Inilah Ancaman Serius Macan Tutul

Garut News ( Sabtu, 22/02 – 2014 ).

Anak macan Tutul yang Lahir di Taman satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Anak macan Tutul yang Lahir di Taman satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Macan tutul di dunia terdapat sembilan subspesies, salah satunya Panthera pardus melas hanya terdapat di Pulau Jawa, dan beberapa pulau di sekitarnya, seperti Kangean, Nusa Kambangan, dan Pulau Sempu.

Macan tutul jawa semakin semakin terancam, ditunjukkan status diberikan IUCN, padahal dilindungi sejak 1970, berdasar SK Menteri Perhutanan.

Salah satu keunikan macan tutul jawa, melanisme.

Macan tutul di daerah lain langka terjadi melanisme, berupa penghitaman.

Pigmen hitamnya menjadi dominan, sehingga banyak ditemukan macan kumbang di Jawa.

Ini belum diriset.

Induk macan Pasca Melahirkan di taman Satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Induk macan Pasca Melahirkan di taman Satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ada menduga ini proses adaptasi dari hutan tropis, mencari mangsa sebagai penyamaran, tetapi belum diketahui pasti.

Asumsinya, kemungkinan di Jawa Barat lebih banyak macan kumbang daripada di Jawa Tengah lantaran merupakan proses adaptasi mereka dari hutan tropis.

Demikian dikemukakan Hendra Gunawan pada Konfrensi Nasional Macan Tutul Jawa
(Panthera pardus melas), di Taman Safari Cisarua, Bogor, akhir Januari lalu.

Dikemukakan, macan tutul mendapat ancaman utama dari kehilangan habitat (degradasi habitat, penurunan kualitas habitat, dan tak terasa fragmentasi habitat), katanya.

Ketiga sektor itu menyebabkan habitatnya menjadi tak sesuai, populasi menurun, sehingga menjadi punah lokal.

Bahkan beberapa ada terisolasi.

Macan tutul jawa ini kata dia, posisinya penganti Harimau Jawa sebagai spesies kunci di ekosistem Jawa.

Pada sisi lain, data tentang macan Tutul Jawa ini masih sangat kurang, sehingga upaya konservasi masih mengalami kesulitan.

Karena itu, ke depan masih perlu banyak diteliti.

Berikut beberapa lintasan Macan Tutul Jawa dari hasil penelitiannya.

Bapak Dua Anak macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Bapak Dua Anak macan Tutul di Taman Satwa Cikembulan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Macan tutul di Jawa menghuni hampir semua hutan, hutan alam maupun hutan tanaman.

Tetapi hasil penelitian itu, terdapat kencenderungan mereka menyukai hutan tertentu, misalnya di Jawa, lebih menyukai hutan alam, hutan tropis pegunungan.

Di Jawa Tengah hutan tropis dataran rendah.

Sedangkan satwa mangsa, mereka memangsa apa saja.

Pernah menemukan mereka memangsa landak di daerah Carita.

Semua bisa dia makan, dia makan. Umumnya primata.

Ternyata keragaman satwa tak memengaruhi keberadaan mereka, katanya pula.

Iklim merupakan parameter terpenting dari habitat macan tutul, terbukti dari uji statistik.

Terdapat korelasi antara macan tutul dengan iklim tertentu.

Status fungsi hutan juga terdapat korelasinya.

Seabnyak 79% macan tutul ada di hutan produksi.

Ini ancaman bagi kita. Perlu mendapat perhatian, imbuh Hendra Gunawan.

Provinsi Jawa Barat masih beruntung, lantaran lebih banyak hutan konservasi daripada hutan produksi, sehingga statusnya masih aman.

Topografi juga ada korelasinya swebab macan tutul ternyata menyukai daerah terjal, curam, lantaran di lokasi ini tak ada manusia, dan terbukti juga macan tutul mengalami kepunahan lokal berada di daerah datar sebab diambil alih manusia, dijadikan ladang dan kebun.

Ketinggian tempat pun, ada korelasinya.

Macan tutul menyukai tempat tinggi karena populasi penduduknya lebih kecil.

Mereka berkumpul di dataran rendah, sehingga sekarang tersisa di daerah gunung-gunung, Gunung Slamet, Sindoro, di Jawa Tengah.

Hampir semua gunung di Jawa Barat terdapat macan tutulnya.

Frekuensi habitat.

Sebenarnya macan tutul berada di satu tempat ini ngacak atawa memilih?

Ternyata matul memilih tempat.

Macan tutul memilih hutan dataran rendah daripada hutan campuran.

Mereka memilih lereng.

Ketinggian tempat di atas 1.000 mdpl lebih disukai.

Ini teruji secara statistik.

Dia memilih bukan lantaran terpaksa atawa karena tak ada tempat lain.

Tempat lain itu ada, hanya saja mereka memilih.

Kerawanan habitat ini penting.

Untuk memanajemen populasi, kita kudu mengetahui kondisi kerawanan tersebut.

Kerawanan saya dekati dari kemungkinan terhadap gangguan manusia.

Karena itu kerawanan habitat model spasialnya menggunakan topografi ketinggian tempat dan status fungsi.

Dengan pembobotan, di Jawa Tengah 44% habitat memiliki kerawanan tinggi, artinya tak aman.

Sementara di Jawa Barat, 15% habitat rawan.

Ini logis juga karena 80% hutan di Jawa Tengah hutan produksi setiap saat bisa ditebang habis.

Kemudian peta kerawanan. Dengan pengetahuan ini bisa melakukan pemetaan manajemen, di habitat rawan kita kudu berbuat apa dan di habitat aman kita harus berbuat apa.

Inilah pentingnya melakukan penelitian.

Di Jawa Barat, masih cukup banyak habitat aman dibandingkan rawan.

Kesesuaian habitat. Model kesesuaian habitat dipakai di mana-mana.

Di Amerika, hampir semua satwa menggunakan model kesesuaian habitat.

Dengan model kesesuaian habitat itu, kita bisa melakukan upaya konservasi apa.

Saya mencoba membuat model kesesuaian habitat macan tutul di Jawa Tengah.

Jawa Barat belum dibuat karena data belum lengkap.

Data sulit dibuat membuat klasifikasi mangsa.

Kalau yang lain bisa menggunakan data spasial yang ada.

Klasifikasi mangsa, kita kudu mengecek satu per satu ke lapangan, itu sulit.

Di Jawa Tengah ternyata ada 15% kantong habitat sesuai dan aman, 32% sesuai, tetapi tak aman, 10% kesesuaian tinggi dan aman.

Sebagian besar sesuai, tetapi tak aman.

Status populasi. Macan Tutul Jawa tersebar pada hampir seluruh Pulau Jawa.

Umumnya tersebar di gunung-gunung dan beberapa gunung besar merupakan mainland island atawa sumber kolonisasi populasi-populasi di sekitarnya.

Umumnya, hutan-hutan konservasi habitat inti dari macan tutul, sementara hutan lain di sekitarnya hanya habitat pendukung.

Kelestarian populasi macan Tutul Jawa tergantung mainland island ini.

Dimaksud mainland island adalah populasi besar, sebagai sumber kolonisasi populasi di sekitarnya.

Misalkan di Jawa Barat Gunung Salak, Gunung Gede itu mainlandnya.

Sedangkan di Jawa Tengah terdapat Gunung Slamet menjadi mainlandnya.

Dari Gunung Slamet menyebar ke mana-mana.

Fragmentasi. Dalam manajemen populasi, fragmentasi menjadi masalah penting sebab fragmentasi sangat berat di Pulau Jawa ini.

Sebagai contoh hutan alam di Jawa Tengah dari 1990-2006, 88%-nya hilang.

Nanti ada parameter-parameternya.

Kantong-kantong habitatnya menurun jumlahnya.

Di Jawa Barat masih relatif lebih ringan.

Sebagai contoh, hutan lahan kering sekunder dari 123 fragmen menjadi 86 fragmen kantong-kantong habitat.

Hutan primernya dari 23 fragmen menjadi 18 fragmen.

Jadi memang terdapat penurunan.

Nah, ini parameter-parameter fragmentasi bisa kita gunakan untuk memanajemen populasi.

Kelihatan sekali, dari luasannya menurun, dari jumlah kantong habitatnya juga menurun.

Sementara total age-nya itu, kita tahu di manajemen populasi ada istilah age effect, effectably, semakin tinggi age-nya, effectably-nya makin banyak.

Itu semakin mengancam kelestarian satwa-satwa, khususnya satwa interior atawa satwa tak suka di daerah pinggiran.

Seperti macan tutul ini kan tak suka di daerah pinggiran.

Beda dengan monyet ekor panjang.

Ini gambaran klasifikasi di Jawa.

Kemudian metapopulasi. Ada empat tipe metapopulasi: tipe classic, mainland island, neo equilibirum (populasi terpencar, tapi tak saling terhubungkan), patchy population.

Saya membuat tipe-tipe metapopulasi di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Ini contoh patchy population di Jawa Barat, daerah Kuningan.

Patchy population ini tak terlalu mengkhawatirkan karena masing-masing populasi masih bisa terhubung.

Masih bisa kawin dengan populasi di sekitarnya.

Mengkhawatirkan neo equilibirum, populasi terpencar, apalagi jika terisolasi.

Dia tak bisa kawin dengan tetangganya, akhirnya lama-lama punah juga akibat inbreeding.

Tipe classic, masih bisa berhubungan, tetapi ada penghalang sangat sulit dilewati, tetapi ada beberapa bisa melewati.

Yang mainland island. Populasi di Gunung Gede mengolonisasi populasi di sekitarnya.

Jadi selama sumbernya masih ada kosong, bisa diisi lagi selama ada koridor.

Itulah maka, koridor Halimun Salak.

Contoh di Jateng, neo equilibirum, lebih banyak.

Ada Gunung Muria dan beberapa gunung lainnya, membuat macan tutul Jawa bisa punah dengan sendirinya akibat inbreeding.

Mainland island, Gunung Slamet mengolonisasi populasi di sekitarnya.

Ada yang ke daerah Majenang, Pemalang, Dieng.

Gunung Muria juga sebenarnya dulu mainland island, tetapi terpotong pemukiman sekitarnya, maka ketika ada macan tutul Gunung Muria mau mengolonisasi ke Gunung Cendering, singgah dulu di kamar mandi.

Ini dulu ada beritanya di TV.

Jadi kemungkinan dia bukan keluar untuk makan di sana, dia mengolonisasi.

Tetapi karena ada pemukiman, akhirnya dia masuk ke pemukiman.

Risiko punah. Baru menganalisis risiko kepunahan di Jawa Tengah, Jawa Barat saya belum punya.

Jawa Tengah memiliki risiko punah tinggi, 17% dari populasi yang ada.

Saya buat peta risiko kepunahan. Populasi-populasi saya gambar merah, peluang tinggi punah secara lokal dalam waktu dekat.

Yang kuning sedang, hijau rendah.

Cara seperti ini memermudah kita mengetahui apa kudu dilakukan terhadap populasi di daerah sini, ancamannya tinggi.

Ini sangat berguna untuk pihak manajemen mengolah populasi di alam.

Jawa Barat, kecil sekali tak terlalu kelihatan.

Kemudian konflik. Jika kita melihat ada kecenderungan meningkat dari 2001-2013.

Apabila kita lihat per bulannya tak ada pola.

Misalkan kalau kemarau tinggi, kalau musim hujan rendah.

Ternyata tidak. Terpola. Kita lihat lokasinya, di Ciamis paling banyak.

Ada beberapa hal penting perlu kita ketahui. Pertama tak terkait musim.

Macan tutul keluar umumnya tubuhnya tak kurus, melainkan kekar, kuat.

Usianya muda antara 2,5-3 tahun.

Semuanya jantan, tak ada betina.

Beberapa tak makan ternak, hanya keluar.

Terjebak di kandang ayam, terjebak di kamar mandi, tetapi tak makan.

Sehingga diagnosanya itu antara lain, dia keluar dari habitatnya karena teritorial.

Ketika macan tutul jantan baru disapih induknya, dia kudu mencari teritori sendiri.

Di luar teritori bapaknya.

Kalau dia bisa mengalahkan bapaknya, bapaknya kudu keluar.

Tapi dia kalah, dia keluar mencari teritori baru.

Perkiraan saya itu, macan tutul jantan memerlukan lahan seluas 600 hektare.

Ketika hutan hanya 2000 hektare, hanya bisa menampung beberapa jantan.

Sisanya harus keluar.

Namun ini juga jadi indikasi baik, banyaknya macan tutul jantan keluar artinya reproduksi bagus, hanya tempat kurang.

Daya dukung. Kasus paling banyak terjadi di Ciamis, di suaka margasatwa Gunung Salak.

Kita lihat sekitar Gunung Salak itu seperti apa.

Sekitar Gunung Salak menjadi kebun kopi, dibabat habis.

Gunung Salak itu tak mampu tanpa dukungan Perhutani sekitarnya.

Hutan-hutan di sekitarnya menjadi kebun kopi.

Ada juga mengikuti mangsanya.

Ternyata kebun penduduk lebih bagus daripada kebun kopi.

Jadi satwa mangsanya lari ke sana.

Kijang, monyet lari ke kebun penduduk.

Macan tutul mengikuti mangsanya, tetapi ternyata di sana ada kambing dan lebih seksi.

Sehingga indikasinya jelas, ada manajemen habitat, manajemen populasi, dan manajemen konflik.

Dan ini nanti kita tindaklanjuti di FGD.

Inilah ancaman matul kita sekarang.

Ada kehilangan habitat, degradasi, fragmentasi, perburuan, dan konflik, demikian dipresentasikan Hendra Gunawan.

*****
John.

Related posts