Inilah Penyebab Garut Dikepung Penularan HIV/AIDS ‘Laki Sex Laki’

0
24,726 views
Bersama Populasi Kunci di Garut.

“Akibatkan 169 Tewas Mengenaskan”

Garut News ( Sabtu, 02/12 – 2017 ).

Bersama Populasi Kunci di Garut.

Sangat dominannya pencarian kehangatan figur ayah oleh anak laki-laki sejak masih usia dini hingga menjelang dewasa, akibat memiliki sosok ibu di rumah, yang galak maupun sangat ‘setreng’ menerapkan disiplin terhadap anak, juga lantaran kekecewaan ‘sangat berat’ terhadap perempuan.

Merupakan dua penyebab utama dari ragam penyebab lainnya, yang kini menjadikan  penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, semakin dikepung ancaman serius penularan insfeksi HIV/AIDS “Laki Sex Laki” (LSL).

Bahkan setiap bulan terdapat penambahan sedikitnya delapan kasus baru terinsfeksi jenis penyakit yang mematikan itu, di kabupaten tersebut.

Garut Rawan HIV/AIDS.

Demikian antara lain dikemukakan Kepala Dinas Kesehatan kabupaten setempat, dr H. Tenni Sewara Rifai, M.Kes ketika didesak pertanyaan Garut News pada rangkaian Peringatan Hari AIDS Sedunia di Garut, Sabtu (02/12-2017).

“Setia pada pasangan, dan selalu ingat kita akan mati, merupakan upaya serius mencegah terinsfeksi jenis penyakit ini” imbuhnya.

Sedangkan kepada kalangan remaja diserukan, agar sedetik pun jangan mendekati jinah, tandasnya.

Namun demikian ungkapnya pula, pendekatan paling efektif bisa terhindar dari bahaya penyebaran insfeksi HIV/AIDS, bisa dilakukan melalui pendekatan upaya nyata meningkatkan kualitas ‘aqidah’ agama, ujar Tenni S. Rifai.

dr H. Tenni Sewara Rifai, M.Kes.

Dari 8.440 penduduk terdiri 2.290 laki-laki, dan 6.150 perempuan di kabupaten setempat yang di tes HIV/AIDS selama rentang waktu Januari hingga Oktober 2017, ada temuan baru 59 individu di antaranya positif terinsfeksi HIV/AIDS meliputi 48 laki-laki, dan 11 perempuan.

Dari 59 terinsfeksi positif HIV/AIDS ini. Selain didominasi usia produktif berkisar 25 – 49 tahun, juga didominasi 27 terinfeksi HIV akibat LSL sebagai populasi terbanyak HIV Positif.

Guntur Yana Hidayat Berdialog Mengenai HIV/AIDS.

Juga dari 59 terinsfeksi penyakit tersebut, ada delapan di antaranya positif terinsfeksi AIDS terdiri tiga laki-laki, serta lima perempuan.

Dipastikan mulai terkena insfeksi pada usia berkisar 15 hingga 20 tahun, lantaran masa inkubasi virusnya selama rentang waktu antara tiga hingga 15 tahun.

Para pelaku LSL meliputi individu berperan sebagai laki-laki umumnya berpendidikan menengah ke atas. Sedangkan individu yang berperan perempuan umumnya berpendidikan menengah ke bawah.

Komunitas Tato Bersama Komunitas Airbrass Garut, Gelar Karya Seni Kreativitas Lukisan Mural.

Selama Januari hingga Oktober 2017 pun, diselenggarakan tes “Insfeksi Sex Menular”(IMS) terhadap 297 penduduk, terdiri 29 laki-laki, serta 268 perempuan.

Sebelumnya temuan baru di kabupaten ini, sejak Januari hingga September 2017 terdapat 43 kasus terinfeksi HIV/AIDS yang  didominasi pula degradasi moral penyimpangan perilaku LSL mendera 26 individu.

Kemudian masing-masing dialami empat waria dan penasun (pengguna jarum suntik narkoba), serta sembilan kasus masyarakat umum, ungkap Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) kabupaten setempat, Guntur Yana Hidayat.

Sehingga selama dua bulan terakhir ada penambahan 16 kasus, atau delapan kasus setiap bulan yakni dari 43 kasus (akhir September 2017) menjadi 59 kasus (Oktober 2017).

Malahan selama rentang waktu tersebut, LSL terisnfeksi HIV positif juga bertambah satu kasus dari 26 kasus menjadi 27 kasus.

Mereka seluruhnya berusia produktif berkisar 20 hingga 45 tahun, terdiri 36 terinfeksi HIV, tujuh AIDS, serta tiga meninggal dunia lantaran terinfeksi AIDS selama rentang waktu Januari hingga September 2017.

“Akibatkan 169 Tewas Mengenaskan”

Pada momentum Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2017 ini, menunjukan semakin mencemaskannya penyebaran populasi yang terinsfeksi positif jenis penyakit itu, di Kabupaten Garut.

Berdasar telisik informasi dihimpun Garut News menunjukan, dari sedikitnya 410 populasi terinsfeksi positip HIV/AIDS hingga akhir Maret 2015. Mereka tersebar pada 26 wilayah kecamatan di kabupaten ini. Bahkan terdapat 138 populasi di antaranya tewas mengenaskan.

Sedangkan sampai Oktober 2017 populasinya bertambah menjadi sedikitnya 610 penduduk terinsfeksi HIV/AIDS positif, tersebar pada 31 dari 42 kecamatan di kabupaten setempat.

Dengan kasus terbanyak di wilayah Kecamatan Garut Kota, disusul Tarogong Kidul, dan di Kecamatan Tarogong Kaler.

“Mereka terinsfeksi jenis penyakit itu, terdapat 67 kasus di antaranya temuan baru pada Januari hingga Oktober 2017 ini, sebelumnya hingga 2016 terdapat 524 kasus” ungkap Guntur Yana Hidayat.

Dikatakan, 67 kasus temuan baru tersebut terdiri 59 HIV Positif, serta delapan positif AIDS berusia produktif berkisar 15 hingga 49 tahun.

Sehingga sejak akhir Maret 2015 hingga Oktober 2017 di Kabupaten Garut terdapat penambahan populasi terinsfeksi HIV/AIDS positif mencapai 200 kasus, demikiian pula penyebarannya kian meluas dari 26 wilayah kecamatan menjadi 31 kecamatan.

Maupun bertambah meluas pada lima wilayah kecamatan lainnya, dengan korban tewas mencapai ratusan populasi, atau sedikitnya 169 tewas mengenaskan, ungkapnya.

“601 Penduduk 31 Kecamatan Garut Terinsfeksi HIV/AIDS”

Dari sedikitnya 610 penduduk terinsfeksi HIV/AIDS di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tersebar pada 31 dari 42 kecamatan di kabupaten tersebut. Kasus terbanyak Kecamatan Garut Kota, disusul Tarogong Kidul, dan Kecamatan Tarogong Kaler.

“Mereka terinsfeksi jenis penyakit itu, terdapat 67 kasus di antaranya temuan baru pada Januari hingga Oktober 2017 ini, sebelumnya hingga 2016 terdapat 524 kasus” ungkap Guntur Yana Hidayat.

Pemeriksaan Gratis (Konseling & Tes HIV dan IMS).

Faktor resikonya masing-masing empat waria, 27 “Laki Sex Laki” (LSL), tujuh pasangan suami istri, satu HRM (Pria Resiko Tinggi), 11 HIV/AIDS TB Paru, delapan penyakit kronik lainnya, serta 45 “Insfeksi Menular Seksual” (IMS) terdiri 17 laki-laki dan 28 perempuan.

“11 Kecamatan Masih Diragukan Bebas HIV/AIDS”

Populasi Kunci Seksama Simak Advokasi Bahaya HIV/AIDS.

Guntur Yana Hidayat mengemukakan pula, pihaknya masih sangat meragukan 11 wilayah kecamatan lainnya benar-benar bebas terinsfeksi HIV/AIDS, lantaran pada kesebelas kecamatan itu belum terdapat Puskesmas yang di “set-up” (belum dikemas) HIV/AIDS.

Sehingga fenomena gunung es ini, dipastikan masih belum terungkap ke permukaan, ujarnya.

Terdiri wilayah Kecamatan Singajaya, Banjarwangi, Cisewu, Talegong, Pangatikan, Cigedug, Mekarmukti, Pakenjeng, Pasirwangi, Leuwigoong, dan wilayah Kecamatan Selaawi (11 kecamatan).

Terkait tema peringatan hari AIDS Sedunia 2017 ini, “Saya Berani, Saya Sehat” menurut Guntur Yana Hidayat antara lain bermakna diperlukannya keberanian “Orang Dengan HIV/AIDS” (ODHA) senantiasa berani membangun komunikasi atau tak menutup diri.

Terdapat Ratusan PSK yang Bertransaksi Badani di Kota Garut.

Kemudian berani bergaul (bersilaturahim), serta berani berobat, lantaran jika semakin menutup diri dipastikan semakin bermasalah. Karena itu pula harus jujur termasuk pada diri sendiri, imbuhnya.

Pada momentum peringatan hari AIDS Sedunia 2017, Pemkab Garut memberikan bantuan kepada lebih 364 ODHA sebagai (PIB) atau penerima iuran bantuan berupa BPJS. Mereka terdiri para kader, penggiat HIV/AIDS termasuk ODHA.

Diharapkan jika Perda tentang Penyakit Menular di Kabupaten sudah disyahkan, benar -benar bisa direalisasikan dengan konsisten.

“Art for Aids”

Denny Gerdiana (Berkacamata).

Denny Gerdiana selaku koordinator Art for AIDS katakan, Hari AIDS Sedunia 2017 juga menyuguhkan pesan-pesan edukasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat luas melalui seni lukis desain mural, seni pertunjukan musik, dan seni pertunjukan theater.

Seni lukis desain mural diaplikasi di atas lembar-lembar triplek menggunakan cat warna, oleh para pelukis mural di lokasi strategis Kota Garut, diiringi pertunjukan musik dan theater oleh seniman-seniman Kota Garut.

Art for AIDS ini, diharapkan bisa menarik minat masyarakat luas untuk lebih mengetahui, dan memahami informasi tentang HIV/AIDS secara benar, sehingga mampu mengikis stigma serta diskriminasi yang selama ini terjadi di masyarakat, lantaran minimnya informasi tentang HIV/AIDS yang diperoleh masyarakat, imbuh Denny Gerdiana.

******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.