Jahe Garut Menembus Pangsa Pasar Luar Negeri

0
80 views

Garut News ( Jum’at, 28/08 – 2015 ).

Jahe Garut. (Foto : John DH).
Jahe Garut. (Foto : John DH).

Meski bukan termasuk jenis vegetasi hortikultura bernilai strategis, tetapi spisies jahe (Zingiber officinale Rosc.) terutama jahe emprit atawa jahe putih kecil asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata bisa menembus pangsa pasar luar negeri.

Sejak tiga tahun terakhir, permintaan jahe Garut juga berdatangan dari sejumlah negara. Di antaranya Bangladesh, Pakistan, Belanda, dan Brunei Darussalam.

Bahkan terbaru, Garut bisa mengirimkan 28 ton jahe emprit ke Bangladesh pada 25 Agustus 2015, pengiriman serupa berlangsung Juni 2015 lalu.

Sedangkan kegiatan ekspornya dilakukan melalui “Sub Terminal Agrobisnis” (STA) Bayongbong, yang terlebih dulu dibersihkan, dijemur, disortir, ditimbang, serta dikemas sebelum dikirim ke luar negeri, agar terjamin kualitasnya.

Salah satu keunggulannya berpostur cukup besar dengan kandungan kurkumanya tinggi.

Ironisnya, banyaknya permintaan tak bisa mendadak sontak dipenuhi petani maupun pengusaha Garut, lantaran terbatasnya produktivitas. Petani terkendala permodalan peningkatkan produksinya.

Sehingga, kegiatan ekspor jahe ke negara-negara pemesan masih berskala relatif terbatas, atawa bervolume “fluktuatif”, malahan kerap terhenti.

“Mata dagangan diekspor ini dihimpun dari sentra-sentra produksinya, seperti Kecamatan Wanaraja, Cilawu, Bayongbong, Caringin, Pameungpeuk, Bungbulang, dan Kecamatan Pasirwangi. Pembelian eksportir dari petani sekitar Rp4.500 per kilogram,”ungkap Manajer Pengelola STA Bayongobng Sasa Hermansyah, Jum’at (28/08-2015).

Terbatasnya kapasitas produksi, kata dia, acap memaksa petani dan pengusaha jahe mendatangkan produk jahe dari luar Garut. Padahal, tak sedikit negara pengimpor meminta ada penambahan volume dikirimkan.

Sehingga, Sasa berharap produktivitasnya dapat ditingkatkan. Supaya ke depan, kegiatan ekspor bisa semakin lancar sekaligus berkesinambungan.

Dikemukakan, tanaman hortikultura semusim tersebut bernilai ekonomi cukup tinggi sebab memiliki banyak manfaat. Mulai sebagai bahan baku pembuatan minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa atau penyedap makanan, hingga bahan baku obat tradisional atau herbal.

Berdasar Sensus Pertanian “Badan Pusat Statistik” (BPS) kabupaten setempat 2013 menunjukkan, jahe hortikultura jenis tanaman obat-obatan semusim paling banyak diusahakan rumah tangga usaha hortikultura di Garut.

Jumlahnya mencapai 7.088 rumah tangga, bertotal luas tanam sekitar 7.277.200 m2. Sehingga rata-rata luas tanam dikelola rumah tangga usaha hortikultura tersebut mencapai sekitar 1.026 m2.

*********

Noel, Jdh.

SHARE
Previous articleMenistakan Pidato
Next articlePeradilan Sesat Kasus JIS