Hukum Keberadaan Karyawan di Lingkungan Kerja Berkonsepsi Fiqih

0
106 views

Oleh : H.Heri Kuswara, SE,S.Kom,M.Kom*

Garut News ( Kamis, 08/01 – 2015 ).

H. Heri Kuswara. (Ist).
H. Heri Kuswara. (Ist).

Didalam kitab-kitab fiqih dibahas secara detail berbagai hukum dan ketentuan syar’i yang merupakan pedoman dan landasan manusia dalam berkehidupan sehingga bisa diketahui nilai (hukum/ketentuannya) dari perkataan dan perbuatan dilakukan.

Dari kitab membahas tuntas hukum/ketentuan syar’i adalah terdapat pada kitab Ushul Fiqih dan Kitab Mabade ‘Awaliyah.

Pada kedua kitab tersebut diuraikan pelbagai dalil, definisi dan alasan-alasan mendasar tentang penentuan hukum syar’i, baik berkenaan dengan perkataan maupun perbuatan.

Dalam bukunya “Soal Jawab Hukum Islam” A. Hassan (seorang ulama Indonesia, semoga Allah merahmatinya) menyederhanakan hukum-hukum syar’i kedalam lima macam hukum biasa kita dengar yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

Pada kesempatan ini penulis mencoba menyuguhkan status hukum bagi karyawan tentang keberadaannya  dilingkungan kerja dalam perspektif Fiqih (hukum syar’i).

Hal ini tentu saja bukan terbaru mengingat pernah juga dibahas Budayawan terkenal kita  yakni Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dan Da’i Kondang penyejuk hati yaitu Aa Gym ( KHA. Abdullah Gymanstiar), namun demikian bukanlah hal basi dan kadaluarsa jika penulis membahas kembali sekedar mengingatkan khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi saudara-saudara penulis, yang memang membutuhkan.

Berikut penuturan penulis tentang “Keberadaan Karyawan Di Lingkungan Kerja dalam Konsepsi lima hukum Syar’i :

– Karyawan Wajib. definisi dari wajib adalah suatu ketentuan agama yang harus dikerjakan, kalau tidak, berdosa. Adapun yang dimaksud dengan karyawan wajib adalah bahwa keberadaannya dilingkungan kerja sangat diperlukan tanpa kecuali, baik oleh rekan kerja, pimpinan maupun Institusinya. Kehadirannya senantiasa memberikan kontribusi yang baik dan bermanfaat tidak hanya untuk institusinya juga bagi rekan-rekan kerjanya. Sehingga manakala karyawan tersebut tidak berada dilingkungan kerja/tidak hadir,  maka pimpinan, rekan kerjanya maupun perusahaan akan merasa sangat-sangat kehilangan yang selanjutnya berdampak buruk pada kinerja dan kelangsungan perusahaan.

– Karyawan Sunnah. Definisi Sunnah adalah suatu perbuatan yang kalau dikerjakan akan diberi ganjaran (pahala) tetapi kalau tidak dikerjakan tidak berdosa. Karyawan sunnah mempunyai penafsiran bahwa keberadaannya dilingkungan kerja cukup menyejukan, dapat bekerja sama dengan team, kehadirannya memberikan warna (konsep/usulan) yang baik demi  keberlanjutan dan kemajuan perusahaan. Type karyawan seperti ini keberadaannya diharapkan sama perusahaan dan rekan kerjanya sementara ketidakberadaannya berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan.

– Karyawan mubah. Mubah (dibolehkan) atau halal mempunyai pengertian satu perbuatan yang tidak ada ganjaran atau siksaan baik bagi yang mengerjakannya atau tidak mengerjakannya. Karyawan mubah menurut konsepsi penulis adalah karyawan yang kehadirannya kurang menguntungkan bagi perusahaan dan rekan kerjanya namun juga sama sekali tidak pernah merugikan perusahaan dan rekan kerjanya. Tipikal karyawan macam ini tidak pernah berinisiatif dan proaktif memberikan warna baru bagi pengembangan perusahaan namun hanya wait and see komando atasan. Ketidakberadaanya dilingkungan kerja sama sekali tidak berpengaruh baik terhadap perusahaan maupun rekan kerjanya.

– Karyawan Makruh. Definisi yang paling cocok untuk makruh adalah  satu ketentuan larangan yang lebih baik tidak dikerjakan daripada dilakukan. Makruhpun sering kita sebut dengan dibenci tapi tidak berdosa. Karyawan makruh yang dimaksud adalah karyawan yang suka usil akan rekan kerjanya, mengganggu kondusifitas ruangan kerja juga kadang-kadang menghambat pekerjaan rekan kerjanya. Karyawan demikian Keberadaannya tidak menguntungkan perusahaan. Rekan kerjanyapun akan merasa aman dan lebih sungguh-sungguh (serius) bekerja jika tidak ada karyawan mubah disampingnya.  Secara keseluruhan pengembangan perusahaan akan stagnas dan tidak menutup kemungkinan akan terjadinya tanda-tanda kemunduran yang berakhir pada gulung tikarnya perusahaan.

– Karyawan Haram. Definisi Haram adalah satu ketentuan larangan dari agama yang tidak boleh dikerjakan. Kalau kita melanggarnya, berdosalah. Karyawan haram keberadaannya sangat merugikan rekan kerja dan perusahaannya.  Rekan kerjanya merasa takut dan khawatir jika karyawan haram itu hadir dilingkungan kerjanya, mereka merasa sangat terganggu, terintimidasi dan sama sekali tidak bisa melaksanakan tugasnya. Karyawan haram bukan saja merugikan rekan kerjanya tapi juga yang terpenting adalah sangat merugikan perusahaan. Tindak tanduknya selalu merugikan perusahaan, tidak melaksanakan pekerjaan sesuai job description juga dalam berinteraksi tidak lagi mengedepankan norma-norma agama, etika dan moralitas.

Persaingan Dunia Kerja dan Dunia Industri yang terjadi dewasa ini memaksa bergesernya status karyawan dalam sebuah perusahaan. Paradigma baru merubah Karyawan yang tadinya sebagai asset (modal yang tak ternilai harganya) menjadi mitra, meskipun tidak semua perusahaan, disukai atau tidak,  dengan paradigma baru tersebut, sungguh interprestasinyapun sangat berbeda yang tadinya karyawan itu betul-betul dipelihara layaknya asset  dewasa ini menjadi hanya dipelihara jika menguntungkan dan di”buang” jika merugikan (berlaku dihampir semua perusahaan yang 100% comercial oriented).

Keluar satu antri seribu adalah slogan perusahaan yang sepertinya kurang manusiawi untuk didengar namun itulah kenyataannya dewasa ini yang harus kita sikapi pula dengan bijak dan dewasa. Terlebih-lebih perusahaan profit oriented (commercial oriented) jelas-jelas memaksa karyawannya untuk menjadi karyawan Wajib atau minimal karyawan Sunnah yang produktif dan potensial untuk kemajuan perusahaan.

********

Penulis ; Kepala BSI Career Center/Ketum GEMA Asgar Jakarta.