Janji Manis Gratiskan Pendidikan Menuai Keresahan Masyarakat

“Budi : Jangankan mengingat kebutuhan Lebaran, Mendaftarkan anak sekolah saja pusing. Omongan Bupati Garut baru sekolah di Garut mulai SD hingga SMA gratis ternyata hanya omong kosong. Kami sendiri merasakan selaku orang tua”

Garut News ( Senin, 07/07 – 2014 ).

Inilah Pasangan Rudy - Helmi Ketika Mengumbar janji Manis, Pendidikan Gratis. (Foto : Dokumen John Doddy Hidayat).
Inilah Pasangan Rudy – Helmi Ketika Antara lain Mengumbar Janji Manis, Pendidikan Gratis. (Foto : Dokumen John Doddy Hidayat).

Masyarakat terutama kalangan orang tua di Kabupaten Garut, hendak menyekolahkan anak pada tahun ajaran baru 2014-2015 didera kebingungan, bahkan menjadi resah.

Lantaran janji manis pemerintah menggratiskan biaya sekolah tak terwujud.

Meski dinyatakan gratis, sekolah-sekolah negeri tetap saja merebak-marak memungut biaya pendidikan pada para calon orang tua siswa saat “Pendaftaran Peserta Didik Baru” (PPDB) dengan beragam dalih.

Memang Lidah Itu Tak Bertulang.... Bro. (Foto Dokumen : John Doddy Hidayat).
Memang Lidah Itu Tak Bertulang…. Bro. (Foto Dokumen : John Doddy Hidayat).

Besar biaya dipungut dari orang tua siswa juga bervariasi, namun tetap dirasakan sangat mencekik leher, mulai ratusan hingga jutaan rupiah.

“Sangat beragam alasan. Peningkatan mutu pendidiklah, atau ini itulah. Gratis kok mahal? Saya sendiri kudu mengeluarkan sedikitnya Rp4 juta mendaftarkan anak di SMK. Kalau di sekolah favorit, biayanya lebih mahal lagi, bisa dua kali lipat,” keluh Ana S(45), orang tua siswa di Kecamatan Garut Kota, Senin (70/07-2014).

Kekesalan senada dikemukakan Budi Cahyadi(49), Penduduk Pameungpeuk.

Menebar Janji Bisa Menuai Keresahan. (Foto: Dokumentasi : John Doddy Hidayat).
Menebar Janji Manis Bisa Menuai Keresahan. (Foto: Dokumentasi : John Doddy Hidayat).

Dia mengaku sangat bingung bahkan diresahkan, sebab mendadak sontak kudu  mencari uang sedikitnya Rp3 juta mendaftarkan anak di sebuah SMAN di kawasan Garut Kota.

Belum lagi, kebutuhan membeli pelbagai keperluan lain bagi anak akan bersekolah itu.

Padahal penghasila selaku petani kecil, malahan tak menentu.

“Jangankan mengingat kebutuhan Lebaran, Mendaftarkan anak sekolah saja pusing. Omongan Bupati Garut baru sekolah di Garut mulai SD hingga SMA gratis ternyata hanya omong kosong. Kami sendiri merasakan selaku orang tua,” kata Budi, dengan nada kesal dan ketus.

Orang tua seorang calon siswa pada sebuah SMKN di Garut asal Karangpawitan enggan disebutkan namanya, bahkan mengaku sangat heran dengan pelaksanaan PPDB di Garut.

Dia mengaku pihak sekolah semula hanya mengharuskan para orang tua siswanya diterima di sekolah bersangkutan agar membawa uang keperluan biaya “Masa Orientasi Siswa” (MOS), seragam, dan iuran bulanan bertotal kurang Rp1 juta.

Namun ketika tiba di sekolah, para orang tua diharuskan menyediakan uang lebih dari Rp6 juta, atawa minimal Rp3 juta.

Jika tak sanggup maka orang tua dipersilakan mendaftarkan anaknya ke sekolah lain.

“Saya juga enggak tahu uang sebesar itu untuk apa saja, sebab enggak diberi rinciannya. Tetapi saya dengar-dengar katanya sebagai dana peningkatan mutu pendidikan. Enggak tahu juga, apa maksudnya,” katanya kesal.

Diperoleh informasi, beberapa sekolah terutama berstatus sekolah negeri di Kabupaten Garut memungut biaya sangat mahal pada orang tua calon siswa pada PPDB.

Sejumlah SMPN di kawasan perkotaan memungut biaya pada PPDB hingga sekitar Rp800 ribu per siswa.

Bahkan bisa mencapai Rp2,5 juta jika melalui jalur khusus.

Biaya PPDB di sejumlah SMAN/SMKN lebih gila lagi, rata-rata di atas Rp3 juta, bahkan ada yang mencapai Rp8 juta per siswa.

“Dinas Pendidikan” (Disdik) Kabupaten Garut pun terkesan berpangku tangan, dan menutup mata atas persoalan memberatkan para orang tua siswa tersebut.

“Di PPDB jelas menginformasikan tentang aturan. Tak ada istilah uang bangunan,” kilah Kepala Bidang Pendidikan Menengah pada Disdik Garut Mahdar Suhendar melalui pesan singkatnya saat dikonfirmasi.

Ketua Serikat Guru Indonesia (SEGI) kabupaten setempat, Imam Tamamu Taufik juga menyatakan jengah dengan kondisi banyaknya orang tua menjerit, kesusahan menyekolahkan anak.

Padahal enam bulan dipimpin Rudy Gunawan dan Helmi Budiman selaku Bupati dan Wakil Bupati Garut baru, menjanjikan program sekolah gratis di Garut.

“Enam bulan Bupati dan Wakil Bupati Garut ortu masih menjerit biaya sekolah. Diberi bekal beres-beresin schooling system katanya sudah paham, tetapi buktinya mana?” ungkap Imam.

*******

Noel, Jdh.

Related posts