Industri Rumahan Dodol Garut Terimbas Gejolak “Gusir”

0
284 views

“Banyak Diharapkan Operasi Pasar ‘Gusir’, Akhiri Gejolak Harga Jelang Puasa Hingga Lebaran”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 14/05 – 2016 ).

Ny. Dedah Jubaedah.
Ny. Dedah Jubaedah.

Denyut nadi produktivitas nyaris seluruh industri rumahan Dodol Garut di kabupaten setempat, hingga menjelang dua pekan terakhir masih “terimbas” bergejolaknya dampak kenaikan harga “gula pasir” atawa Gusir.

Sehingga terdapat sejumlah sentra industri terpaksa sempat mengurangi produk komoditi yang menjadi “ikon” Garut tersebut, lantaran masih bingung jika mendadak sontak menaikan harga mata dagangan produktivitasnya itu.

“Kami tak bisa langsung ‘semena-mena’ menyesuaikan harga jual pada para konsumen, pak !. Kendati tiba-tiba terjadi kenaikan harga komoditi salah satu bahan baku utama ini,” ungkap sejumlah pemilik industri rumahan Dodol kepada Garut News, Sabtu (14/05-2016).

Cukup Banyak Menyerap tenaga Kerja Lokal.
Cukup Banyak Menyerap tenaga Kerja Lokal.

Ungkapan senada juga dikemukakan produsen Dodol Garut “Jubaedah”, Ny. Dedah Jubaedah yang hingga kini sangat merasakan “pukulan telak” kenaikan harga gusir menjadi Rp15 ribu per kilogram, padahal dalam kondisi normal bisa diperoleh dengan harga Rp10.500 per kilogram.

Dia sangat mengharapkan segera kembali normalnya harga Gusir, agar sedikitnya 25 karyawannya bisa senantiasa setiap hari berproduktivitas, mereka itu umumnya dari kalangan sosial ekonomi menengah ke bawah, yang kini terdesak kebutuhan keuangan keluarga menghadapi Puasa Ramadhan hingga Lebaran Idul Fitri 1437 H ini.

Kembali normalnya harga Gusir, dipastikan bisa membantu kelancaran produktivitas industri rumahan Dodol Garut, sebab dengan kenaikan harga mata dagangan tersebut kini juga semakin diperparah terjadinya kenaikan harga beras ketan hitam pada kisaran Rp2.000 per kilogram.

Terus Meningkatkan Kualitas Produktivitas.
Terus Meningkatkan Kualitas Produktivitas.

Bahkan sejak beberapa hari lalu, harga gula merah asal kawasan Selatan Garut yang diperoleh para pedagang pengumpulnya menjadi Rp16 ribu per kilogram, dari semula kalangan produsen gula merah melempar komoditinya dengan harga Rp12 ribu per kilogram.

Terjadinya kenaikan harga gusir, beras ketan hitam, serta gula merah itu, dipastikan penjualan di tingkat pengecer bisa lebih tinggi lagi harganya.

“Karena itu, sangat diharapkan ada upaya “kebijakan” dari institusi teknis terkait bisa mengendalikan harga, termasuk jika memungkinkan dapat segera antara lain menyelenggarakan operasi pasar Gusir,” imbuh Ny. Jubaedah.

Dalam pada itu pula, dari sekitar 400 unit industri rumahan dodol. Sekitar 50 persen di antaranya sempat berhenti berproduksi

Produk Angleng Berkualitas.
Produk Angleng Berkualitas.

Selama ini tersebar pada sentra industri dodol di Kecamatan Cilawu, Bayongbong, Karangpawitan, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, dan Kecamatan Kadungora.

Malahan, tak hanya industri rumahan dodol yang “telak” terpukul kenaikan harga Gusir, sejumlah usaha kerajinan kuliner lain menggunakan bahan baku mata dagangan tersebut, juga terimbas dampak kenaikan harga. Antara lain usaha kerajinan manisan.

Kelangkaan harga gula terjadi akibat kosongnya stok gula pasir dari daerah sentra industri Cirebon. Sedangkan gula pasir didatangkan dari Lampung guna menutupi kekosongan di Garut menelan waktu lama di perjalanan.

Daerah pemasok gula pasir Cirebon kini belum masuk musim panen. Sedangkan gula pasir didatangkan dari Lampung, perjalanannya menghabiskan waktu selama sepekan menggunakan kapal laut. Sehingga, harganya lebih mahal.

aa365Menyusul harga Gusir menjadi bergejolak menjadi sekitar Rp15.000 per kilogram di tingkat distributor, dan sekitar Rp18.000 per kilogram (kg) di tingkat pengecer.

Jika sekarang, perajin dodol mulai berproduksi lagi, namun dengan solusi harga dodol sangat terpaksa dinaikkan. Harga Dodol Garut kemasan biasanya Rp15.000 per kilogram pun menjadi sekitar Rp18.000 per kilogram.

Kebutuhan Kabupaten Garut terhadap gula pasir, mencapai 20 ton per hari. Gula pasir tersebut terutama didatangkan dari daerah Cirebon, ditambah dari Lampung.

Padahal selama ini produktivitas Dodol Garut “Jubaedah”, senantiasa merealisasikan komitmennya memertahankan, sekaligus terus meningkatkan kualitas kuliner berbasis kearifan lokal.

Sehingga setiap seluruh rangkaian produksinya pun, umumnya dilaksanakan secara manual, yang juga sangat bermanfaat sebab bisa menyerap tenaga kerja penduduk setempat.

Borondong.
Borondong.

Produk kuliner warisan turun-temurun tersebut, selama ini pula senantiasa mendapat sentuhan kreativitas beragam inovasi, semata-mata guna memanjakan pemenuhan selera kalangan konsumen, termasuk pula sebagai upaya nyata bisa tampil prima berdaya saing dengan produk kuliner asal luar negeri.

Selama ini pun memerkerjakan 25 karyawan sehingga bisa menghidupi sekurangnya 125 anggota keluarga mereka.

Meski berbasiskan kreativitas – inovasi industri rumah tangga, namun beragam keunggulan produk Dodol Garut “Jubaedah”, dinilai bisa menunjang bahkan mengangkat “destinasi” potensi wisata kuliner lokal di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sebelumnya orangtua Dedah Jubaedah selama 20 tahun lebih, antara lain memproduksi angleng, dodol juga borondong.

Kemudian anak bungsu dari enam bersaudara ini, tak menyia-nyiakan tantangan menghadapi kian ketatnya daya saing yang diwariskan orangtuanya itu, bahkan Dedah Jubaedah sekeluarga memiliki komitmen kuat, “mewujudkan tantangan menjadi ragam peluang”.

aa368Kepada Garut News, dia katakan sekurangnya kini memproduk 16 jenis dodol, juga angleng serta borondong, setiap jenis produktivitasnya berbasiskan pula kearifan lokal kreativitas warisan turun-temurun dari orangtuanya.

Sehingga sejak beberapa tahun terakhir, rata-rata omset pemasaran produk dodolnya mencapai 24 ton setiap bulan.

Di antaranya memenuhi pangsa pasar kawasan Garut Utara dan Wilayah Garut Tengah, juga ke luar Pulau Jawa, antara lain Lampung dan Kalimantan.

Sebanyak 16 jenis produk Dodol Garut “Jubaedah”, terdiri Dodol Garut Wijen, Dodol Kombinasi, Dodol Sebra, Dodol Kacang Merah, Dodol Kacang Ijo, Dodol Ketan Hitam, Angleng Ketan Hitam, Dodol Buah Melon, Dodol Buah Nenas, Dodol Buah Arben, Dodol Sirsak, Kerak Dodol, Parsel Mini Buah, Dodol Pisang, Dodol Chocolate, serta Dodol Kurma.

Terdapat pula Dodol Kentang, serta Kismis, ungkapnya.

Setiap seluruh produktivitasnya tersebut, diproses secara manual dengan lima tenaga inti didukung 20 tenaga kerja lainnya.

Sama sekali tak memanfaatkan bahan kimia, atawa benar-benar “zero emition”, namun beragam jenis Dodol Garut “Jubaedah” bisa bertahan selama satu bulan. Menyusul produk borondong serta angleng bisa bertahan selama dua pekan.

aa369Tetapi juga tak terbatas pada 16 jenis produk, jika terdapat pesanan khusus bisa memproduk jenis lainnya, lantaran setiap seluruh tenaga kerjanya memiliki “soliditas” tinggi.

“Mereka kami anggap keluarga sendiri, bekerja setiap hari mulai pukul 06.00 hingga pukul 16.00 WIB, jika terdapat penambahan waktu dipastikan mendapatkan upah lembur,” ungkapnya pula.

Produk PD. Citra Rasa dan PD. Jubaedah (0262 – 2244898) ini, beralamat di Jalan Cicurug Nomor. 2 Kelurahan Suci Kaler (Suci) Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jawa Barat.

Dalam pada itu, nilai jual setiap jenis produknya berkisar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, diproses secara manual berbahan bakar kayu agar bisa dipertahankan keasliannya.

Serta dijamin halal.

Dikemukakan Dedah Jubaedah, berobsesi menjadikannnya industri berskala besar, menyusul tersedianya lahan milik masih kosong seluas 1.400 m2.

Target bisa meraih obsesi ini pada satu hingga dua tahun mendatang dapat terwujud, sehingga diharapkan pula adanya kepedulian Pemkab setempat, sebab selama ini pun tak pernah mendapatkan pasokan bantuan atawa pinjaman lunak.

Utamakan Kualitas Setiap Seluruh Produktivitas.
Utamakan Kualitas Setiap Seluruh Produktivitas.

Meski diakuinya pernah mendapatkan bantuan daya dukung kemasan produk, termasuk pelatihan selama tiga hari dari Disperindagpas kabupaten setempat, disampaikan penghargaan, terimakasih dan apreasiasi positip pada Kepala Disperindagpas beserta seluruh jajarannya.

Mereka sekeluarga mengembangkan kegiatan industri rumah tangga tersebut, mulai dari titik nol kilometer, antara lain diawali mengantar sendiri produk borondong dan angleng ke setiap warung.

Seluruhnya berproses panjang dan melelahkan, atawa tidak ujug-ujug.

Mereka pun tetap optimis, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, didukung do’a dan tawakal pada Allah SWT, bisa mewujudkan keberhasilan, imbuhnya.

Amien.

********

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here