Isra Miraj dan Urgensi Sanad, Mata Rantai Keilmuan

0
31 views
Agro Park Ponpes/Kuttab Yadul 'Ulya Garut, Wahana Edukasi Berbasis Lingkungan Ciptaan Allah SWT.

Kamis 11 Mar 2021 16:16 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Kemandirian Pangan Ponpes Yadul ‘Ulya.

“Isra Miraj mengajarkan kepada umat Islam pentingnya sanad keilmuan”

 REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Gus Aunullah A’la Habib Lc MA*

Salah satu pelajaran penting dari peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang bisa kita ambil manfaat adalah tentang pentingnya sebuah sanad atau mata rantai keilmuan yang harus terus menerus tersambung.  

Nabi Muhammad SAW dalam menjalani isra, selain menjalani proses ritual, juga menjalani proses pengasahan intelektualitas. Beliau berjumpa dan berdiskusi dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi-nabi yang lain, sehingga apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW itu jalannya sama dengan nabi-nabi pendahulunya.

Potensi Pangan Agro Park Ponpes Yadul ‘Ulya.

Tradisi pertemuan secara langsung ini biasa kita kenal dengan  dalam dunia pesantren dengan istilah tradisi sanad. Apabila sanad tidak bersambung, maka nanti akan terjadi penyimpangan yang bisa merusak. Oleh karena itu, setiap nabi harus punya jalur atau karakter yang sama dengan nabi-nabi yang lain dengan cara bertemu secara langsung.

Dalam pendidikan intelektual Nabi Muhammad SAW saat Isra, selain bertemu para nabi terdahulu, juga dikenalkan karakter-karakter nabi tersebut. Begitu juga dalam Alquran diceritakan kisah-kisah nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW.

Saling Berbagi Ilmu di Agro Park Ponpes Yadul ‘Ulya.

Dengan menceritakan itu, akan menjadikan kebijakan dan pola pikir Nabi Muhammad selaras dengan yang dilakukan nabi-nabi terdahulu.

Telah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa sumber utama Ilmu dalam Islam adalah: Alquran dan hadits. Alquran sudah dijamin Allah tentang kebenarannya dan keterjagaannya. Allah SWT berkalam dalam surat al-Hijr ayat 9 yang berbunyi:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Inna nahnu nazzalna dzirko wa inna lahu lahaafidzun”. Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Dzikru (nama lain Alquran) dan Kamilah Pemelihara-pemeliharanya.”  

Mengamati Ragam Vegetasi Agro Park Ponpes Yadul ‘Ulya.

Sedangkan hadits juga sudah di teliti dan melalui seleksi yang ketat. Artinya sumber normatif ajaran Islam selalu ada dan dapat diakses kaum Muslimin. Namun masalahnya, apakah setiap individu Muslim mampu melakukan istinbath (pengambilan) hukum dan pemahaman dari kedua sumber tersebut? 

Tentu tidak. Maka di sinilah perlunya kita mengenal dengan istilah sanad, atau mata rantai dalam sebuah keilmuan, yang terus menerus bersambung sampai kepada para sahabat dan Rasulullah SAW. Ibnu al-Mubarak, sebagaimana dikutip oleh Imam Muslim mengatakan bahwa:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ “al Isnadu minaddin, wa lau laa al isnadu laqoola man sya’a wa ma sya’a”  Artinya: “Isnad adalah urusan agama. Kalau urusan isnad tidak diperhatikan, maka setiap orang bisa bicara apa saja sekehendak hatinya”. 

Membidik Sasaran Anak Panah.

Oleh karena itu dalam Islam tidak hanya disuruh memperhatikan sanad dalam urusan validitas/kebenaran riwayat teks atau matan sebuah hadis. Makna dan pemahaman yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran dan hadis nabawi juga harus didapatkan dari para guru dengan sanad (rantai) yang muttashil (terus bersambung).

Bahkan Syekh Abu Yazid pernah berkata: 

من لَيْسَ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ ”Man laisa lahu syaikh fasyaikhu syaithan”. Artinya: “Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka guru nya adalah setan”. Nashiru al-Din al-Asad, dalam kitabnya Mashadiru al-Syi’ri al-Jahily, ketika membahas mengenai isnad atau jalur transmisi keilmuan, mengatakan bahwa:

“Para ulama salaf menganggap dhaif atau lemah keilmuan seseorang yang hanya mengambil ilmu dari teks yang ada pada lembaran-lembaran tertulis tanpa merujuknya kepada para ulama.”

Sambil Bergerak Membidik Sasaran Bergerak.

Orang-orang yang demikian ini dijuluki dengan sebutan shahafiy atau para literalis, yang karena tidak mengambil ilmu dari para ulama, akhirnya rawan melenceng pemahamannya.

Etika para ulama dalam mengambil ilmu agama kepada para guru mereka (ulama) itu sesuai dengan hadits Nabi SAW riwayat Abu Dawud, yang menyatakan bahwa: الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” Ini berarti bahwa ilmu agama harus diambil melalui para ulama, bukan sekedar diambil dari catatan teks.  

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi SAW menerangkan bahwa: وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ  “Allah mengambil ilmu dari manusia bersama meninggalnya ulama.”

Rehat Sejenak.

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits Nabi SAW mengenai orang-orang yang tidak mau mengambil ilmu agama dari para ulama, sehingga ketika para ulama sudah meninggal, mereka mengangkat orang bodoh menjadi pemuka agama, selanjutnya si pemuka agama yang bodoh itu tersesat, dan menyesatkan orang lain.

Atas dasar pentingnya sebuah sanad, bahkan para sahabat-pun selalu mengambil ilmu kepada ulama diantara mereka. Muhammad Siddiq Khan, dalam kitab Al-Aqlid, menuqil pernyataan dari kalangan as-salaf al-shalih, generasi salaf yang menyatakan bahwa:

“Sesungguhnya orang-orang yang kurang pandai dari kalangan sahabat dan tabi’in, mereka tidak berani menafsirkan Alquran dan hadits tanpa merujuk dan berkonsultasi kepada para ahli ilmu di antara mereka. Ini adalah keterangan yang mutawatir dari mereka.” 

Berolahraga Tingkatkan Kualitas Imunitas.

Sahabat Umar RA contohnya, meskipun beliau adalah salah satu ulamanya golongan sahabat, tapi beliau tidak segan untuk bertanya kepada seseorang yang lebih alim dalam hal-hal tertentu. Begitu juga generasi berikutnya, seperti Imam Syafii dan Imam Bukhari.

Salah satu ulama kita, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pernah berkata berkaitan dengan penting nya sebuah sanad. Beliau berkata:

“Sesungguhnya umat Islam telah sepakat dan serujuk bahwasanya agar untuk dapat memahami, mengetahui dan mengamalkan syariat agama Islam dengan benar, harus mengikuti orang-orang yang terdahulu. Para tabiin di dalam menjalankan syariat mengikuti atau berpegang kepada amaliah para sahabat Rasulullah. Sebagaimana generasi setelah tabiin mengikuti para tabiin, maka setiap generasi selalu mengikuti generasi yang sebelumnya. Akal yang waras menunjukkan kebaikan sistem yang demikian ini. Karena syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan memindahkan dari orang yang terdahulu dan diambil pelajaran, ketentuan atau patokan dari orang-orang yang terdahulu itu.” Wallahua’lam. 

*Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda  Doglo Boyolali, Jawa Tengah

Bukit Agro Park Ponpes Yadul ‘Ulya.

“Ulama: Sains Belum Bisa Jawab Isra Mi’raj”

‘Menurutnya, sains tak bisa jawab perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha’

— Salah satu peristiwa Nabi Muhammad yang dirayakan setiap bulan Rajab adalah Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah perjalanan yang ditempuh dalam waktu semalam.

Mulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina lalu menuju Sidratul Muntaha. Lalu, bagaimana kacamata sains memandang peristiwa tersebut?

Bidikan Berpresisi.

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia Ustadz Ahmad Sarwat mengatakan tidak cocok jika perjalanan Isra Mi’raj dikaitkan dengan sains.

“Dari segi sains ya, jangankan sains di masa sekarang. Di masa akan datang saja belum bisa digambarkan apalagi jika dikaitkan dengan sains zaman Rasulullah. Tidak terbayangkan,” kata Ustadz Ahmad kepada Republika.co.id, Rabu (10/3).

Kemungkinan jika dikaitkan dengan sains di masa sekarang, bepergian dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa mamakan waktu sekitar dua jam menggunakan pesawat, bolak-balik menjadi empat jam. Itu masih masuk akal jika perjalanan tersebut ditempuh dalam satu malam.

Dengan Solid Mengevaluasi Setiap Akhir Kegiatan.

Namun, sains tidak bisa menjawab perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha. Sampai saat ini pun, pesawat yang memiliki kecepatan cahaya belum ditemukan, baru dengan istilah kecepatan cahaya.

“Kecepatan cahaya itu sebenarnya belum pernah ada wujudnya. Tapi ini sering ada dalam cerita novel atau film fiksi ilmiah. Contohnya, pesawat Enterprise dalam film Star Trek yang kecepatannya sudah seperti kecepatan cahaya,” ujar dia.

Namun, jika melihat teori kecepatan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per detik misalnya, dalam satu malam perjalanan dengan wahana luar angkasa selama 12 jam bolak-balik belum apa-apa. Terlebih, itu belum keluar dari galaksi Bima Sakti.

Padahal, luas alam semesta terdiri dari banyak galaksi. Perjalanan menuju bintang terdekat, Proxima Centauri di luar matahari menghabiskan waktu 4,3 tahun cahaya.

“Cahaya merambat dari bintang itu ke kita 4,3 tahun cahaya. Jika dibandingkan dengan perjalanan Isra Mi’raj dalam satu malam berarti belum seberapa kalau kita berpikir kecepatannya adalah kecepatan cahaya,” ujar dia.

Tentu, Nabi dengan kecepatan yang tidak hanya menggunakan kecepatan cahaya, jauh di atas itu semua. Oleh karena itu, kata dia tidak bisa dibayangkan bahkan dalam versi fiksi ilmiahnya. Terlebih, manusia berada di luar angkasa dengan ketinggian sampai 30 ribu kaki saja sudah tidak bernapas.

Kendati peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat Rasulullah, tapi di sisi tertentu tidak menambah keuntungan untuk Rasulullah dan para sahabatnya. Yang ada, orang-orang kafir semakin ingkar dan tidak percaya.

“Jadi, peristiwa Isra Mi’raj sebagai mukjizat tidak menambah keyakinan apa pun. Malahan kebalikannya, yakni orang semakin jauh dari agama Islam. Itu kalau melihatnya dalam sudut pandang orang kafir,” ucap dia.

Tentu berbeda jika melihat dari kacamata umat Islam saat itu. Setelah peristiwa Isra Mi’raj, bagi kaum Muslim menjadi ujian. “Justru keimanan orang-orang beriman dan para sahabat diuji. Disitulah juga Abu Bakar mendapat gelar Ash-Siddiq,” kata dia.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here