Jangan Kaitkan LGBT dengan Gempa Bumi!

0
50 views
Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2). (Antara/Andreas Fitri Atmoko).

Ahad , 24 December 2017, 00:31 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Ilfan Zulfani *)

Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2). (Antara/Andreas Fitri Atmoko).

Pada hari Jumat (15/12/2017) kemarin, sekitar jam 12 malam, pulau Jawa dikagetkan dengan gempa bumi yang terjadi di beberapa titik. Gempa bumi tersebut tidak terlalu berkekuatan besar dan hanya menimbulkan sedikit korban nyawa yang masih bisa dihitung dengan jari.

Tetapi, itu sudah lebih cukup untuk membuat kaget masyarakat di beberapa daerah yang merasakan getaran gempa tersebut. Apalagi BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini terjadinya tsunami. Media sosial pun sejak malam itu ramai dipenuhi dengan celotehan, berita, sampai meme mengenai gempa bumi.

Namun, yang paling menarik yang warganet bahas di media sosial bukanlah isu gempa bumi tersebut sebagai satu fenomena alam. Tetapi, kejadian gempa bumi tersebut oleh beberapa orang dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak LGBT masuk ranah pidana baru.

Mereka mengatakan, bahwa gempa bumi ini adalah bentuk azab atau peringatan dari Allah karena MK memberikan angin segar kepada orang-orang LGBT. Sebagaimana diketahui, LGBT adalah salah satu penyimpangan dalam ranah agama, bukan hanya agama Islam, tapi semua agama tidak ada yang memperbolehkan LGBT.

Tentu saja, tulisan ini bukan untuk melihat persoalan tersebut dari sisi hukum tata negara. Tulisan ini berangkat dari pernyataan: apakah tindakan menyangkutpautkan LGBT dengan gempa bumi itu salah?

Saat satu kelompok menyakini bahwa adanya keterkaitan LGBT dengan gempa bumi, satu kelompok lain berposisi pada argumen yang berlawanan yakni bahwa pertalian itu merupakan hal yang bodoh, tidak ilmiah, cocoklogi, dan sebagainya.

Mereka menganggap bahwa gempa bumi merupakan satu fenomena alam yang kita tak perlu menafsirkannya selain tafsir secara ilmiah. Misalnya, bahwa gempa bumi terjadi karena adanya pergeseran lempeng tektonik atau gunung meletus. Kita hanya boleh menafsirkannya seperti itu.

Pernyataan satu kelompok lain ini, menurut saya, sangat berbahaya. Pernyataan ini sangat bertentangan dengan agama yang bersifat sakral. Apalagi kebanyakan yang mereka serang adalah kelompok yang membawa nilai-nilai Islam. Seolah-olah mereka yang membawa nilai-nilai Islam tersebut mengabaikan aspek-aspek ilmiah terjadinya gempa bumi, seolah-olah mereka tidak mengerti sains, tidak positivis tapi teologis.

Untuk menjawab ini, kiranya perlu dipaparkan secara jelas yang pertama bahwa nilai-nilai Islam tidak pernah bertentangan dengan sains. Akan tetapi, dalam Islam, sains hanya merupakan sebuah alat. Sains tidak bisa menjawab semua pertanyaan dan sains bukan merupakan kitab suci yang sepenuhnya harus kita anut.

Ambil lah contoh mengenai perhitungan awal bulan Ramadhan melalui ilmu hisab atau rukyatul hilal, di sini jelas bahwa Islam tetap memakai sains sebagai alat. Bahkan jika sains tidak ada, akan sulit sekali bagi umat Muslim menjalankan agama.

Lalu, hal yang menarik adalah, apakah sains merupakan satu-satunya jalan untuk menjalankan agama dan kehidupan ini? Jawabannya tidak. Faktanya, ada banyak sekali hal-hal di dalam agama yang kita tak mampu menjelaskannya secara ilmiah. Entah sains belum bisa mencapai hal tersebut atau memang hal tersebut di luar kendali sains.

Ambil lah contoh lagi mengenai kisah nabi Ibrahim yang tidak terluka ketika bersentuhan dengan api, juga kisah nabi Musa yang membelah lautan hanya dengan satu tongkat.

Apakah hal tersebut bisa diterima dengan ilmu pengetahuan yang katanya sudah sangat modern ini? Lantas apakah untuk percaya kejadian-kejadian tersebut, kita perlu menunggu sains untuk membuktikannya? Lantas bagaimana dengan kita-kita ini yang sejak kecil sudah diajarkan bahwa peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh merupakan azab dari Tuhan? Mosok kita bilang itu tidak ilmiah, itu bodoh, itu pikiran yang terbelakang? Bahwa banjir itu cuma merupakan fenomena alam, tidak lebih?

Alangkah ruginya kita umat beragama menuhankan ilmu pengetahuan yang dibuat manusia di atas kitab suci. Ilmu pengetahuan manusia sangat terbatas, ia hanya merupakan alat, tidak lebih.

Bagi orang Islam, sah-sah saja jika menganggap gempa bumi merupakan bagian dari kekuasaan Allah, bukan hanya sebagai fenomena alam, tetapi misalnya juga sebagai sebuah peringatan bahkan azab.

Bukankah memang ada ayat juga yang mengatakan bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak Allah? Bahwa sesungguhnya pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari hal-hal tersebut bagi orang yang berakal? Lantas jika ada yang mengatakan bahwa gempa bumi yang terjadi Jumat minggu lalu merupakan teguran Allah atas keputusan MK mengenai LGBT, apakah itu salah?

*) Staf Forum Studi Islam FISIP UI

********

Republika.co.id