Jokowi, Mandela, dan Khalifah Harun al-Rasyid

by

Burhan Sholihin
@burhans

Garut News ( Senin, 18/11 ).

Inilah pula wajah kemacetan lalulintas Jakarta. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Inilah pula wajah kemacetan lalulintas Jakarta. (Foto: John Doddy Hidayat).

“Dalam dua bulan ini, Jokowi (Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo) akan mendapat serangan habis-habisan.”

Begitu orang dekat Istana Negara membisiki wartawan.

“Wah!” kata sejumlah wartawan.

Ada nada tak percaya bercampur kekhawatiran dalam jawaban cekak itu.

Meski bisikan itu datang dari politikus level atas, tak semua wartawan menelan bulat-bulat bisikan itu.

Tugas jurnalis memang melakukan check and balance.

Bukan “cek dan (menggembungkan) buku cek” seperti yang dituduhkan akun anonim Jilbab Hitam.

Setelah membalik-balik halaman berbagai koran dalam dua pekan, berselancar di portal-portal online seperti Tempo.co, info itu terasa valid.

Perang terhadap Jokowi memang sudah dimulai.

Serangan pertama datang dari Ketua Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat Nurhayati Ali Assegaf.

Keberhasilan Jakarta sekarang ini, ujar Nurhayati, merupakan jerih payah Gubernur DKI Jakarta terdahulu, Fauzi Bowo, bukan karya Jokowi.

Pembangunan jalan layang Fatmawati dan Casablanca adalah contohnya.

Misil kedua yang menohok Jokowi datang dari Ruhut Sitompul.

Dia menuding Jokowi gagal memperbaiki mental pejabat Jakarta.

Buktinya, meskipun sudah ada lelang jabatan, toh, masih ada yang melakukan korupsi.

Malah politikus lain menuding Jokowi cuma sibuk mengurusi hal-hal remeh seperti topeng monyet.

Serangan terbesar datang dari Ketua Umum Partai Demokrat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Awal November 2013, di depan pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Presiden curhat: dia sering menjadi sasaran keluhan tentang kemacetan Jakarta bila bertemu dengan para pemimpin negara sahabat.

Menurut dia, kemacetan itu urusan Gubernur DKI Jakarta.

Serangan SBY ini menjadi bahan tertawaan publik.

“Presiden, kok bisanya cuma curhat,” kata orang-orang di ranah Twitter.

Yang lain menimpali, “Sudah tahu macet, presiden malah menggelontorkan mobil murah (low-cost green car) ke Jakarta.”

Yang lain juga angkat bicara, “SBY sudi beri diskon pajak untuk mobil murah, tapi tak mau memberi hal yang sama untuk bus-bus Transjakarta. Aneh.”

Serangan-serangan terhadap Jokowi tak membuat popularitasnya jeblok.

Banyak pakar komunikasi percaya bahwa publik terlalu pintar untuk dibohongi para politikus.

Lalu, para politikus pun mengerahkan segala cara untuk mengalahkan Jokowi.

Ada yang mengakali survei dengan tak memasukkan nama Jokowi dalam survei popularitas calon presiden.

Ada juga yang menjual sentimen agama.

Kisruh Lurah Susan di Lenteng Agung, Jakarta, pun ditengarai sebagai bagian dari strategi itu.

Politikus kadang memang kerap kehilangan akal sehat.

Negeri ini butuh orang yang mau bekerja keras dan bukan sekadar pandai “curhat” atau sibuk mendadani wajahnya dengan operasi plastik.

Orang seperti Jokowi atau Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini adalah contoh pemimpin yang mau bekerja.

Risma turun ke gorong-gorong jam 03.00 pagi, membangun Taman Sakura sehingga Surabaya punya taman mirip di Tokyo, dan menghapus lokalisasi pelacuran Dolly tanpa kekerasan.

Adapun Jokowi menunggui lembur pengecatan Pasar Tanah Abang hingga dinihari, membangun monorel yang terkatung-katung pada era Fauzi Bowo, meletakkan fondasi pembangungan MRT (mass rapid transit), sampai membenahi waduk Pluit dan Ria-rio.

Tak aneh jika media asing seperti New York Times dan Der Spiegel pun kagum dengan gaya blusukan Jokowi.

Der Spiegel menyamakan Jokowi dengan Khalifah Harun al-Rasyid, yang kerap malam-malam menyelinap keluar dari istana untuk menolong rakyat.

Majalah asal Jerman ini juga menyebut Jokowi seperti pemimpin oposisi Afrika Selatan, Nelson Mandela, yang selalu menggugah dengan rasa optimisme.

Anda percaya kepada politikus atau pendapat mayoritas publik? (*)

***** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co