Jangan Diam pada Intoleransi

Garut News ( Senin, 02/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Garuda - Pancasila. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Garuda – Pancasila. (Foto : John Doddy Hidayat).

Intoleransi dan militansi itu ibarat kanker.

Kita tidak bisa membiarkannya lalu berharap kelak akan tumpas dengan sendirinya.

Penyerangan terhadap umat Katolik yang sedang beribadah di Sleman, Yogyakarta, Kamis lalu, bukti kesekian pembiaran-baik aparat keamanan maupun masyarakat-terhadap tindakan intoleran membuat kanker itu menjalar ke mana-mana.

Kekerasan semacam ini terjadi hampir setiap hari, di sini, di negeri konstitusinya menjunjung kebinekaan.

Kamis lalu, sekelompok orang beringas-mengaku dari organisasi Islam-menyerang jemaat Santo Fransiscus Agung Gereja Banteng.

Mereka beribadah di rumah Julius Felicianus, di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Julius dikeroyok hingga kepalanya terluka dan tulang punggungnya retak.

Anggota jemaat lain pun dianiaya.

Ada yang dipukuli dengan kayu dan besi, bahkan ada disetrum.

Seorang wartawan yang meliput juga dipukul.

Ini bukan pertama kalinya keberingasan mengatasnamakan agama terjadi di Yogyakarta.

Masih di bulan Mei, kejadian serupa terjadi di Gunungkidul, Yogyakarta.

Saat itu sekelompok orang menutup sebuah gereja dan menganiaya aktivis lintas agama.

Laporan The Wahid Institute menyebutkan, praktek intoleransi sepanjang 2013 terhadap kelompok agama minoritas-seperti Ahmadiyah, Kristen, dan mereka yang dituduh sesat-ada 245 kasus.

Artinya, hampir setiap hari kelompok minoritas diserang.

Sebenarnya, konstitusi ataupun undang-undang memberi jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Juga ada banyak pasal pidana bisa ditimpakan pada para penyerang.

Namun sangat sedikit kasus begini dibawa ke pengadilan.

Polisi sepertinya tak mau repot menyeret pelaku, mungkin khawatir menimbulkan gelombang penolakan besar.

Kita kudu selalu mendorong aparat hukum menangkap pelaku dan melindungi kelompok lemah, tetapi kita tak dapat hanya menggantungkan harapan pada mereka.

Masalah utamanya ada dalam masyarakat sendiri.

Meski kita meyakini lebih banyak kelompok mayoritas menolak aksi intoleran tersebut, tak banyak mau menyatakannya tegas.

Kelompok-kelompok mayoritas ini lebih banyak diam karena tak mau repot dan khawatir dituding membela kelompok di luar kelompoknya.

Sikap diam itu berakibat buruk.

Kelompok militan bersuara lantang semakin mendapat panggung.

Kita seolah memberi mimbar pada pemuka agama Islam yang intoleran.

Pengaruh mereka pun kian besar.

Dan, seperti kanker, intoleransi itu kian menggerogoti masyarakat, lantaran sebagian besar kita memilih membiarkannya.

Itu sebabnya, tindakan memerangi intoleransi dan membela kebinekaan tak bisa diserahkan hanya pada pemerintah.

Harus ada pembangkitan kesadaran di kalangan masyarakat agar penolakan terhadap kemilitanan dilakukan lebih nyata.

Kelompok mayoritas, selama ini mengatakan hanya sebagian kecil di antara mereka melakukan tindakan intoleran, kudu membuktikan dengan menggalang kampanye penolakan lebih besar.

Jika hanya diam, kita berarti sengaja membiarkan kebinekaan digerogoti.

******

Opini/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment