Imlek dan Transformasi Kebangsaan

by

Achmad Fauzi,
Aktivis Multikulturalisme

Garut News ( Kamis, 30/01 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Resolusi esensial perayaan Tahun Baru Imlek 2565 berharap memiliki sumbangsih besar bagi terciptanya kedamaian dan persatuan.

Terlebih perayaan sakral itu lekat dengan terjadinya pembauran masyarakat lintas kultural sehingga menjadi modal sosial dan katarsis kohesi.

Persoalan kebangsaan menjadi penting untuk diusung sebagai isu strategis, karena kekerasan telah mengalami sofistikasi budaya dan melunturkan kemilau Indonesia sebagai negara yang menjunjung demokrasi multikultural.

Imlek sejatinya memiliki magnet sentripetal.

Lazimnya perayaan religi yang diperingati secara komunal, dalam perayaan Imlek juga dihelat festival akbar yang melibatkan pelbagai paguyuban seni-budaya multi etnik.

Misalnya, pelaku ritual tatung yang berasal dari suku Dayak, penari barongsai dari kelompok pesilat Tionghoa, penabuh tambur dari suku Madura, serta etnik Melayu yang mengambil peran sebagai pengangkat tandu (Toa Khio).

Malam harinya, giliran pertunjukan wayang potehi (wayang boneka katun dari Fujian, RRC) yang mengangkat cerita klasik dari Tiongkok dengan dalang dari suku Jawa.

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Dalam acara itu juga diadakan pelayanan penyembuhan (Geertz, 1960), numerology, dan ramalan keberuntungan (Harrel, 1987).

Proses akulturasi budaya dalam perayaan Imlek secara sosiologis linear dengan perkembangan masyarakat yang semakin kosmopolit dan kontra-primordialisme.

Pembauran tanpa sekat di antara suku bangsa menjadi elan vital untuk memotong urat nadi politik kependudukan warisan kolonial yang mendikotomikan masyarakat dalam sekat tertentu, sebagaimana tertuang dalam doktrin politik divide et impera.

Negeri ini tentu punya pengalaman sejarah yang pahit tentang dampak buruk politik adu domba yang ditanamkan Belanda.

Warga keturunan yang terlahir di Indonesia dan telah berasimilasi puluhan tahun lamanya masih kerap disebut nonpribumi.

Masih segar dalam ingatan meledaknya kerusuhan rasial berskala masif pada Mei 1998.

Ironisnya, tabir pelanggaran hak asasi manusia kelas berat itu hingga kini masih belum bisa tersingkap lebar dan pelakunya bebas dari jerat hukum.

Karena itu, melalui momentum Imlek, paradigma kesetaraan adalah kunci pokok yang harus dimiliki setiap anak bangsa agar dikotomi suku disudahi.

Bukankah tokoh Tionghoa juga punya andil besar dalam meraih kemerdekaan maupun mengisi pembangunan kini?

Pergelaran seni budaya antar-etnik dalam perayaan Imlek memang menjadi kajian menarik bagi peminat studi lintas budaya.

Secara fenomenologis, telah terjadi perubahan iklim budaya yang lebih kondusif antara Indonesia dan Tiongkok dari benturan budaya (clash of cultures) ke pembauran budaya (sharing of culture).

Konsep persebaran kebudayaan yang berorientasi pada teori difusi kultural sudah mulai bergeser ke arah paralelisme kultural.

Implementasi dari teori paralelisme kultural ditandai dengan peniadaan dikotomi tentang konsep great and little tradition.

Budaya besar berkembang karena ditopang oleh kebudayaan kecil.

Begitu juga budaya kecil bisa eksis karena dinaungi oleh kebudayaan besar.

Dalam teori difusi kultural berlaku sebaliknya, kebudayaan besar meluberi kebudayaan kecil, sehingga konsep persebaran kebudayaan yang berorientasi pada teori difusi kultural akan melakukan pemaksaan (invasi) dan intoleransi terhadap kebudayaan kecil.

Alo Liliweri (2003) melihat persoalan identitas budaya sebagai kajian yang sifatnya sangat psikologis, memasuki wilayah sensitif.

Identitas budaya yang heterogen tiba-tiba menjelma menjadi “malaikat maut” bagi keutuhan Indonesia, apabila tidak ada kohesi yang baik antara kebudayaan besar dan kebudayaan kecil.

Karena itu, nilai budaya harus dimaknai sebagai perangkat dasar yang mengangkat manusia Indonesia sebagai bangsa yang utuh.

Pemaknaan itu harus disikapi dengan cara mencari keseimbangan yang wajar agar realitas budaya yang plural itu tetap eksis menyangga pilar keadaban asli Indonesia.

Merawat khazanah budaya dengan segala potensinya adalah upaya untuk mencegah perilaku yang melecehkan manusia dalam hubungan yang berdasar pada pembenaran untuk membunuh satu sama lain.

Kepekaan bangsa terhadap kesucian Indonesia jika direlevansikan dengan kondisi bangsa yang tercabik, suka atau tidak suka harus diasah kembali.

Budaya adalah salah satu instrumen untuk menjaga kesucian itu.

Perayaan Imlek kontemporer harus melahirkan identitas baru yang lebih khas dan berwarna Indonesia.

Tanpa menafikan historisitas perayaan ini, masyarakat dari berbagai suku, agama, dan budaya turut membaur dalam satu ikatan kebinekaan.

Ini fakta menggembirakan betapa lilin harapan kembali menyala di tengah gelapnya ancaman anarkisme antar-suku, fanatisme kelompok, rendahnya penghargaan terhadap budaya lain, serta menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Perayaan Imlek lintas kultural menjadi jalan baru masyarakat lintas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) untuk mengikatkan diri dalam ikatan kebangsaan. *

***** Kolom/artikeL Tempo.co