Jalan Politik Rhoma Irama

0
235 views

M. Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta

Garut News ( Sabtu, 18/07 – 2015 ).

Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.
Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan.

Rhoma Irama mendeklarasikan partai politik sekaligus menjabat ketua umum pada 11 Juli 2015. Namanya Partai Islam Damai Aman (Idaman). Terlepas dari pro-kontra, inilah babak baru politik sang “raja dangdut”. Realistiskah langkah politiknya?

Hubungan sang “satria bergitar” ini dengan politik sudah sejak lama. Pada pertengahan Orde Baru 1970-an, ia berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tapi pada pengujungnya, ia pindah ke Golkar.

Selepas perubahan politik Mei 1998, Rhoma menyatakan keluar dari Golkar. Alasannya, ia prihatin atas “realitas umat” yang terkotak-kotak dan bingung atas banyaknya parpol dan “para pemimpin pun saling curiga-mencurigai”.

Umat butuh tokoh yang netral, selain tidak boleh fanatik terhadap parpol. Ia berjanji tak akan masuk ke parpol apa pun (Kompas, 24 November 1998).

Ia memang “tak masuk parpol apa pun”, tapi tetap saja tak bisa melepaskan diri dari politik. Selepas pilpres langsung pada 2004, ia berzigzag agar bisa menjadi capres. Ia mengaku pernah diminta menjadi capres sebelum Pemilu 2004 oleh sebuah parpol.

Pada 2009, tawaran juga datang, tapi kali ini ia diproyeksikan sebagai cawapres. Terakhir, Rhoma kepincut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai capres. Namun, semuanya berakhir dengan kekecewaan.

Hal tersebut bisa dipahami, mengingat Rhoma bukan penentu kebijakan parpol. Ia bak sosok yang sekadar disewa orang lain untuk meraih dukungan suara dalam pemilu. Ketika pemilu usai, semua sibuk mengurus kekuasaan.

Ia, sebagaimana digambarkan sebuah karikatur, tertinggal di panggung sendirian saja dengan gitarnya. Sang “satria bergitar” lagi-lagi tertinggal kereta politik.

Politik memang seperti candu. Rhoma pun namanya sempat beredar sebagai kandidat terkuat selain Yusril Ihza Mahendra pada Muktamar IV Partai Bulan Bintang (PBB) April 2015. Tapi pada detik-detik terakhir, dia justru tak hadir.

Naluri politiknya seperti mengatakan ia tak akan terpilih. Namun, selepas peristiwa itu, sebagai bagian dari rangkaian pengalaman politiknya yang panjang, Rhoma justru terpicu membuat parpol sendiri.

Kalau semuanya lancar, dalam arti Partai Idaman akhirnya resmi berkompetisi pada Pemilu 2019, tampaknya ia akan lebih merupakan ikhtiar kuantifikasi sosok Rhoma Irama.

Rhoma dikenal sebagai ikon populer industri musik dangdut, perintis sekaligus legendaris yang membesarkan perdangdutan Tanah Air. Dari sisi ketenaran, nyaris di dunianya tak ada yang mengalahkan.

Tetapi, bagaimana dengan dunia politik? Apakah para penggemarnya identik dengan pendukungnya? Sudah jelas jawabannya tidak otomatis. Politik dan dunia pop punya logika masing-masing.

Dalam beberapa kasus, tokoh dunia pop berhasil menapaki tangga-tangga politik. Kasus-kasus lain mencatat ironi kegagalannya.

Tapi tentu Rhoma tak tengah membikin lelucon. Ini ikhtiar serius. Demokrasi membuka jalan kekuasaan yang perlu ditempuh dengan kendaraan parpol.

Apabila sosok pengusaha nonpribumi seperti Hary Tanoesoedibjo saja berani membuat Partai Persatuan Indonesia (Perindo), pun mantan presenter Grace Natalie dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dapat segera dipahami manakala Rhoma tak mau ketinggalan.

Segmen politik yang tengah dibidik parpol Rhoma lebih ke pasar tertutup (captive market) parpol-parpol Islam. Kendati terbatas, segmen ini masih cukup menjanjikan bagi parpol dengan “tokoh baru”.

Yang paling mungkin menjadi pemilih potensialnya adalah konstituen PPP, terutama apabila masa depan persatuan parpol ini tak kunjung jelas.

Partai Rhoma juga berpeluang mengambil konstituen parpol-parpol lainnya, dengan asumsi mereka tengah mengalami stagnasi inovasi dan kreativitas dalam kepolitikannya.

Hal paling penting yang harus segera dilakukan sang “raja dangdut” adalah mengakumulasikan sumber daya politiknya. Ini tidak mudah. Ia harus meyakinkan banyak orang bahwa partainya cukup menjanjikan.

Ia harus cepat melengkapi struktur kepengurusan dan membangun insfrastruktur organisasi dari pusat ke bawah. Ia tengah diuji strategi politiknya dalam membangun kelembagaan parpol. Apakah semua itu bisa diandalkan semata-mata dari perkumpulan penggemarnya?

Tentu saja tidak, tapi ini bisa menjadi modal awal yang “efektif” apabila terkelola dengan baik, sebagaimana Silvio Berlusconi memanfaatkan para karyawan perusahaannya dalam pendirian Partai Forza Italia.

Mentransformasikan manajemen musik pop ke manajemen parpol, itulah tantangan sekaligus peluangnya.

Tapi, di atas semua itu, soal visi juga penting diolah. Pilihan tema Islam damai dan aman, apakah sudah cukup menarik dan mampu menjadi kapital dukungan?

Dari pilihan tema, isu tersebut cukup universal. Tapi, apakah itu tidak terlalu longgar, apabila tujuannya untuk menarik segmen parpol-parpol Islam?

Karena berbasis tokoh, publik pun tetap akan menilai, kalau bukan menyorot pandangan, sikap, dan praktek keagamaan Rhoma Irama. Termasuk ke hal-hal yang mungkin remeh-temeh, seperti soal poligami. Jalan masih panjang bagi sang “raja dangdut”. *

*********

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here