Jilbooty dan Jilboobs

0
27 views

Musyafak,
Staf di Balai Litbang Agama Semarang

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Baru-baru ini di linimaya ramai perbincangan menyoal cara berjilbab yang masih menampakkan sembulan-sembulan tubuh yang sensual.

Dalam perbincangan yang penuh cemoohan itu tercetus dua istilah yang setidaknya merepresentasikan fenomena berjilbab yang paradoksal, yaitu jilbooty dan jilboobs.

Istilah yang pertama merupakan akronim dari jilbab dan booty (pantat). Jilbooty menunjuk cara berjilbab yang mengabaikan bagian bawah tubuh, sehingga lekukan bokong atau bahkan sebagian bokong jelas terpapar.

Adapun istilah yang kedua adalah akronim dari jilbab dan boobs (dada). Jilboobs juga menjadi istilah cemoohan bagi mereka yang berjilbab mini dan berbaju ketat sehinga sembulan dadanya tampak jelas.

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Baik jilbooty maupun jilboobs memaparkan paradoks perempuan muslim dalam mengurus syariat dan fashion.

Dalam satu waktu, seseorang memutuskan untuk menutup kepalanya dengan jilbab, namun sebagian tubuhnya yang sensual justru ditonjolkan.

Fenomena itu mengisyaratkan bahwa seseorang tidak mau mati gaya, dalam arti kehilangan kesan seksi, ketika mengenakan jilbab.

Secara ideologis, ada nalar keagamaan yang tersembunyi di balik jilbab. Ada alasan-alasan syariah yang melatarbelakangi orang berjilbab, semisal perintah agama untuk menutup aurat di sebagian kepala-meski batasan-batasannya juga masih longgar untuk didebatkan.

Namun, dalam konteks sosiologis, tidak semua perempuan muslim yang berjilbab serta-merta menuruti ajaran agama.

Sebagian mereka tak ubahnya “korban” dari proyek politik identitas kaum muslim di Indonesia yang hendak mengukuhkan identitas kemusliman di ruang publik dengan simbol-simbol agama seperti jilbab.

Di tengah gelombang proyek identitas itu para perempuan “dipaksa” melakukan konformitas (penyesuaian) sosial dengan sesama muslim perempuan yang sudah dominan berjilbab.

Secara historis, bentuk jilbab yang sekarang digunakan oleh perempuan-perempuan muslim di Indonesia baru muncul pada 1990-an ketika proyek identitas kaum muslim Indonesia sedang digulirkan.

Sebelumnya, tradisi menutup kepala dilakukan dengan sejenis kerudung (Jawa) atau a’bongong (Makassar) yang tidak menutup semua bagian rambut atau kepala.

Kini, jilbab telah mengalami komodifikasi sedemikian rupa oleh industri fashion. Jilbab tidak semata-mata diletakkan sebagai titah agama, tapi juga kebutuhan mode yang fleksibel dan dinamis yang bisa diperbarui sewaktu-waktu.

Komodifikasi ini ditautkan dengan industri hiburan yang mudah diakses masyarakat muslim melalui media massa.

Akhirnya, para artis yang kini malah menjadi “panutan” dalam berjilbab.

Ketika Syahrini mengenakan jilbab model baru, misalnya, segera akan booming “jilbab Syahrini”. Anganan berjilbab yang modis itu juga tampak dari munculnya komunitas-komunitas jilbabers yang mengajari para perempuan untuk berjilbab semisal dengan gaya lipat-lilit yang bermacam-macam.

Dari kalangan inilah kemudian muncul buku-buku panduan berjilbab.

Fenomena jilbooty dan jilboobs tak sesederhana urusan syariah ataupun gaya hidup.

Di baliknya tersembunyi ketegangan, atau sebaliknya, pembauran yang manis antara tafsir keagamaan, kapitalisme, dan proyek identitas keislaman. *

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co