Ironi PSSI

by

Garut News, ( Kamis, 17/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Barangkali sepak bola Indonesia sebenarnya tak membutuhkan PSSI, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia itu.

Sebanyak 24 pemain di bawah usia 19 tahun dicari pelatih Indra Sjafri blusukan ke pelosok-dan tanpa bantuan PSSI-terbukti bisa bermain gemilang.

Dalam dua bulan terakhir, Evan Dimas dan teman-temannya membuat kita ternganga: menjuarai Piala Federasi Asia Tenggara di Sidoarjo, dan pekan lalu menundukkan Korea Selatan, juara bertahan dan pemegang 12 kali gelar Piala Asia.

Cara pelatih Indra Sjafri menemukan bakat hebat Evan Dimas cs menjadi bukti telak, PSSI gagal membuat turnamen melahirkan tim nasional kuat.

Di negara mana pun, induk organisasi sepak bola dibiayai negara bertugas melahirkan kompetisi lokal.

Kompetisi ini menjadi saringan alami bagi lahirnya pemain bagus.

Pelatih Indra Sjafri justru tak menemukan para pemainnya dari kompetisi digelar PSSI.

Evan Dimas, gelandang dan kapten menghidupkan permainan tim Indonesia, contohnya.

Evan bermain untuk Persebaya 1927, klub di Surabaya tak diakui PSSI lantaran mereka tergabung Liga Primer Indonesia.

PSSI hanya mengakui pemain klub berkompetisi di Liga Super Indonesia.

Dua liga itu, buntut konflik kelompok pengusaha Arifin Panigoro, menyelenggarakan Liga Primer, dengan kubu Nirwan Bakrie, membuat Liga Super.

Orang-orang dari dua kubu itu saat ini duduk di PSSI, tetapi mereka gagal menyatukan dua liga tersebut.

Padahal keberadaan Evan sangat penting.

Dia bisa disebut salah satu pahlawan tim usia 19 tahun.

Dia bahkan membuat tiga gol cantik ke gawang Korea Selatan sehingga Indonesia bisa bermain di putaran final Piala Federasi Asia di Myanmar pada Oktober tahun depan.

Status Evan Dimas itu membuat Korea Selatan, dan tim nasional negara lain menggugat tim Indonesia.

Mereka menuduh PSSI memakai pemain ilegal.

Tuduhan sangat memalukan.

Jika Organisasi Sepak Bola Dunia (FIFA) atawa Asia mengatur kompetisi antarnegara itu mengabulkan keberatan Korea Selatan, bukan mustahil tim nasional tersingkir sebab dianggap tak memenuhi syarat administrasi.

Di samping Evan, pemain lain direkrut Indra juga berasal dari klub “ilegal”, bahkan beberapa lain tak punya klub.

Jika status ini tak segera dibereskan PSSI, dunia terus melihat kegagalan Indonesia justru bukan lantaran kemampuan teknis bermain bola, melainkan lantaran arogansi para pengurus PSSI.

Para pemain hebat tetrapi “ilegal” itu tak bisa berkembang lantaran tak punya lisensi.

Pengurus PSSI seharusnya berkaca pada situasi itu.

Egoisme para pengurus hanya membuat sepak bola Indonesia semakin terpuruk.

Kesalahan inilah tak disadari lembaga-lembaga mengurus kepentingan sepak bola, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo.

Tak ada kata terlambat kembali menyatukan liga, dan membuat kompetisi bagus menyaring bakat-bakat hebat anak-anak Indonesia.

Indonesia membutuhkan PSSI kompak, dan kuat agar melahirkan tim nasional dahsyat.

***** Opini/ Tempo.co