Jaringan Air Bersih Peninggalan Belanda Dibiarkan Memprihatinkan

0
129 views
Berkondisi Masih Dibiarkan Memprihatinkan.

“Kampoeng ‘My Darling’ Bakal dikunjungi Menteri BUMN Rini Soemarno”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 17/03 – 2017 ).

Berkondisi Masih Dibiarkan Memprihatinkan.
Berkondisi Masih Dibiarkan Memprihatinkan.

Jaringan sarana air bersih peninggalan era kolonialisme Belanda sejak sekitar ratusan tahun lalu di kawasan perkebunan “teh” Dayeuh Manggung Cilawu Garut, Jawa Barat, hingga kini masih dibiarkan berkondisi memprihatinkan.

Padahal, saluran permanen sekurangnya sepanjang tujuh kilometer bersumberkan air pegunungan yang bersih dan hingga kini masih tetap bening tersebut, selama ratusan tahun terakhir pula sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat perkebunan juga penduduk sekitarnya.

Bisa Menjadi Situs Bernilai Sejarah.
Bisa Menjadi Situs Bernilai Sejarah.

Kendati lintasan sumber kehidupan itu, hingga kini masih mengalirkan banyak manfaat.

Namun situs bisa bernilai sejarah ini kian nyaris menyerupai “kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau”.

Lantaran kuat mengindikasikan sejak kolonialisme Belanda hengkang dari Bumi Nusantara.

Hingga sekarang 72 tahun NKRI diproklamasikan merdeka, ternyata produk kaum penjajah tersebut bukannya bertambah berkualitas, melainkan semakin berkondisi parah.

Hingga Kini Masih Mengalirkan Sumber Kehidupan Umat Manusia.
Hingga Kini Masih Mengalirkan Sumber Kehidupan Umat Manusia.

Meski siapapun dipastikan bakal mengetahui, air merupakan salah satu sumber kehidupan.

Bahkan air pun tak bisa diciptakan oleh umat manusia.

“Menelisik kondisi sarananya, barangkali bisa diibaratkan sapi perah, yang senantiasa di tuai air susunya, namun tak diberi pakan bergizi”.

Diperoleh pula informasi, perkebunan Dayeuh Manggung terbaring bisu pada areal seluas sekitar 1.500 hektare, yang sejak 2014 silam dibudidayakan tanaman  jeruk seluas 15,85 hektare pada kawasan Afdeling Tengah.

Meski Dahulu Kolonialisme, Tetapi Belanda Bisa Wujudkan Pembangunan Monumenal.
Meski Dahulu Kolonialisme, Tetapi Belanda Bisa Wujudkan Pembangunan Monumenal.

Masing-masing di Blok Talang seluas 7,17 hektare, serta di Blok Btr Meong 8,68 hektare.

Terdiri jenis Keprok Garut 3.365 pohon, Keprok Batu 55 (1.950 pohon), Keprok Madura 1.500 pohon, serta Keprok Trigas 1.800 pohon.

Selain itu juga dibudidayakan tanaman lengkeng, alfukat, serta kopi, sehingga areal perkebunan teh nya kini hanya menyisakan sekitar 130 an hektare.

Antara lain digarap 50 an pemetik teh, dengan produktivitas berkisar lima hingga 15 ton per hari. menyusul nampak pula areal bekas perkebunan teh nya yang kini berkondisi gamblung.

Masih Mengalirkan Denyut Nadi Kehidupan.
Masih Mengalirkan Denyut Nadi Kehidupan.

PT PN VIII Dayeuh Manggung, juga kini menggalakan potensi eko wisata di antaranya mewujudkan keasrian Kampoeng “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan).

Serta antara lain kemasan Kampoeng “Amsterdam” yang merupakan perumahan pegawai (dahulu dikenal dengan sebutan kuli kontrak) perkebunan peninggalan Belanda.

Ragam pembenahan kawasan berpotensi menjadi destinasi wisata sekarang gencar dilakukan itu, tertumpu harapan semakin ditingkatkannya kualitas ragam sarana-prasarana bernilai sejarah, seperti lintasan saluran air bersihnya.

Wahana Distribusi Air Juga Peninggalan Kolonialisme Belanda.
Wahana Distribusi Air Juga Peninggalan Kolonialisme Belanda.
Kampoeng "Amsterdam".
Kampoeng “Amsterdam”.
Kawasan Kampoeng "My Darling".
Kawasan Kampoeng “My Darling”.
Taman Bunga "Cinta".
Taman Bunga “Cinta”.

Bahkan diharapkan bisa bertambah pula sarana penunjang lainnya.

Diperoleh pula informasi, pada Kamis mendatang (23/03-2017), Kampoeng “My Darling” ini diagendakan bakal dikunjungi Menteri “Badan Usaha Milik Negara” (BUMN), Rini Mariani Soemarno akrab disapa Rini Soemarno.

 

*********