabupaten ini mencapai 27 positif. Seluruhnya berada di kawasan perkotaan meliputi lima wilayah kecamatan, terdiri Kecamatan Garut Kota, Karangpawitan, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, dan Kecamatan Banyuresmi.

“Kalau kasus terduga DBD, jumlahnya banyak. Tetapi yang positif DBD, selama Januari kemarin, jumlahnya 27. Alhamdulillah tak ada kasus kematian,” katanya pula, Jum’at (5/02-2016).

Dari 27 kasus positif itu, ungkap dia, tak semua korban terjangkit DBD di Garut. Beberapa di antaranya diduga kuat terjangkit atawa digigit nyamuk pembawa virus DBD di luar Garut, namun mulai merasakan keluhan sakit ketika berada di Garut.

“Ada korban sebenarnya digigit nyamuknya itu di Bandung yang memang endemik DBD. Ketika datang ke Garut untuk berlibur, dia baru merasakan sakit. Setelah diperiksa, ternyata terserang DBD,” bebernya.

Meski di luar Garut, namun ketika korban bersangkutan datang dan dirawat di Garut maka hal itu memunculkan potensi penyebaran DBD di lingkungan tinggalnya apabila digigit nyamuk lainnya. Apalagi masa inkubasi DBD cukup lama, berkisar 4-7 hari, bergantung ketahanan tubuh korban.

Karena itu, pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan dini terhadap serangan DBD. Terutama sangat diharapkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan dini dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan, dan menggalakkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sayangnya, masih banyak masyarakat menganggap fogging (pengasapan) sebagai solusi DBD, dan penyakit lain ditularkan nyamuk. Padahal fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, tak sampai membunuh jentik. Membunuh jentik dapat digunakan larvasida abate disediakan setiap puskesmas secara cuma-cuma.

Dinkes hingga kini melakukan sebanyak 17 kali fogging pada sejumlah lokasi atas permintaan masyarakat.

“Padahal langkah paling efektif pencegahan DBD, tetap dengan pemberantasan sarang nyamuk. Dan untuk mengusir nyamuk secara tradisional cukup efektif bisa menggunakan bunga lavender atau tanaman serai,” imbuhnya.

********

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here