Ilusi Islam Radikal, Foucauldian, Stigma Jenggot dan Sorban

0
49 views
Sosok pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ketika bicara dengan opsir tentara Jepang. (Istimewa).

Sabtu , 29 April 2017, 10:21 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Oleh: DR Iswandi Syahputra

Sosok pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ketika bicara dengan opsir tentara Jepang. (Istimewa).
Sosok pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ketika bicara dengan opsir tentara Jepang. (Istimewa).

Stigma buruk terhadap ajaran dan kelompok Islam tiada hentinya bahkan muncul dari kalangan muslim sendiri. Jika agama itu kita singkirkan, maka kita hanya akan berpegang pada humanisme dalam pergaulan sosial sehari-hari. Dan, memberi stigma sosial seperti radikal dengan semberono itu melanggar prinsip humanisme yang sejatinya harus terbebas dari berbagai label negatif.

Tapi mengapa label itu terus didesak ke berbagai ruang sosial kehidupan kita? Hanya karena pakai jubah, sorban dan pelihara jenggot atau mengenakan cadar mudah sekali dituduh radikal. Sementara di jalanan para wanita pamer paha hingga menonjolkan belahan dada, tidak didesak sebagai ancaman bagi stabilitas negara?

Ini semua tentu tentang kekuasaan dan pengetahuan, atau tepatnya menurut Foucauldian sebagai pengetahuan yang berkuasa. Bagi orang yang ‘berpengetahuan’ jubah, sorban, jenggot atau cadar adalah simbol kehadiran suatu kekuatan ideologis. Beda dengan dada dan paha yang lebih kuat dengan aroma birahi seputar tubuh dan seksualitas.

Jubah, sorban, jenggot atau cadar sebagai representasi kekuatan ideologis ini yang hendak dibentuk menjadi semacam ‘ancaman laten’ bagi kekuasaan. Pengetahuan tentang itu yang dimiliki oleh orang-orang berpengetahuan tadi kemudian dijadikan sarana untuk menciptakan stigma Islam radikal.

Stigma ini cuma ilusi, sebab justru pahlawan nasional Indonesia seperti Pangeran Diponegoro (bukan Pangeran Podomoro), Tuanku Imam Bonjol, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan lainnya selalu mengenakan jubah, sorban, dan berjenggot.

Ilusi ideologis itu dibentuk melalui praktek produksi wacana atau opini. Wacana disini menjadi alat yang paling efektif digunakan untuk membentuk realitas baru. Foucault menyebutnya dengan normalisasi. Jika tidak ada counter wacana (wacana tandingan atau wacana perlawanan) maka apa yang semula abnormal bisa menjadi normal melalui proses normalisasi lewat penyebaran wacana tersebut.

Pejabat publik memaki, mencaci, menista dan menggusur itu suatu tindakan abnormal secara sosial. Tapi dapat menjadi normal sebagai hasil perselingkuhan antara pengetahuan (knowledge) dan kekuasaan (power) yang dipraktikkan melalui penyebaran wacana terus menerus secara masif.

Demikian pula halnya dengan soal paha dan tonjolan belahan dada yang kerap berseliweran di depan kita. Dia menjadi bukan lagi ancaman bagi arus bawah perut pria karena mengalami proses normalisasi. Namun, dia akan menjadi ancaman bagi arus bawah perut pria bila dianggap tidak normal, atau tidak lazim secara sosial.

Akal sehat, bisa memandu kita menyusun kehidupan yang normal berdasarkan prinsip umum kebaikan dan kemanusiaan.

*DR Iswandi Syahputra, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

**********

Republika.co.id