Jauhkan Anak dari Kekerasan

0
127 views

Garut News ( Selasa, 14/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Inilah Kondisi Anak Jalanan di Garut, Jawa Barat. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Inilah Kondisi Anak Jalanan di Garut, Jawa Barat. (Foto : John Doddy Hidayat).

Hanya orang berhati batu yang tak terkejut melihat adegan di video itu. Seorang bocah perempuan, masih dengan seragam sekolah dasarnya, berdiri tak berdaya di sudut ruangan.

Lalu, satu demi satu, teman laki-laki sekelasnya bergantian menyiksa.

Ada yang memukul, ada yang menendang dengan lompatan ala kungfu. Si korban hanya bisa menangis.

Siksaan itu berlangsung terus-menerus dalam rekaman video sepanjang hampir dua menit.

Apa yang terjadi pada anak-anak kita? Adegan tersebut adalah kisah nyata. Anak-anak sebuah SD di Bukittinggi, Sumatera Barat, itu seolah dengan bangga memamerkan penyiksaan yang mereka lakukan.

Tragisnya, kejadian itu dilihat sang guru. Guru, yang seharusnya mencegah, justru membiarkan kejadian itu berlangsung.

Kabarnya, penyiksaan dipicu oleh ejekan korban ke temannya. Karena solider, teman-teman yang lain beramai-ramai ikut mengeroyok.

Kejadian itu menghebohkan karena rekaman penyiksaan beredar luas di media sosial.

Peristiwa itu bukanlah yang pertama. Kekerasan di kalangan anak-anak sudah sering terjadi. Bukan hanya anak SMA atau SMP yang saling tawur dan merisak, tetapi juga sudah merambah ke siswa SD.

Kita masih ingat, pada April lalu, bocah kelas IV SDN 09 Makasar, Jakarta Timur, tewas digebuki kakak kelasnya hanya gara-gara es pisang.

Setahun sebelumnya, anak kelas I SD di Bekasi tewas dikeroyok teman-temannya gara-gara uang Rp1.000.

Sederet kejadian itu hanyalah puncak gunung es. Budaya kekerasan di masyarakat kita sudah merebak di semua umur.

Fenomena mencemaskan ini tak cukup hanya diatasi dengan mempidanakan guru yang lalai, atau memecat kepala sekolah.

Menghukum guru dan sekolah bukan jaminan kekerasan serupa tak terulang di tempat lain.

Kekerasan anak-anak terjadi karena banyak sebab. Salah satunya, lingkungan yang kian toleran terhadap kekerasan.

Lihatlah acara-acara di stasiun televisi. Riset Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia menemukan, acara untuk anak-anak hanya 2,7-4,5 persen dari seluruh program stasiun televisi.

Itu pun diwarnai kekerasan, misalnya dari film kartun. Acara selebihnya adalah sinetron, film, bahkan berita kriminal.

Maka, bagi anak-anak, kekerasan adalah “dunia normal”.

Di sekolah pun, energi agresif tak mendapat penyaluran. Jam olahraga kian berkurang, beban kurikulum kian menumpuk, lalu guru yang “mengajar” bukannya mendidik.

Semuanya menyumbang tumbuhnya kekerasan. Makin sempurna ketika, di rumah, orang tua mengajarkan kekerasan dengan menghukum anak secara fisik atau kata-kata merendahkan.

Semua itulah yang harus diperbaiki. Sekolah dan guru hanya menyumbang sepertiga dari pembentukan kepribadian anak.

Selebihnya adalah tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Orang tua harus mengubah pola asuhnya dan mengawasi tayangan anak-anak di stasiun televisi.

Masyarakat pun harus lebih aktif bersikap kritis terhadap berbagai tontonan berbau kekerasan. Kekerasan tak bisa dihentikan total.

Tetapi, dengan kampanye melibatkan semua masyarakat, budaya toleran terhadap kekerasan bisa dikurangi.

******

Opini/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here