Idul Qurban

– Achmad Fauzi, Aktivis Multikulturalisme

Jakarta, Garut news ( Sabtu, 04/10 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Perayaan Idul Qurban menjadi alegori sarat makna bagi manusia. Selain sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, nilai kurban melukiskan bentuk pengorbanan harta-benda yang disukai untuk orang lain.

Ada tradisi saling menyantuni yang diamanatkan agama untuk terus dihidupkan dalam keseharian. Bahkan, jika saripati Idul Qurban diperas lagi, akan ditemukan bagaimana Tuhan memberikan pelajaran kepada manusia untuk selalu menjaga nilai kemanusiaan.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Tuhan untuk mengorbankan anak semata wayangnya, Ismail, sebagai bentuk penghambaan yang tiada tara, sedikit pun beliau tidak merasa keberatan.

Padahal, Ibrahim telah sekian lama mendambakan keturunan yang saleh. Perintah Tuhan itu dilaksanakan Ibrahim dengan penuh ketabahan dan kepa-srahan.

Totalitas penghambaan inilah yang mengajarkan kita untuk berlomba mengasihi dan mengorbankan hal duniawi yang disukai untuk orang lain.

Lebih jauh lagi, kajian esoteris tentang Idul Qurban memiliki relevansi dengan harmonisasi hubungan horizontal.

Alasan Tuhan menggantikan leher Nabi Ismail dengan domba yang gemuk adalah untuk menjaga satu hal: kemanusiaan.

Domba adalah simbol sifat kebinatangan pada diri manusia yang harus dibunuh. Adapun martabat kemanusiaan menjadi ihwal pokok dalam agama yang wajib dijunjung tinggi.

Ambivalen jika agama yang agung justru mewarisi tradisi memenggal leher demi mengekspresikan nilai penghambaan dan keikhlasan kepada Tuhan.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa penyembelihan hewan kurban menarasikan proses pembunuhan sifat kebinatangan manusia.

Berkurban bukan sekadar merelakan seekor kambing kesayangan untuk disembelih dan dibagikan kepada yang membutuhkan.

Tapi, yang lebih penting, ini berarti mengorbankan hawa nafsu yang cenderung membelenggu manusia.

Seperti nafsu amarah, tamak, kikir, dan nafsu menerabas segala cara untuk mencapai tujuan.

Banyak orang keliru memaknai bentuk pengorbanan dalam mengabdi kepada Tuhan. Demi agama dan Tuhan, tak jarang orang lupa sifat kemanusiaannya.

Beribu-ribu tahun lamanya agama ini dikaji dan diyakini oleh jagat manusia, namun praktek “memenggal leher” orang yang dianggap berbeda aliran atas dalih iman dan keyakinan masih saja terjadi.

Begitu pula dalam relasi sosial berbasis suku, agama dan komunitas, peristiwa intoleran telah menjadi budaya paling ekstrem, meskipun banyak orang mengutuknya.

Simak kondisi kebebasan beragama semester pertama (Januari–Juni 2014) yang masih mengkhawatirkan.

Berdasarkan catatan Setara Institute, tercatat 60 peristiwa dengan 81 bentuk tindakan pembiaran, penyegelan tempat ibadah, dan tindakan intoleransi yang menyebar di 17 provinsi.

Pertemuan sumbu-sumbu emosi di tengah masyarakat memang mengetengahkan penyelewengan makna pengorbanan.

Nafsu kebinatangan, yang seharusnya mampu ditundukkan oleh kesucian jiwa, justru menjadikan sifat-sifat manusia yang berakal dan berbudi luhur sebagai tumbal.

Padahal, siapa pun yang membunuh seorang manusia bukan karena qisash atau membuat kerusakan di muka bumi, seolah-olah telah membunuh manusia seluruhnya.

Sebaliknya, dengan memelihara kehidupan seorang manusia, berarti telah memelihara kehidupan semua manusia (Q.S. Almaidah: 32).

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment