Ironi Sebatang Cokelat

0
52 views

Kadir, bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS).

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Jum’at, 21/08 – 2015 ).

Kabupaten Garut, Jawa Barat, bisa memproduksi Wafer Block Chocolate “Silver Queen”. Sebagai salah satu produk Ceres N.V pada akhir 1940-an. Semula dengan berinvestasi perusahaan perkebunan kakao kecil milik orang Belanda (Ceres N.V) di Kabupaten Garut, yang dibeli pada 1940-an oleh M.C Chuang keturunan Birma (Myanmar).
Kabupaten Garut, Jawa Barat, bisa memproduksi Wafer Block Chocolate “Silver Queen”.
Sebagai salah satu produk Ceres N.V pada akhir 1940-an.
Semula dengan berinvestasi perusahaan perkebunan kakao kecil milik orang Belanda (Ceres N.V) di Kabupaten Garut, yang dibeli pada 1940-an oleh M.C Chuang keturunan Birma (Myanmar).

Kalau kita perhatikan statistik konsumsi cokelat dunia pada 2015, kita bakal menemukan fakta bahwa 10 negara konsumen cokelat terbesar sejagat adalah negara-negara maju: Amerika Serikat dan negeri di Eropa Barat.

Untuk tiga pemakan cokelat terbesar sejagat, di urutan pertama ada Swiss dengan konsumsi per kapita penduduknya mencapai 9 kilogram per tahun. Di bawahnya ada Jerman dan Irlandia dengan konsumsi per kapita masing-masing 7,9 kilogram dan 7,4 kilogram per tahun (Koran Tempo, 14 Agustus).

Menariknya, tak satu pun dari 10 negara konsumen cokelat terbesar dunia itu merupakan penghasil biji kakao, bahan utama pembuatan cokelat. Lalu, bagaimana dengan konsumsi cokelat di negara-negara penghasil utama kakao dunia?

Dibangunlah pabrik produk pengolahan cokelat. Namun M.C Chuang tetap memertahankan nama Ceres N.V. Pada akhir 1940-an, Ceres N.V memproduksi dan memasarkan cokelat batangan bermerk dagang “Silver Queen”. Kemudian 1950-an, atawa satu dasa warsa kemudian. Ceres N.V di jalan Cimanuk Garut, dipindahkan ke Kota Bandoeng.
Dibangunlah pabrik produk pengolahan cokelat.
Namun M.C Chuang tetap memertahankan nama Ceres N.V.
Pada akhir 1940-an, Ceres N.V memproduksi dan memasarkan cokelat batangan bermerk dagang “Silver Queen”.
Kemudian 1950-an, atawa satu dasa warsa kemudian. Ceres N.V di jalan Cimanuk Garut, dipindahkan ke Kota Bandoeng.

Untuk diketahui, lebih dari 90 persen kakao dunia dihasilkan oleh negara-negara berkembang atau dunia ketiga di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Saat ini, tiga negara penghasil utama biji kakao dunia adalah Pantai Gading, Ghana, dan Indonesia. Ketiganya menyuplai tak kurang dari 70 persen kebutuhan kakao dunia.

Berapa pun angka konsumsi di negara-negara itu, yang pasti kalah jauh dengan tingkat konsumsi di negara-negara konsumen utama cokelat dunia. Bayangkan, konsumsi cokelat penduduk Indonesia, misalnya, hanya sekitar 0,3 kg per kapita per tahun.

Padahal sebanyak 18 persen kakao dunia disuplai oleh Indonesia.

Hasil Sensus Pertanian 2013 memperlihatkan budi daya tanaman kakao di negeri ini melibatkan 2,19 juta rumah tangga. Sekitar 34,4 persen dari jumlah total rumah tangga tersebut terdapat di Pulau Sulawesi.

Di sana, di pedalaman Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, misalnya, banyak petani yang jarang, bahkan tak pernah, mencicipi nikmatnya sepotong cokelat, meski bahan baku utamanya disuplai oleh mereka.

Barangkali hal tersebut erat kaitannya dengan budaya mengkonsumsi cokelat. Konon, kebiasaan mengkonsumsi dan menyeduh cokelat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Eropa dan Amerika Serikat.

Dan mengambil alih Van Hauten, perusahaan pengolahan produk cokelat besar di kota kembang tersebut. Selanjutnya Ceres N.V diubah namanya menjadi PT. Ceres pada 20 Januari 1950, yang kini perusahaan itu menjadi Ceres Grup. Terdiri pelbagai jenis anak perusahaan beroperasi secara internasional. Bahkan menjadi raja coklet nomor tiga dunia, katanya.
Dan mengambil alih Van Hauten, perusahaan pengolahan produk cokelat besar di kota kembang tersebut.
Selanjutnya Ceres N.V diubah namanya menjadi PT. Ceres pada 20 Januari 1950, yang kini perusahaan itu menjadi Ceres Grup.
Terdiri pelbagai jenis anak perusahaan beroperasi secara internasional.
Bahkan menjadi raja coklet nomor tiga dunia, katanya.

Selain soal budaya, hal tersebut tampaknya juga terkait dengan fakta lain: produsen utama cokelat dunia bukanlah negara-negara penghasil utama kakao dunia, tapi negara-negara konsumen cokelat terbesar dunia itu sendiri, contohnya, Swiss dan Amerika Serikat.

Relatif rendahnya konsumsi cokelat penduduk Indonesia sejatinya adalah sebuah ironi, bukti bahwa selama ini kita hanya mampu menjadi penghasil dan pengekspor bahan mentah.

Kasta itu paling rendah dalam rantai produksi cokelat dunia. Barangkali, mimpi menjadi salah satu produsen dan pengekspor cokelat terbesar di dunia terlalu tinggi dan muluk-muluk, meski potensi untuk itu sejatinya cukup besar.

Saat ini yang terpenting adalah upaya serius dari pemerintah untuk mendorong pengembangan industri pengolahan biji kakao agar nilai tambahnya bisa ditingkatkan. Syukur-syukur kalau produk akhirnya dalam bentuk cokelat made in Indonesia.

Hal ini penting diupayakan karena tidak hanya dapat mendorong peningkatan konsumsi cokelat penduduk Indonesia, tapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup jutaan petani kakao di negeri ini, yang kehidupan ekonominya acap kali tak selezat rasa sepotong cokelat. *

********

Kolom/artikel Tempo.co

SHARE
Previous articleDoa 70 Tahun Negeri
Next articleMenagih Janji Jonan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here