Ka’bah, Negeri yang Aman

0
9 views
Foto Makkah 1850. (muslimheritage.com).

Ahad , 30 April 2017, 16:15 WIB

Foto Makkah 1850. (muslimheritage.com).
Foto Makkah 1850. (muslimheritage.com).

IHRAM.CO.ID, Fungsi pertama Ka’bah, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Baqarah 125, yaitu matsabah, yang berarti ‘tempat pengakuan dosa’. Lalu fungsi kedua adalah amn (aman). Dalam tulisan ini, hanya akan dibahas tentang fungsi yang kedua. Amn, sebagaimana dikemukakan para ulama tafsir, mengandung dua arti: keamanan dan kedamaian (sakinah).

Mengenai keamanan, itu bermula dari doa Nabi Ibrahim, “Tuhanku! Jadikanlah negeri ini aman dan beri penduduknya rezeki buah-buahan…” (Q. S. 4: 35). Doa itu dikabulkan Allah sebagaimana diperoleh data-datanya dalam Alquran.

Di dalam surah Al-Qasas 57 diceritakan, bagaimana orang-orang menyatakan bahwa bila mereka beriman mereka akan diculik dan dibunuh. Allah lalu membantahnya dengan penegasan bahwa Tanah Suci itu aman semenjak adanya. Dalam sejarah diketahui bahwa seluruh suku Arab sangat menghormati Tempat Suci (Ka’bah) itu, sehingga mereka tidak mau menumpahkan darah di sana. Alquran juga menginformasikannya, “Siapa yang memasukinya aman.” (Q. S. 3: 97).

Tidak hanya tempat itu yang dijadikan aman, tapi juga suku Quraisy yang menjaga Kabah itu. Karena, suku-suku Arab menghormati mereka sebagai penjaganya (Al-Quraisy 106). Bantahan Allah di atas sekaligus berisi pengakuan bahwa sekeliling Tanah Suci tidak aman.

Ayat lain memang menyatakannya demikian, bahwa amannya Tanah Suci dan berbunuh-bunuhannya manusia di sekelilingnya, itu hendaknya menjadi bukti bagi manusia untuk beriman (S. Q. 29: 67). Dalam sejarah diketahui bahwa tidak amannya kawasan-kawasan sekelilingnya itu adalah karena mentalitas jahiliyah mereka, yaitu bahwa yang berlaku adalah “hukum padang pasir”, yang kuat memakan yang lemah.

Segi kedua keamanan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah kedamaian. Berbeda dengan segi pertama yang menekankan aspek fisiknya, segi kedua ini berkaitan dengan aspek mental, yaitu keamanan di akhirat. Hal itu karena beribadah di depan Ka’bah menimbulkan perasaan dekat dengan Allah, dan segala ibadah yang dikerjakan dan seluruh ritual haji pada umumnya kiranya didengar dan diperhatikan langsung oleh Allah.

Perhatikanlah, misalnya, hadis-hadis tentang dikabulkannya doa di Multazam, Arafah, Mina, dan diimbalinya pahala seratus ribu kali lebih besar dari ibadah yang dikerjakan di masjid-masjid lain. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa segala perbuatan dan doa kita memang langsung terbukti di saat itu juga.

Dengan demikian, hasil ibadah haji akan menentukan sejarah hidup manusia selanjutnya. Demikianlah, semakin banyak manusia pergi haji semakin aman dunia dan semakin maju masyarakat. Meski begitu, jamaah haji tidak boleh lengah, karena tempat yang betul-betul dijamin Allah keamanannya hanyalah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Di luar itu, kehidupan mengikuti hukum sosialnya. Kehidupan jahiliyah itu akan selalu ada dan di manapun, tidak hanya di Arab. Maka apabila ada di antara jamaah kita yang mendapat sesuatu yang tidak layak, maka itu adalah karena sisa-sisa mentalitas jahiliyah yang belum habis itu.

Redaktur : Agus Yulianto
Sumber : Dilansir dari Pusat Data Republika

*********

Republika.co.id