Jalan Panjang Akhirat, Penantian Muslim di Alam Kubur

0
17 views
Bergegas Datangi Masjid Kampus Peradaban Ponpes Yadul 'Ulya. (Ilustrasi).

Sabtu 11 Jul 2020 19:18 WIB
Red: Nashih Nashrullah

Santri Ponpes Yadul ‘Ulya Garut, Berupaya Senantiasa Memiliki Wudhu.

“Jalan menuju akhirat sangat panjang hingga dibangkitkan dari kubur”

REPUBLIKA.CO.ID,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al Hasyr: 18).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Hasan al Bashri seorang tabi’in (ulama yang sempat belajar kepada para sahabat Nabi SAW), menyatakan: “Sungguh seorang Mukmin itu selalu bersedih pada pagi dan petang hari. Kesedihan itu tak dapat dihindari, karena dia berada di antara dua hal yang ditakuti. Pertama, dosa yang telah dilakukannya dan ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah terhadapnya akibat dosa itu. Kedua, ajal yang menunggu, dan dia tidak tahu nasib apakah yang akan menimpanya saat menghadapi ajal itu.”

Ilustrasi.

Menurut Imam al-Qurtubi, dalam kitab At Tadzkirah, kesedihan dan kepedihan menjalani ajal (maut), akan ditambah dengan perjalanan panjang di akhirat. Sejak masuk ke liang lahat, sebagai ujian akhirat paling awal hingga Hari Perhitungan.”

Salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad SAW, Abu Dzar al Ghifari, berpidato di hadapan sekelompok jamaah yang ada di dekat Ka’bah. Beliau memaparkan perjalanan panjang di akhirat, dan kiat-kiat menghadapinya: “Siapkanlah perbekalan agar diri kalian selamat. Karena perjalanan di akhirat itu sangat jauh. Lebih jauh daripada yang kalian bayangkan sekarang,” kata Abu Dzar sebagaimana dituturkan kembali oleh Imam Sufyan Tsauri, yang dikutip Syekh Abdul Wahid Mustafa dalam buku Hakadza Tahaddatss Salafu Kalimatun Lishsahabati wat Tabi’in(1993).

“Salah satu bekal itu adalah berhaji agar kalian kelak dapat menghadapi aneka peristiwa dahsyat. Kerjakan puasa pada saat puncak musim panas, sebagai latihan kekuatan kalian menghadapi lamanya berkumpul di alam mahsyar.

Lakukan sholat minimal dua rakaat kala malam gelap pekat, sebagai upaya menghadapi kesepian di alam kubur. “Juga kalian harus terbiasa mengucapkan perkataan yang baik-baik, untuk menghapus situasi dan suasana yang hebat mengharu-biru. Hindarkanlah mengucapkan kata kata buruk yang akan menambah kesusahan.”

“Dan bersedekahlah, mudah-mudahan kalian selamat dari kesulitan-kesulitan kiamat. Jadikanlah dunia ini dalam dua ruangan. Pertama, ruangan untuk mencari akhirat. Kedua, ruangan untuk mencari barang yang halal. Jika ada yang menjadikannya tiga ruangan, ruangan ketiga itu tidak akan memberi manfaat apa-apa untuk kalian, malah mungkin saja mendatangkan kemudharatan.”

“Jadikanlah harta kekayaan dalam dua jenis. Jenis pertama diperoleh dengan cara halal, digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga kalian. Jenis kedua yang diperoleh dengan cara halal pula, ditabungkan untuk bekal akhiratmu melalui sedekah, infak, dan kebaikan serta kebajikan berpahala lainnya. Jangan ada jenis ketiga yang mungkin tidak memberi manfaat. Bahkan, mendatangkan mudharat bagi kalian.”

“Waspadalah, karena banyak manusia di dunia, yang dibinasakan kerakusan dan keserakahan yang takkan pernah memenuhi tuntutan hawa nafsu kalian.

********

Republika.co.id/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here