Ibu Negara, Log Off

Raymond Kaya,
Wartawan di SCTV

Garut News ( Rabu, 29/01 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ibu Negara Michelle Obama, 21 Januari lalu, kembali terlibat dalam sebuah kampanye hidup sehat bertema Let’s Move bersama para pemain basket Miami Heat, Dwayne Wade, Ray Allen, Chris Bosh, dan LeBron James, serta pelatih kepala Erik Spoelstra, yang dalam video ini bertindak sebagai seorang reporter.

Tayangan di YouTube ini dikomentari banyak pihak, termasuk misalnya ekspresi Michelle saat melakukan slam dunk dengan wajah menyeringai.

Tayangan ini langsung mendapat respons yang umumnya menyambut, tapi ada yang memberi tanda dislike sekaligus berkomentar.

Salah satu isi kalimatnya, “Isn’t there a reward for proof of BIGFOOT?”

Bahkan dalam sebuah situs di TV nasional NBC, ada sebuah kalimat bernada rasial karena hampir semua yang terlibat dalam tayangan ini berkulit hitam.

Tapi tak satu pun nada marah diungkap dari White House, apalagi dari pribadi Michelle.

Seseorang yang sadar masuk ke teknologi media baru yang berbasis Internet atau dunia virtual sebenarnya masuk dalam sebuah dunia yang baru tanpa etika dan budaya.

Seseorang yang dengan sadar masuk ke dunia Internet harus membedakan dirinya sebagai human dan sebagai post-human.

Pada saat seseorang masuk ke dunia virtual melalui Internet, ia masuk dalam kondisi post-human.

Dengan demikian, apa pun yang dia alami saat berinteraksi dengan orang lain dalam media sosial, ia harus memikirkan segala konsekuensinya, baik hal-hal yang menyenangkan maupun sebaliknya, justru menjengkelkan.

Semuanya harus terselesaikan di dunia virtual itu dan jangan dibawa-bawa ke dalam kehidupan pribadi setelah melakukan sign off atau keluar dari media yang digunakan.

Profesor Charless Ess dari Universitas Drury menyatakan dunia virtual (bukan dunia maya) adalah dunia baru yang masih mencari sebuah norma.

Nilai-nilai yang disepakati oleh warga dalam dunia virtual hanya disepakati sesama mereka dan tidak bersifat umum.

Ada berbagai cara agar “terhindar” atau “tidak” mendapat perlakuan negatif saat masuk ke dunia virtual.

Pertama, dengan tidak mengirim spam kepada orang lain.

Kedua, jangan menganggap dunia virtual sebagai dunia yang penuh dengan privasi.

Ketiga, jangan menyerang orang lain jika diri Anda tidak ingin mendapat serangan balik.

Dan terakhir, gunakan nama dan identitas yang benar.

Jangan sekali-kali memberi komentar menggunakan identitas palsu untuk mendukung pendapat diri.

Perilaku ini tidak cuma bodoh, tapi lambat laun juga akan terbongkar.

Michelle Obama tentu melakukan semua syarat di atas, tapi serangan tetap ada dalam dunia virtual kepada dirinya.

Itulah yang memang terjadi.

Apa pun yang dibuat dalam dunia virtual, sebagus apa pun semuanya, bersifat subyektif.

Michelle sudah masuk dalam kondisi human dan (mampu keluar) dari kondisi post-human.

Ia sadar betul, jika semua programnya masuk dalam dunia virtual, kritik pun akan datang.

Michelle dan para ahli komunikasinya hanya menghitung jumlah hit dan like dari tayangannya dan orang-orang yang mungkin terkena dampak yang positif atas karya mereka.

Maka, jika tidak suka akan dunia virtual, hanya satu pilihan: jangan marah-marah, log off.

Selesai…. *

***** Kolom/artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment