Infrastruktur Wisata Garut “Jeblok” Tetapi Wisatawan “Diperas”

Garut News ( Ahad, 03/08 – 2014 ).

Banyak Pula Lintasan Jalan Rawan Longsor. (Foto: John Doddy Hidayat).
Banyak Pula Titik Lokasi Lintasan Jalan Rawan Longsor. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selain “jeblok” nya kondisi infrastruktur jalan, sejumlah wisatawan juga mengeluh bahkan sangat menyesalkan, lantaran terlalu banyak “pungutan liar” (pungli) pada kawasan objek wisata di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Padahal objek wisatanya sangat menakjubkan, punya nilai jual bagus. Tetapi terlalu banyak pungli. Misalnya sewaktu parkir mobil, kita dipungut tarif parkir seenaknya tanpa diberi karcis. Sekali parkir Rp10.000. Itu pun tempat parkirnya cari sendiri,” keluh Hanif(35), pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas asal Serang Provinsi Banten, Ahad (03/08-2014).

Bau Belerang Menyengat, Tak Tersedia Sarana Pos Kesehatan Jika Terdapat Pengunjung Pingsan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Bau Belerang Menyengat, Tak Tersedia Sarana Pos Kesehatan Jika Terdapat Pengunjung Pingsan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selain itu, sewaktu membayar tiket masuk di portal pintu masuk kawasan wisata, meski semua penumpang dihitung dan bayar, bukti karcisnya hanya diberi satu lembar.

Sehingga hitung-hitungan pembayaran pun terkesan sembarangan.

“Kita rombongan bertujuh, tetapi bayarnya Rp75 ribu, seharusnya Rp52.500. Satu orang kan bayar Rp7.500. Kita juga bayar karcis masuk mobil, namun bukti pembayaran diterima malahan karcis masuk sepeda motor,” katanya.

kekecewaan senada dikemukakan Asti(34), wisatawan asal Depok.

Dia katakan, tak hanya merebak-maraknya pungli, akses kondisi jalan menuju kawasan sangat sempit, jika berpapasan dengan kendaraan lain kudu sangat mepet ke pinggir.

Padahal pada sejumlah titik lokasi terdapat jurang curam serta dalam.

“Mestinya pada beberapa titik lokasi dibuat areal parkir sementara agar kendaraan dari dua arah tak bentrok,” imbuh Asti.

Bahkan tak kurang mengecewakan, ungkapnya pula, di kawasan wisatanya sendiri nyaris tak terdapat rambu atawa papan petunjuk/informasi.

Misalnya, objek apa saja bisa dikunjungi dan dinikmati pengunjung di sana, ke mana kudu berjalan, serta berapa jauh jarak tempuhnya.

“Jadinya kami ke sana cuma lihat kawah saja. Padahal setelah saya turun dan tanya saudara pernah ke Talaga Bodas, ternyata di sana juga ada bak rendam, kamar ganti, dan mushala, serta objek lain bisa dinikmati. Waktu saya tanya ke orang-orang di sana, tak ada mengarahkan,” ujar manajer sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu, kecewa berat.

Merebak-maraknya pungli dikeluhkan pula wisatawan di pantai Santolo.

Malahan penduduk setempat berdagang di sana pun mengeluhkan mesti membayar hingga Rp10 ribu setiap hari pada oknum tertentu.

Pengunjung asal Garut, Yayan katakan, ongkos parkir di lokasi cukup mahal, mencapai Rp10.000 per mobil.

Tak hanya itu, wisatawan diwajibkan beli air mineral berharga mahal.

“Kita dipaksa beli air mineral ukuran 600 ml seharga Rp10 ribu per botol. Daripada ribut dan merusak kendaraan, ya kita beli. Anehnya, semua pungli ini disaksikan sendiri petugas resmi atawa aparat kepolisian, dan TNI  di sana. Ironis mereka diam saja,” katanya pula.

Terkait keluhan pengunjung pada TWA Talaga Bodas, Kepala Seksi Wilayah V BKSDA, Teguh Setiawan katakan, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat sebab kewenangan BKSDA ada di TWA-nya.

Sedangkan infrastruktur merupakan kewenangan pemerintah daerah, kata dia, berkelit.

“Tapi terima kasih atas masukannya. Itu kita jadikan rekomedasi perbaikan ke depan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten setempat, Mlenik Maumeriadi mengakui banyak keluhan pungli pada objek wisata.

Namun dia membantah keras, pihakya berpangku tangan atas persoalan tersebut.

“Kita berupaya melakukan penertiban, dengan pelan-pelan. Kita tak ingin ada konflik horizontal di lapangan. Tentu kita juga prioritaskan mana dulu kudu ditertibkan, sebab setiap objek wisata beda permasalahannya,” kata Mlenik, berkilah.

******

Noel, Jdh.

Related posts