Kabupaten Garut Mendesak Miliki Gedung Museum Refresentatif

Oleh ; John Doddy Hidayat

– Perintis Pembukaan “Lembaga Kantor Berita Nasional” (LKBN) ANTARA di Manoikwari, Papua Barat.

Garut News ( Sabtu, 23/08 – 2014 ).

Kondisi Sarana Museum di Garut, Sangat Menyedihkan.
Kondisi Sarana Museum di Garut, Sangat Menyedihkan.

Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berusia lebih dua abad kian mendesak segera memiliki gedung museum yang refresentatif.

Lantaran, peninggalan produk budaya bernilai adilihung di Kabupaten ini, sangat beragam dan banyak jumlahnya.

Namun selama ini pula, masih banyak tersimpan pada rumah-rumah penduduk yang diwariskan secara turun-temurun.

Inilah Museum Garut, Miris dan Memilukan.
Inilah Museum Garut, Miris dan Memilukan.

Dipastikan rawan menjadi barang langka, atawa raib entah kemana, sebab proses pengamanan dan pemeliharaannya, tak selamanya bisa terjamin lestari.

Padahal benda-benda bersejarah tersebut, amat sangat berharga bagi generasi masa kini, terlebih bagi generasi mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, Drs Mlenik Maumeriadi didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar, Yudi W, M.Si mengakui fenomena tersebut.

Gedung Ini Pernah Dijadikan "Sarana Promosi Pariwisata Garut", Dinilai Ideal Dijadikan Museum.
Gedung Ini Pernah Dijadikan “Sarana Promosi Pariwisata Garut”, Dinilai Ideal Dijadikan Museum.

Dalam pada itu, Esais Bandung Mawardi, pada tulisannya di Tempo.co antara lain mengemukakan
Museum mengemban misi pengawetan sejarah dan memori ketokohan.

Ratusan tahun silam, Belanda mendirikan dan mengenalkan museum ke mata pribumi.

Pendirian Bataviaasch Genootschap (1778) menjadi pembuktian awal kebermaknaan museum bagi ilmu, kolonialisme, dan identitas “Barat”.

Museum berisi koleksi arkeologis, mata uang, dan naskah.

Mlenik Maumeriadi Menunjukkan Benda-Benda Bersejarah.
Mlenik Maumeriadi Menunjukkan Benda-Benda Bersejarah.

Kesejarahan Bataviaasch Genootschap melaju di perlintasan waktu, berubah nama menjadi Museum Nasional (Lombard, 1996).

Kita mewarisi gagasan dan materialisasi museum.

Di Solo, 28 Oktober 1890, berdirilah museum bernama Radya Pustaka, menghimpun koleksi naskah dan buku.

Museum menjadi rumah literasi.

Koleksi beragam tema mengajak kaum intelektual, pujangga, pejabat, dan publik belajar tentang sastra, etika, agama, seni, politik, makanan, serta pakaian.

Museum di Indonesia memiliki sejarah ratusan tahun.

Kesadaran mengartikan museum berlatar nasionalisme diwujudkan dalam Musjawarah Museum di Yogyakarta, 11-14 Oktober 1962.

Prijono menerangkan: “… maka di tanah air kita adanja atau akan didirikan museum-museum nasional dalam berbagai-bagai lapangan, istimewa dalam lapangan arkeologi dan perdjoangan/pembangunan nasional kita akan membuka mata rakjat kita akan kemampuan-kemampuan bangsa kita di zaman dulu, dan kesanggupan-kesanggupam bangsa kita di zaman sekarang dan di zaman akan datang.”

Keterangan itu bergelimang optimisme.

Kita perlahan membuka ingatan kebermaknaan museum pada masa Orde Lama segera berganti imajinasi politik-militeristik oleh rezim Soeharto.

Museum digunakan sebagai referensi imajinasi sejarah bagi publik sesuai dengan petunjuk dan obsesi penguasa.

Asrul Sani dalam cerpen berjudul Museum (1956) menganggap: “Museum adalah suatu balai jang gandjil. Ia berisi benda-benda jang djika dilihat dari katja mata kita, orang jang hidup ini, benda-benda itu seolah-olah ada karena suatu salah sangka.”

Taufiq Ismail dalam puisi berjudul Buku Tamu Museum Perjuangan (1964) memberi deskripsi ironis: “museum jang lengang”, “dalam museum ini jang lengang”, “ruangan jang sepi”.

*******

Foto : John Doddy Hidayat.

Related posts

Leave a Comment