You are here
Ide Teknologi Ruang Angkasa, Bolpoin Hingga Sumpit SAINS 

Ide Teknologi Ruang Angkasa, Bolpoin Hingga Sumpit

HONGKONG, Garut News ( Senin, 02/12 ).

Profesor Yung Kai-leung dan salah satu alat temuannya, pelontar sampel batu Mars. | CNN.com
Profesor Yung Kai-leung dan salah satu alat temuannya, pelontar sampel batu Mars. | CNN.com

Perkembangan peradaban, termasuk teknologi, tak dipungkiri selalu melibatkan budaya di tempat ia berkembang.

Teknologi dalam misi ulang alik atawa ruang angkasa pun bukan perkecualian.

Legenda masih terus beredar di NASA, badan antariksa Amerika Serikat, misalnya.

Pada 1960-an lembaga itu disebut mengembangkan ratusan ribu bolpoin bisa bekerja di gravitasi nol.

Demikian pula badan antariksa Uni Soviet—sekarang Rusia—memiliki dana lebih sedikit, mengembangkan teknologi antariksanya dengan pensil sebagai modelnya.

Laiknya legenda, uji coba NASA melibatkan ribuan bolpoin itu, sebenarnya dipicu kekhawatiran luar biasa tentang kerapuhan pesawat, dan para astronot di dalamnya ketika menembus atmosfer Bumi.

Pada 1967, kekhawatiran mereka diuji dengan meledaknya Apollo 1.

Terlepas dari kekhawatiran tersebut, tak bisa ditepis peran budaya berperan pada penentuan pilihan alat uji coba teknologi.

Kali ini, riset antariksa China menguatkannya.

Pilihan benda menjadi inspirasi uji coba teknologi tingkat tinggi ini pun, kentara mewakili budaya identik dengan China.

Sumpit, dan sendok keramik

Di Hong Kong Polytechnic University, China, saat ini terdapat proyek riset perancangan alat ruang angkasa berpresisi tinggi.

Inspirasinya, sumpit dan sendok sup keramik China.

Riset itu dipimpin Profesor Yung Kai-leung, Kepala Asosiasi Departemen Teknik, dan Sistem Industri Hong Kong Polytechnic University.

“Teknologi kami berbedas,” kata Yung kepada CNN.

“Tak ada rekayasa kami menggunakan desain orang lain.”

Menurut Yung, ada kompleksitas luar biasa pada misi teknologi luar angkasa, sedemikian hingga nyaris mendekati sidik jari, tak satu pun benar-benar sama menyikapi setiap persoalan.

“Ketika Anda berbicara tentang misi ruang angkasa, Anda kudu memertimbangkan semua kemungkinan akhirnya. Semua desain kami memiliki sejumlah alternatif. Jika satu bagian tak bekerja, maka bagian lain menggantikannya.”

Ekspedisi ke Mars dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Yung merancang alat pembuat batu Mars untuk sampel, dan latihan.

Mekanisme dari alat itu, menggunakan inti dari fungsi sepasang sumpit.

Penggali batunya, Yung merujuk pada prinsip sendok sup China berbahan keramik tahan panas, dan mampu beroperasi dalam lubang dalam.

Sendok ini diketahui berfungsi lebih baik menciduk ke dalam mangkok nasi daripada sendok besi ala Barat.

Kini, Yung bekerja menggarap kamera akan melengkapi robot dalam misi ke Bulan bersama pesawat Change 3 milik China.

Kamera ini kudu memenuhi segala spesifikasi agar bisa bertahan di bulan, mulai suhu ekstrem di ruang hampa hingga kekuatan besar sekaligus fleksibel memerbaiki masalah ketika terdapat gangguan.

Dengan jarak 380.000 kilometer antara Bumi dan Bulan, Yung mengatakan ada sedikit ruang kesalahan dimungkinkan.

“Jika Anda melihat misi NASA, mereka kerap mendaratkan dua pendarat pada waktu sama. (Sebenarnya itu) hanya meminimalkan risiko,” ujar dia.

Masalah kontrol kualitas sangat ketat dalam misi China, sebut Yung, merupakan persoalan sama dihadapi misi luar angkasa Rusia baru-baru ini.

“Jutaan hal bisa salah, dan satu hal kecil bisa memengaruhi seluruh misi,” kata dia.

Pada misi Rusia, sebut Yung, persoalan ada pada sirkuit terpadu, satu lempeng dengan ribuan komponen elektronik.

“Cukup satu (komponen) bermasalah, semua peralatan bermasalah,” katanya.

Yung menuturkan, pada 1960, lebih dari sepertiga misi luar angkasa mengalami kegagalan.

China, kata dia, punya kemewahan belajar dari kesalahan dua negara pelopor misi luar angkasa, Amerika dan Rusia.

Meski demikian, kata dia, saat-saat peluncuran tetap menegangkan bagi orang-orang Hongkong ini.

“Katakanlah soal komunikasi, untuk contoh sederhana. Jika antena (pesawat) tak mengarah ke Bumi, maka Anda tak pernah menerima sinyal komunikasi,” ujar Yung.

“Anda kudu memertimbangkan segala kemungkinan, sampai ke hal-hal bahkan tak bisa Anda bayangkan.”

Tim Yung bahkan kudu mengukur jumlah uang keluar per menit, dari logam dalam instrumen digunakan, memastikan tak ada gas mencemari sampel diambil dari bulan.

Kualifikasi luar angkasa

Karena itu, kata Yung, pekerjaannya mensyaratkan apa ia sebut sebagai “kualifikasi luar angkasa”.

Definisi dia berikan pengalaman memungkinkan Anda mengantisipasi segala jenis masalah, dan mengatasinya.

Kualifikasi ini jugalah membuat Yung mengembangkan alat presisi unik seperti penggiling sampel batuan ruang angkasa.

Demikian pula saringan, semuanya bekerja pada gravitasi nol dan ruang hampa.

“Ini masalah sulit diselesaikan (lantaran) biasanya Anda butuh gravitasi menyaring apa pun,” ungkap Yung.

Keberuntungan, pasangan dari budaya melatari para peneliti, dan pemilik misi.

Uang, misalnya, keberuntungan dibutuhkan misi pendaratan ke Bulan.

Anggaran proyek luar angkasa China berada di kisaran dua miliar dollar AS per tahun, sekitar Rp22 triliun.

Angka itu tak sampai sepersepuluh anggaran misi luar angka NASA.

Minimnya anggaran, kata Yung, menempatkan China pada posisi menuntut kualitas tanpa kudu diburu-buru waktu.

“China ingin melihat hasil sangat jelas,” kata dia.

Berpengalaman bekerja misi luar angkasa Rusia dan Eropa, Yung mengatakan bekerja misi China menawarkan pembanding menarik.

“Masing-masing punya budaya beda,” kata Yung.

“Orang-orang Eropa mendiskusikan hal-hal tertentu untuk waktu lama, dan ada banyak perubahan karena terdapat negara-negara terlibat. Mereka pun memiliki ide beragam sehingga memerlambat segalanya, bahkan bisa menggagalkannya,” papar dia.

“(Adapun) Rusia berpikir mereka memiliki banyak pengalaman, tetapi banyak pengalaman ini sekarang kedaluwarsa,” ujar Yung.

“Sementara itu, Amerika terlalu banyak kepentingan dengan perdagangan dalam misi eksplorasi ruang angkasa.”

Soal misi China ke Bulan, Yung mengatakan masih ada banyak pekerjaan kudu dilakukan terkait persiapan sampel, terutama terkait pemindahan bahan bakar helium-3 diyakini konsentrasinya meningkat saat berada di Bulan.

“Saya pikir, dari semua misi NASA ke Bulan, China hanya punya satu gram debu (bulan) untuk belajar,” kata Yung.

Apakah kualifikasi ruang angkasa, dan budaya China memberinya terobosan beda misi China ke Bulan?

Mari menantinya.

Sumber : CNN.com

Editor : Palupi Annisa Auliani/Kompas.com

Related posts

Leave a Comment