Inilah Penyebab Belum Efektifnya Kebijakan/Program Intervensi Stunting

0
86 views
Kepala Dinkes garut membuka Pertemuan Advokasi.

Garut News ( Rabu, 02/05 – 2018 ).

Kepala Dinkes Garut Membuka Pertemuan Advokasi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Sri Sudartini, MPS menyatakan terdapat beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab belum efektifnya kebijakan, serta program Intervensi Stunting yang ada, dan telah dilakukan.

Terdiri, kebijakan dan regulasi terkait intervensi stunting belum secara maksimal dijadikan landasan bersama untuk menangani stunting, perangkat daerah melaksanakan program masing-masing tanpa koordinasi yang cukup.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Sri Sudartini, MPS Didampingi Kabid Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Garut, dr Janna Markus. Y

Kemudian program-program intervensi stunting yang telah direncanakan belum seluruhnya dilaksanakan, Program/intervensi yang ada (baik yang bersifat spesifik gizi maupun sensitif gizi) masih perlu ditingkatkan rancangannya, cakupannya, kualitasnya dan sasarannya. Serta program berbasis komunitas tidak berjalan maksimal ( posyandu, dasa wisma dll).

Sehingga direkomendasikan, komitmen dan visi dari pimpinan daerah, kampanye  nasional berfokus pada peningkatan pemahaman, perubahan perilaku, politik dan akuntabilitas, baik melalui media, komunikasi pada keluarga, dan advokasi berkelanjutan.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinkes Jawa Barat, Widyawati SKM, M.Kes Didampingi Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Garut, Yeti Heryati, SKM, MKM.

Juga konvergensi dan koordinasi program nasional, daerah maupun berbasis masyarakat. Baik lintas program maupun lintas sektor. Dan mendorong penetapan kebijakan “Food Nutrition security”, serta Pemantauan dan Evaluasi.

Demikian dikemukakan Sri Sudartini pada pertemuan advokasi “Pemberian Obat Pencegahan Massal” (POPM) kecacingan tingkat kabupaten di Cipanas Garut, Rabu (02/05-2018), diikuti 82 peserta meliputi 67 Kepala Puskesmas, Camat, serta institusi teknis terkait lainnya.

Peserta Advokasi.

Stunting, kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Kondisi ini disebabkan tak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. WHO menyatakan 20% kejadian stunting terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan.

Lantaran asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia dua tahun tak tercukupi. Entah itu tidak diberikan ASI eksklusif ataupun MPASI (makanan pendamping ASI), yang diberikan kurang mengandung zat gizi berkualitas.

Sedangkan masa penting bagi pencegahan stunting (masa 1,000 hari), menyusul
masalah stunting dimulai pada saat kehamilan apabila ibu mengalami defisiensi gizi yang disebabkan oleh intake gizi maternal yang buruk, ANC yang inadekuat dan kondisi sanitasi di bawah standar.

Sesudah usia dua tahun, efek stunting bersifat irreversible dan berdampak seumur hidup terhadap kemampuan kognitif, serta produktivitas individu.

INTERVENSI KESEHATAN DALAM PENANGGULANGAN STUNTING, berupa Intervensi Gizi Spesifik yakni Pemberian Tablet Tambah Darah untuk remaja putri, calon pengantin, ibu hamil (suplementasi besi folat), Promosi dan kampanye Tablet Tambah Darah Kelas Ibu Hamil.

Kemudian Pemberian kelambu berinsektisida dan pengobatan bagi ibu hamil yang positif malaria, Suplementasi vitamin A, Promosi ASI Eksklusif, Promosi Makanan Pendamping-ASI, Suplemen gizi mikro (Taburia), Suplemen gizi makro (PMT).

Promosi makanan berfortifikasi termasuk garam beryodium dan besi, Promosi dan kampanye gizi seimbang dan perubahan perilaku, Tata Laksana Gizi Kurang/Buruk, dan
Pemberian obat cacing Zinc untuk manajemen diare.

Intervensi Gizi Sensitif lingkup Kemenkes: Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Penyediaan air bersih dan sanitasi Pendidikan gizi masyarakat,  Imunisasi, Pengendalian penyakit Malaria, Pengendalian penyakit TB, Pengendalian penyakit HIV/AIDS.

Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja.
Jaminan Kesehatan Nasional, Jaminan Persalinan (Jampersal), Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS PK), Nusantara Sehat (Tenaga Ahli Gizi dan Tenaga Promosi Kesehatan, Tenaga Kesling), Akreditasi Puskesmas dan RS.

Diingatkan pula, Keluarga mempunyai peran penting dalam pemeliharaan kesehatan :
Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya, Mengambil  keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat, Memberikan perawatan kepada anggota  keluarga yang sakit.

Memertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarganya, serta  Memertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan fasilitas kesehatan.

“Pada 10 desa prioritas dengan delapan Puskesmas prioritas di Kabupaten Garut tahun 2017, ada 87 gizi buruk, 5.621 Bumil Anemia, 3.296 Bumi KEK, 460 Balita Kurus, 43,2 Pravalensi Stunting, 51 Kematian Ibu, serta 286 Kematian Bayi”

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinkes Provinsi Jawa Barat, Widyawati SKM, M.Kes juga detail mempresentasikan Kebijakan Pengendalian Kecacingan Untuk Percepatan Penanggulangan Stunting di Jawa Barat.

Secara rinci antara lain dikemukakan kerangka konsep penurunan stunting, masalah cacingan, siklus cacingan, gejala umum pendedrita cacingan, serta dampak cacingan.

Pada rangkaian helatan tersebut, di antaranya disepakati pula semua sektor melaksanakan dan mendukung upaya penanggulangan stunting di Kabupaten Garut.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr H. Tenni Sewara Rifa’i, M. Kes antara lain menyerukan agar memerbanyak mengonsumsi buah – buahan dan sayuran.

Sekaligus memanfaatkan tanah kosong pada setiap Puskesmas untuk bertanam buah – buahan, imbuhnya.

********

Esay/ Fotografer : John Doddy Hidayat.