Inilah Kesenjangan Kaya-Miskin Penduduk Kabupaten Garut

1
160 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 07/01 – 2016 ).

Ilustrasi. Kesenjangan Sosial.
Ilustrasi. Kesenjangan Sosial.

Data bersumber BPS Kabupaten Garut menunjukan, Gini Ratio maupun indek kesenjangan pendapatan masyarakat (perbedaan kaya-miskin) di Kabupaten Garut pada akhir 2014 mencapai 0,330.

Atawa meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, bertengger pada angka 0,309.

Gini ratio atau koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan alias ketimpangan ekonomi di sebuah negara. Koefisien itu terentang dari angka 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna). Semakin besar angka Gini, semakin menganga kesenjangan ekonomi di sebuah negara.

Mengais Sampah.
Mengais Sampah.

Sehingga sejak pada pengujung 2015 ini, pemerintah harus menaruh perhatian penuh pada isu kesenjangan ekonomi. Hasil penelitian Bank Dunia yang dirilis menunjukkan, dalam hal perbedaan kaya-miskin, negeri ini sudah harus ekstrawaspada.

Badan dunia itu mencatat, koefisien Gini Indonesia selama tiga tahun (2011-2014) menganga pada angka 0,41. Pada tahun 2000, Gini ratio itu mampu bertahan pada angka 0,30.

Dengan koefisien 0,41, posisi Indonesia sejajar dengan Uganda, bahkan lebih buruk ketimbang India.

Sedangkan gini ratio Provinsi Jawa Barat, pada rentang waktu 2013 dan 2014 masing-masing dengan angka 0,40.

Pekerja Keras Garut.
Pekerja Keras Garut.

Kepala Seksi statistik Distribusi pada BPS kabupaten setempat, Mahdar Saleh, S.Si kepada Garut News, Kamis (07/01-2016) antara lain katakan, kondisi gini ratio tersebut erat kaitannya dengan “Laju Pertumbuhan Ekonomi” (LPE) di kabupatennya.

Sebelumnya Garut News, Rabu, 18/11 – 2015, memberitakan kondisi LPE 2014 berkondisi 4,81 atawa melorot 0,14 digit dibandingkan LPE 2011 bisa bertengger pada 4,95.

Sebelumnya LPE 2012 berkondisi 4,07 serta LPE 2013 bertengger pada 4,76.

Kemudian lima tahun terakhir atawa sejak rentang waktu akhir 2010 hingga akhir 2014, kondisi “Indek Pembangunan Manusia” (IPM) Kabupaten Garut hanya mengalami peningkatan dua digit. Dari 60,23 menjadi 62,23.

Sedangkan IPM 2013 bertengger pada 61,67 kemudian meningkat 0,56 digit pada 2014 dengan IPM 62,23 namun justru menjadikan kabupaten ini ada pada peringkat ke-26 dari 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.

Muhdar
Muhdar Saleh.

Sebelumnya pula IPM 2011 berkondisi 60,55 serta pada 2012 bertengger dengan IPM 61,04 sebagaimana diungkapkan Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS kabupaten setempat, Ganjar.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, dikatakan “Angka Harapan Hidup” (AHH) maupun indek kesehatan Kabupaten Garut 2014 berkondisi 70,49 meningkat 0,02 digit dibandingkan 2013 dengan AHH 70,47.

Kemudian “Mean Year of Schooling” (MYS) atawa rata-rata lama sekolah (indek pendidikan) 2014 Garut 6,83 atawa meningkat 0,03 digit dibandingkan MYS 2013 berkondisi 6,80.

Disusul pengeluaran maupun daya beli 2014 berkondisi 6,372 atau meningkat 0,017 dibandingkan tahun sebelumnya 6,355.

Selanjutnya “Expected Year of Schooling” (EYS) maupun harapan lama sekolah 2014 berkondisi 11,62 tahun meningkat 0,45 digit dibandingkan 2013 berkondisi 11,17 tahun.

********

Pelbagai Sumber.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here