Kabupaten Garut Mendesak Segera Miliki Pakar Kebencanaan

0
19 views
Masih Kerap Ratapi Kehancuran Diterjang Amuk Sungai Cimanuk.

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Senin, 17/10 – 2016 ).

Masih Kerap Ratapi Kehancuran Terjangan Amuk Sungai Cimanuk.
Masih Kerap Ratapi Kehancuran Terjangan Amuk Sungai Cimanuk.

Kabupaten Garut, Jawa barat, selama ini selain dikenal sarat memiliki keindahan alam dan daerah penghasil ragam produk pertanian, juga sejak dulu merupakan daerah paling rentan terjadi pelbagai jenis bencana alam. Mulai longsor, banjir, letusan gunungapi, angin puting beliung, kebakaran hutan, hingga tsunami.

Sehingga berdasar data Indeks Rawan Bencana se-Jawa Barat 2011, kabupaten tersebut bertengger pada rangking kesatu sebagai daerah rawan bencana dibandingkan kabupaten/kota lain di Jawa Barat, bahkan se-Indonesia.

 

Pemukiman Penduduk Menjadi Rata Dengan Tanah.
Pemukiman Penduduk Menjadi Rata Dengan Tanah.

Ironisnya pula, hingga beberapa kali terjadi bencana besar menimbulkan banyak korban, seperti bencana longsor Gunung Mandalawangi Kadungora, hingga banjir bandang di Cibalong, Pameungpeuk, Cisompet, dan Pakenjeng, Kabupaten Garut pun masih tak memiliki akhli kebencanaan. Hingga pada bencana terakhir amuk Sungai Cimanuk yang menerjang enam wilayah kecamatan menyebabkan banyak kerusakan, dan korban.

Karena itu, kebutuhan terdapatnya akhli kebencanaan di kabupaten ini. Merupakan hal mutlak dan mendesak, imbuh Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Setiawan di Sekretariat Posko Penanganan Banjir Cimanuk Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah (LPBM) Garut belum lama ini.

Sangat Memilukan.
Sangat Memilukan.

“Garut kan daerah rawan bencana. Hasil evaluasi kita selama ini, kita rekomendasikan agar di Garut ada akhli dan tenaga profesional di bidang penanggulangan bencana. Dari Garut ini ada beberapa orang direkomendasikan mendapatkan sertifikat yang nanti diuji di tingkat nasional. Mereka itulah sebagai asesor professional berlisensi yang nantinya berhak mengeluarkan sesuatu (terkait kebencanaan). Ini tampaknya yang di Garut belum ada,” ungkap Budi, mengingatkan.

Sedangkan MDMC, kata dia, memiliki sejumlah asesor kebencanaan bersertifikat, dan terus mengembangkan pendidikan dan pelatihan terhadap lembaga-lembaga penanggulangan di daerah, termasuk LPBM Garut. Terutama menyangkut keorganisasian, dan menajemen pengelolaan kebencanaan.

Porakporanda.
Porakporanda.

“Kepedulian masyarakat Indonesia sangat tinggi. Maka butuh lembaga pemerintah maupun non pemerintah untuk menata dan menyalurkannya. Kalau tak kita tata maka semuanya tak efetif,” tandasnya.

Dia mengingatkan pula semua pihak, agar tak terjebak pada saling menyalahkan melainkan duduk bersama mencari solusi penanganan mendesak sekaligus pencegahan ke depan berkaitan bencana banjir bandang Cimanuk itu.
Ada setidaknya tiga hal mesti menjadi fokus perhatian, yakni kelangsungan kesehatan, dan pendidikan paskabencana. Khususnya ketika mulai memasuki masa rehabilitasi termasuk rehabilitasi sosial, dan rekonstruksi yang dipastikan menelan waktu lama.

Menyisakan Luka Berkepanjangan.
Menyisakan Luka Berkepanjangan.

“Soal kesehatan, Apakah RSU Garut ini sudah bisa difungsikan lagi, dan apakah posisinya aman ? Mari kita diskusikan. Kalau RSU mesti dipindahkan karena lokasinya tak aman, untuk direlokasi juga tak sederhana. Tetapi keberadaannya harus diselamatkan karena bagaimana pun RSU itu tempat tujuan awal penyelamatan penduduk ketika terjadi bencana. Maka Pemerintah Pusat dengan Daerah harus duduk bersama,” tegasnya.

Selain itu, pendampingan secara psikososial juga harus dilakukan terus dan tepat sasaran. Mulai balita, anak-anak, hingga dewasa. Pria maupun wanita.

Nyaris Lebih Dasyat Akibat Serangan Mortir.
Nyaris Lebih Dasyat Akibat Serangan Mortir.

“Banyak Rumah Sakit Muhammadiyah yang siap. Namun kita batasi dulu. Kita kirim tim asismen dari RS PKU Bantul, kita lihat pendampingan kesehatan psikososial mereka terdampak banjir. Termasuk anak-anak yang tak boleh terlalu lama libur. Kita rencanakan pendampingan dilakukan enam bulan ke depan,” ujar Budi.

Dikatakan, selain RSU, dan rumah tinggal penduduk, keberadaan sekolah terkena atau terdampak banjir juga mesti dilakukan pengkajian. Apakah keberadaan sekolah bersangkutan masih di posisi aman dan laik dipertahankan di lokasi semula, ataukah justeru harus direlokasi ke tempat baru dinilai aman.

Lintasi Puing Rumah Tergerus Amuk Sungai Cimanuk.
Lintasi Puing Rumah Tergerus Amuk Sungai Cimanuk.

“Kita minta analisis bagian hidrologi, apakah memang harus segera direlokasi, kaji cepat, juga rehab sosial. Kita rencanakan enam bulan pendampingan, apakah di tempat baru atau lama. Alhamdulillah, untuk bantuan fisik, banyak yang siap on call. Seperti kebutuhan sepatu anak supaya bersekolah tak becek, kita kumpulkan pula peralatan rumah tangga agar nanti mereka yang bisa tinggal di tempat baru tidak repot lagi,” katanya.

Sekadar catatan, kondisi Kabupaten Garut yang rawan berbagai jenis bencana membuatnya bak ‘mini market bencana’.

Jangan Lupakan Perlunya Kebahagiaan.
Jangan Lupakan Perlunya Kebahagiaan.

Kabupaten berwilayah seluas 3.066,88 km2 itu, berpenduduk 3.003.004 (2013) tersebar pada 42 kecamatan dan 442 desa/kelurahan, secara geografis, geologis, hidrologis, dan klimatologi rawan terjadi tanah longsor, gempa bumi, letusan gunungapi, puting beliung, banjir, tsunami, kekeringan, hingga bencana antariksa.

 

*********

 

(nz, jdh).