You are here
Jilbab itu ARTIKEL 

Jilbab itu

Ignatius Haryanto (peneliti media)

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 15/11 ).

Ilusdtrasi, Lesatan Informasi. (Foto : John).
Ilusdtrasi, Lesatan Informasi. (Foto : John).

Apakah tulisan ini akan membicarakan soal agama atau pakaian bernuansa agamis?

Tidak.

Tulisan ini mau membicarakan soal nama akun di blog Kompasiana yang menghebohkan dalam beberapa hari belakangan.

Nama akunnya Jilbab Hitam.

Apa yang ditulispun jauh dari urusan agama. Tapi apa yang dituduhkan justru sangat serius.

Tulisan ini menuding wartawan dari beberapa media besar ikut dalam permainan mengatur pemberitaan, dan khususnya menekan suatu institusi perbankan terkait dengan terkuaknya skandal SKK Migas belum lama ini.

Tulisan “kawan” ini seolah cukup meyakinkan.

Ia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang “wanita, berjilbab dan menjadi wartawan di majalah Tempo sejak tahun 2006”.

Tak lama ia bergabung di majalah itu karena menurutnya ia muak melihat kelakuan teman-teman sekantornya yang mempermainkan berita untuk kepentingan duit semata.

Untuk tambah meyakinkan, “kawan” ini menyebut nama sejumlah wartawan berikut nama media dan pos liputannya sekarang, dan diberi label “sebagai pengatur lalu lintas keuangan yang diserahkan institusi dimana ia meliput sehari-hari dengan para wartawan yang meliputnya”.

Sekarang tulisan tersebut sudah dicabut dari laman Kompasiana, menurut pengakuan pengelolanya – saya pun langsung skeptis. “Wah luar biasa tudingan dari ‘kawan’ ini melebar kemana-mana. Banyak pihak disorot. Mungkin itu bagian dari penyamaran identitas penulis sesungguhnya.”

Saya tak ingin melacak mana yang benar dan tidak benar dari tulisan “kawan” ini, tetapi lebih baik kita sodorkan suatu cara berpikir begini: dalam masa sekarang, informasi yang tadinya ingin menjadikan pegangan untuk manusia melihat kondisi di sekitarnya, sudah jatuh dalam fungsi yang paling menjijikkan: informasi dipergunakan sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain, informasi dikomodifikasi dengan cara yang sangat jelek: menutup atau mengangkat kasus tertentu.

Apa dampaknya?

Publik dibuat bingung, kawan diadu domba, dan diri sendiri jadi kaya.

Tak perlu heran jika “informasi “sejenis ini makin lama akan makin banyak.

Terkadang pekerjaan seperti ini berlindung di balik judul yang terdengar keren: “social media specialist” atau “media consultant”.

Tapi apa yang dilakukan ini tak lebih dari suatu produksi kebohongan.

Saya pun makin tepekur membaca buku Ryan Holliday, Trust Me I’ m Lying: Confession of a Media Manipulator (2012).

Teganya ada orang yang memelintir informasi demi kepentingan sesa(a)t ini.

**** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment