Jurnalisme Firasat

0
24 views

Ignatius Haryanto, peneliti senior LSPP, Jakarta  

Garut News ( Senin, 06/07 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Media di Indonesia yang meliput sejumlah peristiwa bencana masih menunjukkan kegagapan dalam menjalankan tugasnya. Peristiwa bencana tragis yang menimbulkan kesedihan bagi pihak keluarga, serta menimbulkan trauma bagi pihak lainnya.

Meski begitu, media pun membuat liputan yang tidak menunjukkan kecerdasannya.

Dalam peristiwa terakhir, ketika terjadi kecelakaan pesawat Hercules yang jatuh di permukiman penduduk di Kota Medan, akhir Juni lalu, sejumlah media online meliput peristiwa ini dengan tidak cerdas.

Setelah mengetahui seberapa besar skala kecelakaan dan tragedi ini, awak media pun berlomba mewawancarai para keluarga korban.

Yang paling menyebalkan adalah ketika media-media itu menanyakan hal yang terkait dengan soal “firasat” kepada para anggota keluarga korban, baik itu istri, suami, anak, maupun orang tua korban.

“Apakah ada firasat sebelum terjadi kecelakaan ini?” begitulah kira-kira template pertanyaan yang diajukan para wartawan kepada anggota keluarga korban.

Ini bukan pertama kalinya pertanyaan soal firasat diajukan wartawan. Pertanyaan semacam ini juga ada pada saat kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501 akhir tahun lalu, dan sejumlah kecelakaan lain.

Apakah pertanyaan soal firasat ini menambah informasi yang berguna bagi pembaca?

Apakah hal ini bukan suatu perpanjangan dari cara pandang klenik dalam melihat peristiwa kecelakaan seperti ini?

Lalu, jika anggota keluarga mengaku tidak memiliki firasat atas kepergian, apa yang hendak disimpulkan dari situ? Sebaliknya, jika anggota keluarga tersebut berbohong soal firasat tersebut, ke mana wartawan akan mengeceknya?

Apakah tidak lebih penting untuk menampilkan sosok korban, apa maksud perjalanan korban, dan hal-hal faktual lain yang bisa diverifikasi?

Dalam hal kecelakaan pesawat Hercules, bukankah lebih berguna jika wartawan bertanya soal berapa harga yang korban bayar untuk bisa naik pesawat Hercules (jika dia penumpang sipil) tersebut?

Hal terakhir ini lebih bermakna karena belakangan menjadi polemik soal masuknya penumpang sipil dalam pesawat Hercules tersebut.

Di satu sisi, wartawan yang meliput peristiwa tragis seperti ini dituntut untuk berempati kepada para korban. Namun, di sisi lain, para wartawan juga dituntut untuk memberikan informasi yang bisa memberi makna dari peristiwa yang telah terjadi.

Dalam kerangka ini, pertanyaan soal firasat itu berkontribusi apa bagi pemahaman pembaca terhadap peristiwa yang terjadi tersebut?

Sayangnya, media terkemuka termasuk yang ikut-ikutan mengusung “jurnalisme firasat” tersebut. Silakan Anda membandingkan bagaimana media luar negeri yang mengangkat liputan soal bencana, dan rasanya tak ada wartawan yang akan menanyakan soal firasat.

Saya membayangkan pertanyaan wartawan soal firasat ini akan datang dari wartawan media mistik atau supranatural. Dan untuk media semacam ini, jawaban dari anggota keluarga menyangkut firasat akan jadi penting.

Sayangnya, atau bagusnya, sebagian besar media kita adalah media arus utama yang pembacanya berharap akan bisa mengandalkan informasi yang hadir dalam media tersebut.

Jika tak lagi bisa memberikan informasi yang penting dan bermakna untuk pembaca, berarti media tersebut sudah gagal menjalankan tugasnya bagi publik.

*******

Kolom/artikel Tempo.co