Jumlah Balita Garut Bergizi Buruk Meningkat

0
261 views

Garut News ( Rabu, 11/03 – 2015 ).

Anak Jalanan di Garut, Juga Kudu Dipedulikan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Anak Jalanan di Garut, Juga Kudu Dipedulikan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Jumlah balita berkondisi sangat kurus atawa bergizi buruk di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sejak setahun terakhir cenderung meningkat, dibandingkan sebelumnya.

Meski dinilai masih di bawah ambang batas toleransi.

Berdasar data Dinkes kabupaten setempat menunjukkan, pada 2014 tercatat jumlah balita bergizi buruk mencapai 216, atau sekitar 0,16% dari total 216.470 balita terdata.

Sedangkan tahun sebelumnya mencapai 139 balita, atawa sekitar 0,06% dari total 212.635 balita terdata.

Data ini diperoleh dari hasil Bulan Penimbangan Balita diadakan sekali setiap tahun. Biasanya pada Agustus.

Memang jika dilihat angka absolutnya, kelihatan ada kenaikan jumlah kasus. Tetapi apabila dilihat persentasenya, sebenarnya masih normal lantaran jumlah sasaran pun bertambah.

Lagipula, angkanya hanya sekitar 0,16% jauh di bawah ambang batas toleransi 0,5%. Sehingga secara umum keadaannya masih normal, ungkap Kepala Dinkes Teni Sewara Rifai melalui Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Iwan Suhendar, Rabu (11/03-2015).

Separah Balita Bergizi Buruk. (Foto: John Doddy Hidayat).
Separah Balita Bergizi Buruk. (Foto: John Doddy Hidayat).

Iwan mengoreksi istilah balita gizi buruk kurang tepat digunakan terkait penanganan kesehatan balita dilakukan pemerintah.

Sebab faktanya, Dinkes tak menangani dan mengintervensi secara khusus balita gizi buruk melainkan balita berkondisi fisiknya sangat kurus, dan kurus, katanya.

Masyarakat awam kata dia terlanjur mengidentikkan balita sangat kurus akibat menderita gizi buruk.

Padahal seorang balita berkondisi sangat kurus itu belum tentu murni kekurangan gizi akibat kurang daya beli, atau kurang pangan.

Kebanyakan balita sangat kurus lantaran menderita penyakit penyerta menyebabkan terjadinya gangguan asupan makanan.

Sehingga berat dengan tinggi badannya tak proporsional.

Balita berkondisi tubuh sangat kurus itulah kemudian diintervensi program pemerintah. Caranya, melalui pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-Pemulihan) agar balita semula sangat kurus atau kurus menjadi normal.

PMT-Pemulihan dilaksanakan selama 90 hari dengan besaran senilai Rp10.000 per hari. Program dikelola dan dilaksanakan Puskesmas dengan memberikan makanan pabrikan dan lokal, pada balita sasaran.

Dulu, kalau balita ditimbang berat badannya menurut umur berada di garis merah seperti tercatat di KMS (Kartu Menuju Sehat) identik dengan gizi buruk. Yang kurus itu identik menderita gizi buruk.

Padahal belum tentu begitu. Sebab tak sedikit balita tetap kurus meski umurnya bertambah karena memang bawaannya, jelas Iwan.

Wajah Anak Jalanan Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Wajah Anak Jalanan Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Meski terdapat kenaikan jumlah kasus balita bergizi buruk, atau sangat kurus, Iwan mengklaim penangananya berhasil dilakukan seratus persen, sesuai Standar Pelayanan Minimal diharapkan, katanya.

Karena itu, Iwan mengingatkan warga memiliki balita agar rajin datang menimbangkan anaknya ke kelompok-kelompok penimbangan balita, seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Agar kondisi perkembangan kesehatan balita terpantau, dan bisa segera dilakukan intervensi jika balita berkondisi sangat kurus, atau bahkan mengalami kegemukan.

Lima tahun itu kan usia kritis bagi pembentukan otak. Perlu asupan nutrisi cukup, imbuhnya.

Dia menyebutkan, hasil penimbangan pada Bulan Penimbangan Balita 2014 itu, selain mencatat 216 balita sangat kurus (0,10%), juga terdapat 5.786 balita kurus (2,67%), 207.911 balita normal (96,05%), dan 2.557 (1,18%) balita gemuk.

Sedangkan pada 2013 terdapat 139 balita sangat kurus (0,06%), 3.661 balita kurus (1,70%), 206.276 (95,8%), dan 2.559 balita gemuk (2,41%).

Dari data ini terlihat jumlah kasus balita kurus, dan balita normal juga meningkat. Hanya kasus balita gemuk mengalami penurunan.

Mencegah terjadinya balita sangat kurus, dan kurus maupun gemuk, kata Iwan, pihaknya juga melakukan upaya perbaikan asupan gizi dengan menggelar Pelatihan Konselor Laktasi bertujuan memaksimalkan pemanfaatan air susu ibu (ASI) sangat menentukan status gizi anak.

Juga Pelatihan Cara Pemberian Makanan Bayi dan Anak kepada bidan-bidan desa, dan kader-kader kesehatan di sejumlah wilayah kecamatan.

Khusus penanganan balita gemuk, kita lakukan pendekatan konseling ibu. Ibu diberi pemahamanan menu makanan, dan memberikan makan balitanya mesti sesuai proporsi kebutuhan.

Sekarang ini dianjurkan bukan makanan pabrikan melainkan makanan olahan keluarga, imbuhnya pula.

*******

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here