Joyoboyo

Garut News ( Ahad, 16/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Ular Albino. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Ular Albino. (Foto : John Doddy Hidayat).

Selalu ada apokalipse, selalu ada ramalan, selalu ada Joyoboyo.

Mungkin gempa dan letusan gunung yang tak putus-putusnya yang merundung hidup kita dan sesekali juga guncangan politik dan ekonomi yang mencemaskan telah membuahkan pola seperti itu dalam pandangan kita tentang sejarah.

Tak lama setelah tsunami, banjir, letusan Gunung Sinabung dan Merapi, orang (terutama di Jawa Tengah) berbisik-bisik kembali menyebut “ramalan Joyoboyo”.

Ini bukan pertama kali ini terdengar.

Dari buku Peter Carey Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), sebuah karya historiografi yang dengan saksama dan penuh simpati menguraikan sosok Diponegoro dan masanya, kita tahu bahwa “ramalan” muncul dan dibicarakan sebagai tanda krisis.

Antara Januari 1817 dan April 1821, Jawa Tengah selatan adalah sebuah dunia yang sakit dan ambruk.

Panen padi nyaris tanpa hasil.

Kemarau panjang yang tak lazim saat itu menimpa.

Hampir empat bulan tak turun hujan, sawah terbengkalai kekurangan air, angin kering bertiup dari arah laut.

Kemudian, Juni 1821, “wabah kolera Asia pertama” melanda.

Di Pacitan, tiap hari ada orang mati, dan diangkut dari perkebunan lada dan kopi.

Tubuh mereka lemah karena pangan tak lagi cukup; hanya akar-akaran dan dedaunan yang bisa dimakan.

Warga desa semua mengungsi.

Wabah itu dijangkitkan para pelaut dari Pulau Pinang dan Melaka.

Mula-mula yang terserang penduduk kompleks kaum pendatang di Terboyo, Semarang.

Pada awal Mei, penyakit menular itu menyebar ke sepanjang pantai utara Jawa.

Di Batavia, hampir 160 orang mati setiap hari.

Hingga akhir 1821, di Surabaya, Madura, dan ujung timur, korban mencapai 110 ribu orang, atau sekitar 7 persen dari seluruh penduduk.

Syahdan, dua tahun sebelumnya ada seorang “guru pertapa” di Blitar, Jawa Timur, yang telah meramalkan bencana itu.

Meskipun nujumnya sedikit meleset dalam soal waktu, malapetaka yang dilukiskannya mirip:

“Dalam tahun Jawa Alip mendatang (Masehi: 21 Oktober 1819-8 Oktober 1820) akan datang wabah besar dari bagian barat. Bala tentara dari roh Taragnyono akan tampak seperti kabut; bentuknya macam-macam, ada yang seperti lipan, kalajengking, ular, dan macan, pokoknya semua yang berbisa. Sampar yang dari timur akan dibawa oleh Nyai Roro Kidul dan bala tentaranya….”

“Setelah wabah itu datang, Jawa akan menjadi lautan darah dengan mayat-mayat yang hanyut mengambang….”

Memang pada 1825 kita tahu sesuatu ternyata terjadi dan ribuan orang akan tewas dalam perang.

Gunung Merapi meletus;
pucuknya seolah terlontar mencapai langit.
Yogyakarta serasa tertutup olehnya.
Langit menjadi api….

Baris-baris dalam Babad Dipanegara itu, yang disebut sebagai otobiografi sang pangeran pemberontak, disusul dengan sebuah deskripsi: Diponegoro bersama istrinya keluar dari pekarangan rumah Tegalrejo.

Ia menyaksikan gunung yang sedang terbakar dan bumi yang terguncang.

Sang pangeran tak kaget.

Ia tersenyum dalam hati: murka Allah telah datang.

Itu saat apokaliptik, pertanda Ratu Adil akan muncul, sebagaimana tercantum dalam “Ramalan Joyoboyo”.

Dalam khazanah sastra dan pemikiran Jawa, ramalan tampaknya satu bentuk wacana harapan-harapan yang hancur, baik yang kita dengar dari sang guru pertapa di Blitar maupun dari sebuah sumber yang disebut sebagai Raja Jayabaya.

Tapi dari puing-puingnya terbit harapan yang radikal: di dunia yang tak adil, ada yang membawa penangkal semua itu, disebut “Ratu Adil”.

Dalam mithologi lain, “tokoh” ini, Mesiah, hadir dalam waktu yang oleh orang Yunani (dan kemudian dipergunakan dalam theologi Kristen) disebut kairos, saat penantian yang intens yang melebur “dulu”, “kini”, dan “nanti”.

Tapi bila sebagian agama yakin Juru Selamat akan datang pada akhir zaman, di tengah paceklik dan kolera di Jawa pada abad ke-19 itu, atau kapan saja kehidupan sosial remuk-redam, justru waktu sendiri yang seakan-akan berakhir.

Maka Ratu Adil, seperti yang dikisahkan dalam riwayat Diponegoro, tak mengenal “kelak”.

Dalam meditasinya di Gua Selarong, sang pangeran merasa ia dipertemukan dengan Ratu Adil sendiri (meskipun ia tak bisa melihat wajahnya) di atas sebuah bukit.

Pada saat itulah tekadnya matang: ia akan melawan zamannya yang buruk.

Dengan itu tampak kesadaran bahwa janji tentang Keadilan hanya bisa dipenuhi dalam waktu kehidupan praktis sehari-waktu yang linear, yang dapat dihitung dalam hari, pekan, bulan, dan tahun. Kairos ditarik ke dalam kronos, waktu yang linear itu.

Dengan kata lain, Keadilan (dengan “K”) hanya bisa jadi keadilan dalam sejarah.

Diponegoro melancarkan perang yang sengit untuk sebuah harapan yang radikal seraya tahu bukan dia sang Ratu Adil yang mengatasi waktu.

Ia hanya sarananya.

Sebuah nujum menyebut, peran itu tak akan lama: sira srananipun/ mapan iku tan dawa…” (engkaulah sarananya/ meskipun hal itu tak akan lama).

“Sekali berarti, sudah itu mati,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya, Diponegoro.

Yang penting bukanlah hidup atau mati, melainkan membuat perjuangan berarti.

Dengan itulah harapan mendapatkan “daya mesianik”: harapan akan Keadilan itu mampu melebur batas waktu.

Goenawan Mohamad

**** Tempo.co

Related posts

Leave a Comment