Jaga Emosi Pada Media Sosial

Garut News ( Sabtu, 30/08 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Betapa mudah orang “terpeleset” di media sosial lalu berujung petaka. Gara-gara kicauan menghina Kota Yogyakarta, Florence Sihombing menjadi sasaran amuk para pengguna Twitter, Facebook, ataupun Path.

Kisah Florence ini semestinya menjadi pelajaran agar berhati-hati menggunakan media sosial.

Perkara sepele menggelinding menjadi besar dan memancing kemarahan sesama pengguna media sosial.

Florence mahasiswi program pascasarjana di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Kamis lalu, ketika sedang antre membeli bahan bakar minyak di kota itu, dia tidak sabar lalu memotong antrean.

Tetapi petugas pompa bensin menolak. Florence, yang tak terima, kemudian menumpahkan kekesalan di akun Path-nya.

Kata-katanya kasar. Ia memaki Yogyakarta dengan menyebutnya daerah miskin dan tak berbudaya.

Reaksi keras tentu saja muncul. Puluhan orang juga menggelar unjuk rasa meminta supaya Florence diusir dari kota tempatnya belajar itu.

Bahkan lembaga swadaya masyarakat Jatisura (Jangan Khianati Suara Rakyat) melaporkan mahasiswi ini ke Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Florence dianggap mencemarkan nama baik kelompok masyarakat.

Florence memang keterlaluan, namun reaksi pengguna media sosial juga berlebihan. Polisi dan jaksa pun tak perlu repot memproses pengaduan kasus ini.

Para penegak hukum mesti menempatkan kicauan Florence dalam konteksnya. Kicauan itu sepertinya hanya luapan kekesalan terhadap buruknya suasana kota atawa panjangnya antrean pembelian bahan bakar di Yogyakarta.

Pelajaran bagi Florence, berhati-hatilah di media sosial. Kicauanmu harimaumu!

Sekali muncul ucapan kontroversial, efeknya menjalar ke mana-mana. Media sosial membawa efek viral yang luar biasa.

Florence seharusnya mafhum “tata krama” media sosial.

Menulis di media ini beda dengan berbicara di acara arisan atawa warung kopi.

Sudah banyak tergelincir lantaran kasus seperti ini. Benny Handoko, pemilik akun @benhan, contohnya, divonis enam bulan penjara dengan satu tahun percobaan gara-gara menyebut M. Misbakhun-bekas politikus Partai Keadilan Sejahtera-sebagai perampok Bank Century.

Florence belum sampai bernasib seperti Benny.

Namun, apabila laporan atas ulahnya diproses kepolisian, dia bisa saja dijerat dengan pasal-pasal karet ada pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 11/2008.

Florence bakal dikenai Pasal 28 ayat 2, gampang sekali disalahgunakan.

Tak ada kriteria jelas soal ini.

Ayat ini mengatur soal setiap orang menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasar atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Penegak hukum seharusnya tak perlulah memproses kasus ini.

Masyarakat pengguna media sosial, khususnya warga Yogyakarta, juga mesti legawa lantaran Florence meminta maaf dan menggelar jumpa pers.

Ini mesti menjadi pelajaran bagi Florence atawa pengguna media sosial lain.

Sopan santun tetap diperlukan dalam bertingkah laku di media sosial.

*******

Opini/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment