Jadikan Garut Bebas BABS Diperlukan Rp20 Miliar

0
38 views
Mengaku Berenang Sekaligus BABS.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 19/10 – 2016 ).

Memprihatinkan.
Memprihatinkan.

Bupati Rudy Gunawan mencanangkan pada 2019 Kabupaten Garut bebas dari perilaku open defecation free/buang air besar sembarangan (ODF/BABS). Terdapat lima pilar sanitasi total berbasis masyarakat pun segera diwujudkan guna mendukung target tersebut, katanya.

Menjadikan Garut bebas BABS membutuhkan dana cukup besar sekitar Rp20 miliar. Namun dana tersebut jika dibagi-bagi tentunya akan mendapatkan jatah tak seberapa.

“Misalnya di Garut ini terdapat 421 desa atau sekitar 8.000 RW. Coba kalau uang itu dibagikan ke setiap RW, paling menerima seberapa. Kecil kan ? Tapi anggaran itu bisa didapat dari mana saja, saling mendukung,” ungkapnya.

Demikian ditegaskan usai mengikuti Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Se Dunia Tingkat Kabupaten Garut di Perum Bumi Cempaka Indah Kelurahan Lebakjaya Karangpawitan, Selasa (18/10-2016).

Pada kesempatan tersebut delapan desa, dan dua kelurahan berkesempatan membacakan Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan, dibacakan Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Karangpawitan juga Kepala Desa Lebak Agung, Aep Saepuridin.

Dikemukakan Bupati, pada 2016 ini, ditargetkan bebas BABS mencapai 120 desa. Sedangkan jumlah desa dinyatakan bebas BABS hingga saat ini baru mencapai seratus desa, katanya pula.

Diharapkan 2017 nanti, desa bebas BABS itu bertambah lagi hingga pada 2019, masyarakat di seluruh desa di kabupaten setempat dinyatakan terbebas dari perilaku BABS, imbuh dia.

“Dulu kan hanya tiga desa. Tapi selama saya (memimpin Garut), tiga tahun bertambah menjadi seratus desa. Karena Pemerintahan lama kurang perhatian soal BABS ini. Nah, saya targetkan pada 2019, Garut bebas Open defecation free (ODF) atau BABS,” kata dia.

Dikatakan, kesadaran masyarakat Garut terkait perilaku untuk tak BABS hingga saat ini masih rendah. Terutama masyarakat tinggal di wilayah selatan, terlebih daerah pinggiran.

Menurutnya, menjadikan masyarakat bebas BABS sangat susah lantaran beberapa faktor. Semisal faktor ekonomi, kebiasaan, dan daerahnya luas.

“Kalau banyak uang, membuat WC itu bisa di rumah bahkan di dalam kamar. Kalau sudah kebiasaan juga akan sulit merubahnya terutama di daerah pasisian (pinggiran),” ujarnya.

Karena itu, dirinya berkomitmen mulai anak-anak harus mulai hidup bersih. Sesuai lima pilar, stop BABS, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

********

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here