Jangan Ciptakan Atlet Karbitan!

0
18 views
Atlet Wushu putri Jawa Barat, Monica Pransisca Sugianto bertanding pada PON XIX kategori chang quan di GOR Pajajaran, Bandung, Minggu (18/9/2016). Ia meraih medali emas PON XIX dengan nilai 9,53. (KOMPAS.com/ KRISTIANTO PURNOMO).

Oleh: Tjahjo Sasongko

Garut News ( Senin, 10/10 – 2016 ).

Atlet Wushu putri Jawa Barat, Monica Pransisca Sugianto bertanding pada PON XIX kategori chang quan di GOR Pajajaran, Bandung, Minggu (18/9/2016). Ia meraih medali emas PON XIX dengan nilai 9,53. (KOMPAS.com/ KRISTIANTO PURNOMO).
Atlet Wushu putri Jawa Barat, Monica Pransisca Sugianto bertanding pada PON XIX kategori chang quan di GOR Pajajaran, Bandung, Minggu (18/9/2016). Ia meraih medali emas PON XIX dengan nilai 9,53. (KOMPAS.com/ KRISTIANTO PURNOMO).

– Pekan Olah Raga Nasional (PON) seharusnya jadi ajang buat para atlet muda untuk mengukur kemampuan dengan mengacu para senior mereka, bukan menghindari.

Saat berlangsungnya PON XIX lalu, saya berkesempatan duduk satu meja dengan dua atlet “besar” Indonesia, Umar Syarief dari karate dan Krisna Bayu, mantan pejudo nasional. Keduanya sudah pensiun sebagai atket nasional.

Umar Syarief baru saja menyatakan bahwa ajang PON XIX/Jawa Barat merupakan ajangnya nyang terakhir sebagai karateka di Indonesia. Ia sudah berusia menjelang 40 tahun dan telah menyumbang banyak prestasi buat Indonesia.

Medali Emas di SEA Games 1997, medali emas SEA Games 1999, medali emas PON XV 2000, medali emas SEA Games 2001, medali emas SEA Games 2003, medali emas PON XVI 2004, medali emas SEA Games 2005, medali emas PON XVII 2008, medali emas SEA Games 2009 dan medali perak Asian Games 2010.

Krisna Bay, Adityastha Rai, Umar Syarif. (Tjahjo Sasongko/Kompas.com).
Krisna Bay, Adityastha Rai, Umar Syarif. (Tjahjo Sasongko/Kompas.com).

Sementara Krisna Bayu sudah lebih dulu pensiun sebagai atlet. Ia pernah mewakili Indonesia di tiga Olimpiade (1996, 2000 dan 2004), ikut dalam tiga Asian Games serta 12 SEA Games.

Di ajang PON, Omar Syarief dan Krisna Bayu tentunya belum ada tandingan. Umar Syarief yang membela Jawa Timur di PON XIX lalu, bahkan masih mampu bisa memberi satu medali emas buat kontingennya.

Ada satu hal yang menarik saat Umar Syarief menerima medali emas PON usai mengalahkan karateka DKI, George Caesar di final. Umar yang mulai ikut PON sejak 1996, naik ke podium dengan mengenakan t-shirt bertuliskan,”Sorry, I’m Fresh.”

“Saya tidak bermaksud mengejek lawan-lawan saya. Saya hanya ingin memberi semangat kepada para atlet muda-muda. Saya saja yang senior dari segi usia masih bisa. Masalahnya hanya pada komitmen dan mau kerja keras untuk menjaga komitmen itu,” kata Umar Syarif yang kini bermukim bersama keluarga di St. Gallen, Swiss.

Menurut Umar, ia bia melihat bagaimana komitmen seorang atlet pada displin latihan dengan menghadapinya di matras. “Buat saya karate atau olah raga atau olah tubuh itu way of life. Ini membantu kita dalam bersikap menghadapi masalah, termasuk menghadapi lawan tanding.”

Karena itu ia sering heran dengan para juniornya yang menghadapi ajang-ajang pertandingan besar seperti PON ini dengan persiapan ala kadarnya. “Setiapkali berhubungan dengan adik-adik atlet junior saya, kadang saya heran. Mereka ada yang masih merokok padahal sedang menghadapi pertandingan besar,” katanya.

“Bagaimana kita siap menghadapi lawan yang kita sendiri belum tahu persiapannya?”

Krisna Bayu kemudian menanggapi dengan menceritakan bagaimana reaksi lawan Umar Syarief di PON lalu. “Bagaimana mau menang kalau lihat mata lawan saja tidak berani? Sudah itu bolak balik ke pelatih sebelum bertanding.”

Keduanya kemudian saling bertukar cerita bagaimana para penonton menyukai gaya bertarung mereka. “Saya bisa menyelesaikan pertarungan entah melalui pukulan, atau bantingan yang hitungannya hanya detik. Kalau lawan sudah setengah hati, tentunyan akan lebih mudah,” kata Umar Syarif.

Sementara Krishna Bayu menceritakan pengalamannya pada PON masa lalu. “Waktu itu menterinya (Menpora) pak Andi Mallarangeng. Dia datang ke arena judo dan bilang saya mau lihat gaya bertarungnya Krisna Bayu. Cepat dan tanpa ampun,” katanya. “Tiba-tiba dia ingin ke toilet yang mungkin mengambil waktu tak sampai lima menit. Begitu dia balik, pertarungan saya sudah selesai ha ha.”

Saat bertemu keduanya itu saya membawa atlet renang DKI, Adityastha Rai Wratsangka yang baru saja mendapatkan 1 medali emas dan 1 medali perunggu di cabang renang PON XIX/2016. Ketika ditanya oleh Krisna Bayu, Adityastha menjelaskan satu target medali di nomor 200 meter gaya kupu-kupu gagal diperoleh setelah ia mengaku “tertipu” dengan strategi yang dipakai atlet nasional asal Jawa Barat, Triady Fauzi yang kemudian meraih medali emas. “Saya salah mengikuti pace-nya Kak Aji. Tenaga saya habis,” kata Adityastha.

Jawaban ini spontan ditertawakan oleh Umar Syarief dan Krisna Bayu. “Itu karena kamu masih punya rasa takut sama lawan kamu itu. Coba kamu jalanin apa yang dilakukan Om Umar (Syarief): hidup disiplin, latihan keras dan pantang hindari rasa sakit, capek dan menghindari lawan. Kamu pasti tiba-tiba sadar bahwa kamu punya kekuatan yang di luar dugaan kamu,” kata Bayu.

Krisna Bayu yang kini menjadi anggota panitia pelaksana Asian Games 2018 menyebut jalan yang dilakukan oleh atlet renang asal Singapura, Joseph Schooling. “Dia itu melakukan yang benar. Tahu persis lawannya siapa dan berusaha untuk mencapai level sehingga mendapat kesempatan untuk bertemu dan (akhirnya) mengalahkan dia di Olimpiade.”

Joseph Schooling mengidolakan atlet legendaris AS, Michael Phelps sejak usia belasan. Atlet Singapura ini akhirnya mampu mengalahkan perenang AS, Michael Phelps di nomor 100 meter gaya kupu-kupu di ajang Olimpiade Rio de Janeiro, Juli lalu.

Karena itu, baik Bayu dan Umar Syarief sebenarnya tidak begitu setuju ada pembatasan usia untuk PON. “Pembatasan itu kan sebenarnya ada pada masa lalu dan berkaitan dengan soal status atlet profesional atau amatir. Kalau sekarang kan batasan itu menjadi sangat kabur. Secara logika atlet itu rentang karirnya memang akan dibatasi usia biologis. Jadi aneh kalau seorang atlet yang sudah usia lanjut masih mampu mengalahkan para junior mereka,” kata Umar Syarief.

“Pasti ada yang salah dengan proses perekrutan dan pembinaan yang dilakukan. Itu yang seharusnya dibenahi.”

“Kalau kesempatan bertanding dengan para senior itu dibatasi, sebenanya justru merugikan atket muda itu sendiri,” kata Krisna Bayu. “Saya naik menjadi yang nomor satu di judo Indonesia, bukan berdasar karbitan. Saya masuk Pelatnas sejak kelas 5 SD dan sudah pernah bertemu dan mengalahkan senior-senior saya waktu itu,” lanjut Bayu.

“Dengan ini saya tertempa untuk tidak takut atau kecil hati di event mana pun. Di tingkat Olimpiade sekali pun,” katanya. “Kalau pun harus kalah saya jadi tahu memang lawan saya itu jauh lebih baik daripada saya dan saya sudah mengeluarkan kemampuan saya yang terbaik.”

PON dan Bonus

Kekisruhan yang banyak terjadi pada PON XIX/Jawa Barat lalu, kalau mau jujur sebenarnya bermuara pada adanya siatem target untuk event ini. Prestasi diterjemahkan sebagai jumlah perolehan medali serta peringkat kontingen. Sementara untuk (sebagian) atlet, prestasi perolehan medali identik dengan reward berupa bonus materi yang dijanjikan oleh Pemprov bersangkutan.

Bonus di PON lalu memang mengejutkan. Atlet-atlet Jawa Timur yang mendapatkan medali emas langsung “dikepret” amplop Rp 30 juta. Sementara tuan rumah Jabar menyebut angka Rp 10 juta. Ini di luar bonus yang akan mereka terima usai PON.

Untuk bonus ini setiap daerah memberi dengan jumlahnya bervariasi. Jatim menyebut Rp 250 juta untuk satu medali emas, sementara Papua konon bahkan menyebut kisaran angka dua kali lipat.

Kontingen DKI Jakarta yang menjadi juara umum pada PON XVIII/Riau menyebut formula yang unik. Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menginginkan bonus Rp 1 milyar hanya untuk peraih medali emas. itu pun mekanisme nya diberikan kepada klub atlet yang bersangkutan. Belakangan formula sedikit berubah dengan juga menyertakan bonus buat peraih medali perak dan perunggu serta pemecah rekor baik PON, nasional atau pun di atas itu.

Pemberian bonus buat pemecah rekor dianggap sebagai sesuatu yang selaras dengan jargon PON Prestasi yang pernah didengungkan pada masa lalu. Dari seluruh 44 cabor yang dipertandingkan, PON XIX Jabar “hanya” menghasilkan 89 rekor PON, 33 rekor nasional, satu rekor SEA Games, 22 rekor Asia dan lima rekor dunia.

ntuk menjadi event yang mampu menghasilkan rekor di luar PON dan nasional, memang dibutuhkan prasyarat yang sangat berat dan mahal. Terutama soal pencegahan penggunaan obat terlarang yang hanya bisa dicegah dengan mekanisme pemeriksaan doping. Dan ini membutuhkan biaya yang sangat besar, yaitu sekitar Rp 4.5 juta untuk pemeriksaan setiap sampel urin.

PON lalu menyisakan cerita-cerita lucu mengenai pemeriksaan doping yang dilakukan secara acak/random ini. Di cabang renang, seorang atlet yang tampil spektakuler di acara swim-off untuk masuk dalam tim estafet, justru kedodoran saat rekan-rekan setimnya tampil bagus di final. Ia disebut memang tidak ingin menjadi juara pertama untuk menghindari kemungkinan pemeriksaan doping dan merasa cukup puas dengan janji bonus untuk peraih medali perak.

Sementara di cabor selam, keluhan soal pemeriksaan doping ini juga terlontar. Karena dilakukan secara acak, seorang pemenang medali emas tidak terkena pemeriksaan doping tersebut. Kondisi ini menimbulkan protes dari mereka yang dikalahkan. Anehnya, protes justru dilontarkan atlet pesaing yang samasekali tak punya peluang untuk mendapatkan medali karena mencatat penampilan jauh di bawah form.

Sementara protes yang kemudian merugikan atlet terjadi di cabang renang indah. Seorang atlet nasional ditolak ikut dengan alasan usia sudah melewati batas. Sementara pembatasan usia ini diambil berdasar konsensus peserta cabor dan tidak mengacu pada peraturan berlaku baik secara lokal seperti dari PP PRSI, PB PON mau pun FINA sebagai induk olah raga akuatik.

Di PON, semua keributan memang bermuara pada dua hal: prestise pada tingkat kontingan dan bonus pada tingkat atlet. Sebagian provinsi menganggap ajang ini adalah etalase kemajuan di daerahnya dibandingkan yang lain. Sementara buat atlet, ini kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi sebagai kompensasi dari waktu, tenaga yang telah mereka buang.

Umar Syarief menganggap pelaksanaan PON XIX/2016 ini merupakan pengalaman terburuk sejak ia mulai ikut pada PON 1996.

“Kerancuan sudah hampir menyeluruh, baik pada tingkat ofisial, perangkat pertandingan maupun pada (sebagian) atlet. Orientasinya memang berbeda. Tetapi kita harus coba dan berani untuk memperbaikinya. Kalau tidak bisa melalui ajang lokal, kita harus berani membawa atlet berkompetisi di luar negeri seperti Eropa.”

*******

Kolom
Tjahjo Sasongko
REPOTER

Editor : Tjahjo Sasongko/Kompas.com