Indonesia tanpa Tawa

– Bandung Mawardi, Penulis

Jakarta, Garut News ( Kamis, 06/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Bungkam. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Bungkam. (Foto: John Doddy Hidayat).
Hari-hari menjelang 9 April 2014, orang-orang di jagat politik Indonesia mengalami ketegangan, frustrasi, dan depresi.

Situasi politik muram dan serius, menjelaskan ada gejala-gejala “sakit” dan “sengsara”.

Berpolitik dipahami mengkonstruksi negara-bangsa dengan kesantunan, formalitas, ketertiban, dan kepatuhan.

Politik hampir diserupakan dengan ibadah, menggunakan tata cara ketat dan berdalil “kewajiban”.

Bahasa dan aksi politik di Indonesia semakin mengelak dari tawa atau penghiburan.

Urusan itu diserahkan ke artis-artis di pelbagai acara tak bermutu di televisi.

Situasi di televisi tak bakal bisa memberi kontribusi guna mengubah politik di Indonesia agar bergelimang tawa, tapi beradab dan manusiawi.

Politik tetap merupakan salinan dari halaman-halaman kepustakaan: resmi dan kaku.

Kelik M. Nugroho (Koran Tempo, 6 Januari 2013) menganggap politik memerlukan humor.

Apakah makna humor bagi politik?

Humor politik diakui bernilai ketimbang pesan-pesan politik secara langsung atau vulgar.

Berpolitik tanpa tawa bisa membuat Indonesia merana sepanjang masa.

Ingat humor politik, ingat Gus Dur.

Dulu, Gus Dur adalah kolumnis, intelektual, dan ulama dengan selera humor.

Omongan tentang politik, ekonomi, pendidikan, seni, dan agama yang sering mengandung sindiran dan kritik, disampaikan dengan humor.

Gus Dur, saat menjadi presiden, tak melupakan humor politik.

Kita pun jadi “terhibur” meski mengalami dilema dan polemik politik.

Gus Dur jadi representasi tandingan dari “politik-resmi” dan “politik-tertib”.

Ingat, Gus Dur pernah membuat pengantar untuk penerbitan buku Mati Ketawa ala Rusia.

Peran itu justru berbalik ke Gus Dur.

Orang-orang pun membuat sebutan: “mati ketawa ala Gus Dur”.

Warisan terbesar Gus Dur adalah humor politik?

Siapa menjadi ahli waris?

Sejarah kekuasaan pada masa Orde Baru pernah bernuansa humor oleh omongan dan ulah Gus Dur.

Masa itu berlalu.

Sekarang, penguasa sulit merangsang tawa dan penghiburan, memilih pamer pidato serius, lagu, dan puisi.

Para politikus juga sering pamer omongan klise, berlagak menampilkan diri secara cerdas dan berwibawa.

Para pimpinan partai politik sibuk muncul di iklan-iklan politik, menebar pesan tanpa tawa.

Kehidupan berpolitik, sejak keruntuhan Orde Baru, mengalami “kesengsaraan”.

Politik tanpa tawa tentu tak mencerdaskan.

Ingat Orde Baru, ingat majalah-majalah humor pada masa lalu.

Hidup pada masa Orde Baru dengan penguasa sangar tetap bisa dinikmati dengan tawa sepanjang hari.

Sekarang, koran dan majalah selalu berisi berita-berita panas dan menggugah emosi.

Kita jarang menemukan ada ajakan menghibur diri dalam situasi politik tegang.

Tawa hampir hilang.

Tahun 2014 bakal menjadi “tahun politik membosankan” jika tak ada humor.

Bahasa dan aksi politik selalu bernalar picisan, abai penghiburan cerdas.

Kita tentu mengerti bahwa partai politik tak membuat acara pembekalan caleg dengan materi humor.

Mereka memilih membuat paket-paket acara politik, menghadirkan pakar dan konsultan politik.

Para capres juga tak berkehendak menghibur publik.

Mereka memilih menampilkan keperlentean, kewibawaan, dan kegagahan.

Kita merasa salah zaman, merindu masa lalu saat humor adalah ekspresi berpolitik, mengandung kebajikan dan hiburan.

Oh Indonesia, negeri serius tanpa tawa.
*****

Artikel/Kolom Tempo.co

Related posts

Leave a Comment