Hutan Cagar Alam Gunungapi Papandayan Masih Membara

0
29 views

Foto/ Esay : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 17/09 – 2015 ).

Toni Ramdhani.
Toni Ramdhani.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada BBKSDA Jabar, Toni Ramdhani kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (17/09-2015), mengakui hutan “Cagar Alam” (CA) Gunungapi Papandayan Masih Membara, terutama pada Blok Cileuleuy. 

Sehingga masih gencar berkoordinasi dengan pelbagai institusi resmi termasuk ragam kalangan masyarakat, agar bisa segera memadamkannya.

Hutan CA Gunungapi Guntur juga terbakar, termasuk terjadi pada Rabu (16/09-2015), dengan luasan areal terbakar kurang dari sepuluh hektare, katanya.

Namun kebakaran CA Gunungapi Guntur masih mudah dipadamkan, lantaran jenis vegetasinya sebagian besar antara lain berupa alang-alang kering.

Sedangkan kebakaran pada CA Papandayan dinilai sulit dilakukan pemadaman, sebab selain banyak terdapat jenis vegetasi paku-pakuan, juga banyak jenis pohon tegakan, serta sarasah, katanya pula.

Nur Surantiwi, S. Hut
Nur Surantiwi, S. Hut

Sehingga sejak 9 September 2015 hingga berakhirnya kemarau panjang, kegiatan para pecinta alam yang melakukan perkemahan dinyatakan ditutup atawa dilarang keras, masing-masing di Gunungapi Papandayan, Gunungapi Guntur, serta Talaga Bodas, imbuh Toni Ramdhani.

Total nilai kerugian akibat peristiwa kebakaran pada hutan CA tersebut, hingga kini masih belum bisa diprediksi dengan pasti, meski dipastikan nilai kerugiannya sangat tak terhingga.

Dalam pada itu, sebelumnya dilaporkan Garut News, kobaran api meranggas sedikitnya 328,85 hektare hutan CA Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diperparah tak terdapatnya sumber air. Sehingga kini sangat dikhawatirkan satwa buas “bisa” turun gunung, kemudian memasuki pemukiman penduduk.

Bahkan hingga Selasa (15/09-2015) siang, masih terdapat kobaran api pada hutan CA di Blok Cileuleuy.

Kebakaran meranggas sedikitnya 328,85 hektare hutan CA Papandayan tersebut, berlangsung sejak 25 Juli 2015 hingga 10 September 2015 pada setiap 12 Blok.

Sedangkan penyebabnya, antara lain diduga lantaran aktivitas camping atawa berkemah yang kemungkinan tak maksimal memadamkan api di perkemahan.

aa7Malahan juga diduga faktor kesengajaan untuk menggarap lahan, mapun sengaja untuk menjual pembibitan pohon agar dilakukan kegiatan reboisasi.

Jenis vegetasi terbakar di antaranya pohon paku-pakuan, serta pohon cantigi, selama ini banyak bertebaran pada 6.807 hektare hutan CA Papandayan, serta 225 hektare hutan “Taman Wisata Alam” (TWA) Papandayan.

Kobaran api selama ini merambah hingga di ketinggian berkisar 2.600 – 2.620 mdpl, atawa pada posisi dua meter menjelang puncak tertinggi gunungapi ini, katanya.

Upaya pemadamannya antara lain membuat lintasan parit penyekat api, serta memukul ranting-ranting pohon terbakar dengan batang-batang pohon, melibatkan pula 300-an lebih pelbagai komponen dan elemen masyarakat.

Satwa buas yang sangat dikawatirkan bisa turun gunung kemudian memasuki lingkungan pemukiman penduduk, di antaranya macan tutul, macan kumbang, serta babi hutan.

Dalam pada itu, kebakaran di Gunungapi Guntur baru-baru ini terjadi pula di Legok Jambu, dan di Seureuh Jawa seluruhnya mencapai sekitar 4,2 hektare.

Gunungapi Guntur termasuk CA Kamojang seluas 7.536 hektare, sedangkan TWA Gunungapi Guntur seluas 250 hektare.

Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jabar, Nur Surantiwi, S. Hut detail memamaparkan strategi penanganan gangguan hutan, khususnya pada kawasan konservasi dikelola SKW V Garut, dengan delapan fungsi kawasan seluas 17.741 hektare.

Sementara itu, CA Laut sancang seluas 1.150 hektare, ungkapnya.

Gangguan hutan selama ini, berupa pencurian hasil hutan, perambahan, perdagangan satwa dilindungi, serta kebakaran hutan kerap terjadi pada musim kemarau panjang.

Strategi penanganan gangguan hutan berupa Pre emitif dan preventif terdiri penyuluhan, patroli rutin dan patroli gabungan.

Kemudian refresif dan yustisif, meliputi operasi rutin, dan operasi gabungan , demikian Nur Surantiwi, antara lain menambahkan.

Kerugian akibat kebakaran hutan tersebut, hingga kini masih dianalisis. Termasuk kerugian kehilangan salah satu sumber oxigen, serta kerusakan 17 jasa ekosistem akibat kebakaran itu.

*******