Ibuisme Inggit Garnasih

0
41 views

– M. Fauzi Sukri, penulis

Jakarta, Garut News ( Rabu, 04/03 – 2015 ).

Ilustrasi. Keikhlasan Meski Memikul Sarat Beban. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Keikhlasan Meski Memikul Sarat Beban. (Foto : John Doddy Hidayat).

Inggit Garnasih tak pernah punya anak. Namun, dalam serangkaian acara yang mendeklarasikan Februari 2015–bertepatan dengan hari kelahirannya, 17 Februari-sebagai Bulan Cinta Inggit Garnasih, ia ditahbiskan menjadi ibu agung.

Dalam beberapa hal, Sukarno adalah anak sejati Inggit Garnasih, bukan karena ia akhirnya menjadi presiden Indonesia yang pertama.

Inggit tak mau masuk Istana Negara, hanya sampai pada pintu gerbang. Penahbisan ibu agung itu adalah berkat pengasuhan Inggit demi Sukarno.

“Dia itulah,” kata Sukarno kepada Cindy Adams (1966: 77), “jang membereskan kamarku, melajaniku, memperhatikan pakaianku, dan mendengarkan buah-pikiranku. Dialah orang jang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.”

Hubungan ini memang bersifat psikologis: pemuda yang mendamba seorang kekasih sekaligus seorang ibu. Dan Inggit memenuhi semua ini dengan ketulusan dan kelembutan hati.

“Aku tahu pikiran suamiku dari dirinya sendiri bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si istri merupakan perpaduan dari seorang ibu, kekasih, dan kawan. Kusno pun ingin diibui oleh teman hidupnya. Kalau pilek, ia ingin supaya aku memijitnya, mengurutnya. Kalau lapar, ia ingin makan makanan kesukaannya yang aku masak sendiri. Kalau kancing bajunya lepas, ia ingin aku yang memasang kancing itu kembali,” kata Inggit (Ramadhan, 2011: 46).

Hubungan ini bukan sekadar hubungan suami-istri dalam pengertian tata nilai keagamaan atau dua orang kekasih dalam tata sosial kemasyarakatan.

Inggit tampak melampaui semua ini. Sosok keibuan yang diperlihatkan dan dilakukan Inggit kepada Sukarno sudah melampaui sosok ibu dalam tata nilai tradisional, bahkan hingga saat ini.

Seorang pemuda revolusioner Sukarno sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan perempuan yang secara umur sejajar dengan dirinya, bahkan bisa jauh lebih cantik dan terpelajar daripada Inggit pada zamannya.

Namun Sukarno memilih Inggit, perempuan yang sudah menikah dua kali dan hanya lulusan madrasah.

“Inggit jang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunjai masa lampau gemilang. Dia samasekali tidak terpeladjar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Jang kuhargai adalah kemanusiannja…. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu jang tidak bisa diberikan oleh buku. Dia memberiku ketjintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa jang kuperlukan jang tidak dapat kuperoleh semendjak aku meninggalkan rumah ibu,” kata Sukarno (Cindy Adams, 1966: 81), penulis buku Sarinah; Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia.

Sukarno mengibukan istrinya, Inggit Garnasih, dalam kehidupan keluarga dan perjuangan cita-cita demi bangsanya.

Inggit-lah yang membantu perjuangan pemuda Sukarno sejak kuliah di Technische Hogeschool, menjadi tokoh pergerakan nasionalis, sampai akhirnya mengantarkan Sukarno ke gerbang Istana Republik Indonesia.

Maka, secara biologis, Sukarno lahir dari rahim Ida Ayu Nyoman Rai. Secara intelektualitas, Sukarno lahir dari rahim buku-buku dan zaman pergolakan nasionalisme Indonesia.

Secara psikologis kultural, Sukarno diasuh oleh Inggit Garnasih, kekasih tercintanya sekaligus yang menjadi ibunya dalam masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Inggit Garnasih adalah ibu bangsa Indonesia.

********

Kolom/Artikel Tempo.co