You are here
Jangan Biarkan Ragunan Sekarat OPINI 

Jangan Biarkan Ragunan Sekarat

Garut News, ( Jum’at, 11/10 ).

Ist
Ist

Rencana Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengguyurkan dana besar menata Taman Margasatwa Ragunan percuma apabila tak disertai rencana komprehensif.

Jika tak hati-hati, hal itu mengulang penyakit sekarang ada.

Sudah diberi bantuan Rp40 miliar, namun kondisinya masih amburadul.

Berdiri di area seluas 120 hektare sejak 1864, pengelolaan Ragunan terkesan sangat amatir.

Banyak binatang mati lantaran tak terurus.

Juni lalu, misalnya, seekor jerapah mati.

Pengunjung juga tak disuguhi atraksi menarik meski kebun binatang ini punya koleksi hebat, seperti Pusat Primata Schmutzer.

Segala macam kera, lutung, sampai gorila hidup bebas seperti di alam.

Jokowi semestinya melihat kegagalan itu serta tak sembarangan mengucurkan bantuan Rp500 miliar untuk Ragunan.

Duit jumbo itu bakal sia-sia jika revitalisasi kebun binatang tersebut tak dirancang sungguh-sungguh.

Tak ada salahnya Jokowi belajar dari pengelolaan taman modern, seperti Taman Safari atau Taman Impian Jaya Ancol.

Ancol, misalnya, hidup tanpa subsidi dan dikelola profesional, tahun ini ditargetkan bisa mengundang 15,5 juta pengunjung.

Bandingkan dengan Ragunan, menikmati subsidi miliaran rupiah tetapi tahun lalu hanya bisa mendatangkan 4,3 juta pengunjung.

Melihat fakta itu, Jokowi kudu pintar memilih orang bakal mengurus Ragunan.

Rencana menggandeng Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Pengawas Taman Margasatwa Ragunan sudah tepat.

Di bawah kepemimpinan pengusaha itu, siapa tahu profesionalisme bisa tumbuh.

Dengan dana besar, pengelola kebun binatang tak perlu bingung mencari investor.

Mereka hanya perlu membuat karyawan di sana bekerja lebih baik lagi.

Namun juga kudu dijaga agar sisi komersialisasi Ragunan tak merugikan warga Jakarta.

Soalnya, selama ini Ragunan salah satu taman rekreasi murah tersisa di Jakarta.

Yang juga tak boleh dilupakan menjaga peran penting Ragunan sebagai taman margasatwa digunakan menangkar, dan merehabilitasi hewan maupun tanaman langka.

Fungsi ini jangan dihilangkan.

Sangat menyedihkan jika taman dikucuri begitu banyak uang itu sekarang hidup segan, mati tak mau.

Jika ingin lebih berkembang, selayaknya penataan Ragunan kudu dibuat satu paket dengan taman-taman rekreasi lainnya.

Jakarta punya banyak tempat tetirah tetapi tak terurus, seperti Kampung Betawi di Srengseng, Jakarta Selatan, atawa museum-museum selalu sepi.

Di banyak kota maju seperti Singapura atau New York, pemerintah menjual tiket paket, satu tiket empat sampai lima tujuan wisata.

Di Jakarta, hal ini bisa diterapkan dengan membuat paket tiket, misalnya, Ragunan, Ancol, Kampung Betawi, museum, Monumen Nasional.

Dengan cara itu, tempat-tempat rekreasi wisata sepi juga kecipratan berkah pengunjung.

Sarana pendukung seperti akses jalan dan angkutan ke taman rekreasi juga mesti dibenahi.

Sebab, moda transportasi sekarang ada rata-rata tak sanggup mengangkut lonjakan jumlah pengunjung di musim liburan mencapai 150 ribu per hari.

Inilah saatnya membenahi tempat wisata di Jakarta.

***** Opini/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment