Insaf

0
91 views

Irfan Budiman,
@papaipang

Garut News ( Jum’at, 10/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Kondisi Lapangan Sepakbola Jayaraga, Garut Pada Senin (06/10 – 2014). Foto : John Doddy Hidayat.
Ilustrasi. Kondisi Lapangan Sepakbola Jayaraga, Garut Pada Senin (06/10 – 2014). Foto : John Doddy Hidayat.

Pelatih Persija Jakarta, Benny Dollo, dan pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, punya nama panggilan yang lucu.

Reporter yang sering memandu pertandingan di sepak bola televisi yang sering berteriak-teriak sendiri ketika gol terjadi, atau malah tak ada gol, kerap menyebut Benny dengan panggilan “Bendol” alias kependekan dari namanya.

Pun dengan Djadjang yang kemudian terdengar manis bin romantis dengan nama “Janur”. Janur alias daun kelapa muda selalu terlihat dalam acara pesta pernikahan.

Akronim bukanlah hal yang aneh. Bagi kita, hal itu sudah amat umum. Nama pahlawan nasional Oto Iskandar Di Nata yang dijadikan nama jalan kemudian malah dikenal dengan sebutan “Otista”.

Tak aneh bila singkat-menyingkat pun melanda sepak bola-olahraga paling populer di negeri ini.

Tapi, satu yang janggal hal ini tak menyergap Indra Sjafri. Padahal, dia merupakan pelatih paling terkenal dan yang sukses di negeri ini, saat ini.

Namun, ternyata namanya tetap steril akronim. Dia tetap dipanggil “Indra” atau “Coach Indra”. Padahal, bila mengikuti pola Bendol dan Janur, dia bisa saja mendapat julukan “Insaf”.

Insaf memang terdengar kurang menyenangkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “insaf” berarti sadar atau bisa juga berarti menyadari kesalahan yang pernah dilakukan.

Kata “insaf” memang sering kali bermakna kurang baik.

Meski tak pernah ada sebutan “insaf” bagi Indra Sjafri, sesungguhnya apa yang dilakukan Indra bersama timnas U-19 adalah sebuah upaya memperbaiki berbagai kesalahan yang dilakukan pengelola sepak bola di negeri ini.

Banyak buktinya. Tim senior yang tidak pernah menjadi juara, ternyata di tangan Indra, memunculkan anak-anak muda yang berhasil mempersembahkan piala AFF untuk usia di bawah 19 tahun, tahun lalu.

Tak lama kemudian, saat lagi-lagi tim senior kita tak mampu lolos ke Piala Asia, malah anak-anak remaja itu lolos, bahkan menjadi juara grup, dengan mengalahkan Korea Selatan.

Indra telah menjawab bagaimana cara mendapatkan para pemain yang bagus untuk timnas negeri ini. Caranya, mencari hingga ke pelosok negeri.

Meniru istilah yang populer saat ini, dia blusukan demi mendapatkan pemain yang dicari. Hasilnya, Indra berhasil mengumpulkan pemain-pemain dengan talenta yang bagus.

Popularitas anak-anak muda ini tak bisa dimungkiri sedang menjulang. Tapi, mereka bukanlah para pemain senior yang pada Piala AFF 2010 lalu bisa dibawa-bawa ke beberapa tokoh untuk sekadar makan dan berfoto bersama.

Jangankan itu, untuk sekadar menjadi bintang iklan, pintu itu sudah tertutup.

Nanti sore, anak asuh Indra Sjafri akan turun ke gelanggang untuk mempertaruhkan nama Indonesia melawan Uzbekistan.

Namun, Indra tak mau sekadar berangkat ke Myanmar dengan dalih semata untuk mendapatkan pengalaman.

Tapi, dia menggelegarkan semangat anak asuhnya untuk bisa sampai ke babak semifinal guna lolos Piala Dunia tahun depan.

Tidak ada jaminan target atau harapan ini bisa terwujud. Namun, Indra Sjafri-atau bisa disingkat dengan Insaf-sesungguhnya telah melakukan banyak hal yang menjadi koreksi di ranah sepak bola negeri ini.

Tampil dalam Piala Asia, U-19, sudah menjadi persembahan istimewa dari tim nasional negeri ini untuk para pendukungnya yang sudah lama haus kemenangan.

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here