Iman yang Menyenangkan

0
5 views
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kamis 06 Dec 2018 16:01 WIB
Red: Agung Sasongko

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Dalam praktik keseharian hidup kita, iman kadang mengalami tantangan dan godaan”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada dalam diri seseorang niscaya ia akan merasakan manisnya iman: menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Mencintai seseorang, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia enggan dilemparkan ke neraka.” (HR Bukhari).

Hadis ini memberi tahu kita bahwa iman pada hakikatnya adalah manis, indah, menenangkan, dan menyenangkan. Namun, dalam praktik keseharian hidup kita, iman kadang mengalami tantangan dan godaan, sehingga bagi yang lemah iman sulit untuk merasakannya, bahkan sebaliknya, iman itu terasa berat dan pahit.

Untuk bisa merasakan iman yang manis dan menyenangkan, ada tiga syarat yang harus terpenuhi. Pertama, menjadikan Allah dan Rasul- Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Mencintai Allah satu garis lurus dengan mencintai Rasulullah karena semua yang disampaikan Rasulullah bersumber dari Allah SWT.

Allah berfirman, “Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS al Najm [53]: 3-4). Mencintai Allah adalah dengan mema tuhi semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Demikian pula mencintai Rasul-Nya.

Namun, mencintai Rasulullah harus diekspresikan dengan cara mengimani kenabian atau kerasulannya. Ini menjadi syarat mutlak cinta hakiki pada Rasulullah, karena bagaimana pun cintanya seseorang kepada Rasulullah jika tidak didasari dengan keimanan pada kenabian dan kerasulannya, maka cintanya tidak bisa menyelamatkannya dari api neraka, sebagaimana kecintaan Abu Thalib kepada Rasulullah.

Kedua, mencintai seseorang, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Kecintaan seseorang kepada orang lain yang berdasarkan ke ridhaan Allah berbeda dengan kecintaannya berdasarkan motif yang lain. Ketika seseorang mencintai orang lain karena kebaikannya, maka dikhawatirkan orang itu akan membencinya ketika orang yang dicintainya tidak berbuat baik kepada nya.

Tapi, jika cintanya berdasar pada keridhaan Allah SWT. Bagaimanapun sikap orang yang dicintainya tidak akan berpengaruh pada volume cintanya karena orang itu tidak mencintainya karena kebaikannya atau membencinya karena keburukannya, tapi murni karena Allah SWT.

Ketiga, benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia enggan dilemparkan ke neraka. Secara tersurat poin ketiga ini melarang setiap Muslim untuk murtad, karena kemurtadan meniscayakannya terjerumus ke dalam api neraka.

Namun, di samping makna yang tersurat, ada juga makna yang tersirat dari poin ini, yakni larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan pada kekufuran, baik kufur akidah, kufur ibadah, maupun kufur muamalah, karena setiap kekufuran ini membuat pelakunya berdosa, dan setiap yang berdosa akan terjerumus ke dalam api neraka.

Jika ketiga syarat ini ada dalam diri seseorang, niscaya ia akan merasakan nikmatnya iman. Dalam mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik yang ringan maupun yang berat, baik yang mudah maupun yang sulit, orang itu akan melakukannya dengan penuh kesenangan dan ketenangan.

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here