Hoaks Membangun, Apa Lagi?

0
25 views
Hoax. Ilustrasi (Indianatimes).

Ahad , 07 January 2018, 00:13 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Gun Gun Heryanto, Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta

Hoax. Ilustrasi (Indianatimes).

Tahun baru saja berganti, kontroversi pun langsung terjadi. Lagi-lagi pemicunya adalah pernyataan publik dari elite yang kurang terukur, membingungkan, dan punya potensi ‘mengganggu’ logika dalam perang melawan hoaks yang dikumandangkan banyak kalangan.

Pernyataan Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Mayjen TNI Purn Djoko Setiadi soal ‘hoaks membangun’ langsung mendapat respons kritik bertubi-tubi sehingga tagar #HoaxMembangun pun sempat menjadi trending topic nomor satu di Twitter.

Meskipun kemudian yang bersangkutan meminta maaf, dan membuat klarifikasi bahwa pernyataannya hanya mengetes reaksi publik. Ada dua pertanyaan mendasar, benarkah ada hoaks membangun? Perlukah mengetes publik dengan cara mengenalkan istilah hoaks membangun?

Karakteristik hoaks
Dalam Cambridge Dictionary (2017) disebutkan, hoaks adalah rencana untuk menipu sekelompok besar orang; bisa juga diterjemahkan sebuah tipuan. Intinya hoaks adalah informasi yang bukan berdasarkan fakta atau data melainkan tipuan dengan tujuan memperdaya masyarakat dengan model penyebarannya yang masif.

Banyak versi asal mula kata hoaks ini. Salah satunya ditelusuri secara serius oleh Museum of Hoaxes (www.hoaxes.org ) yang berpusat di San Diego, Kalifornia, Amerika.

Sebuah lembaga yang berperhatian mengidentifikasi, mengumpulkan, dan mengategorikan hoaks baik sejarah, cerita, foto, dan klaim-klaim lain-lain dari zaman ke zaman di berbagai negara.

Kata hoaks ditelusuri dari sejarah asal katanya pertama kali populer digunakan pada pertengahan hingga akhir abad ke-18. Berasal dari kata yang kerap digunakan oleh para pesulap, yakni “hocus pocus”.

Istilah hocus pocus sendiri pertama kali muncul awal abad ke-17. Kata tersebut, diambil dari nama pesulap yang kerap menyebut sendiri namanya dengan julukan ‘The kings majesties most excellent hocus pocus’.

Sebab, dalam setiap penampilannya menggunakan beragam trik sulap, dia selalu melafalkan ucapan atau mantra “hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter jubeo”.

Pesulap yang terkenal berikutnya menggunakan frasa “Hax pax max deus adimax”. Frasa yang digunakan para pesulap ini sesungguhnya tiruan (atau sebenarnya ejekan) dari frasa yang digunakan oleh para imam dari Gereja Katolik dalam prosesi transubstansiasi “hoc est corpus”.

Menurut Richard A Nicholas, dalam bukunya The Eucharist as the Center of Theology (2005), transubstansiasi dalam bahasa Inggris transubstantiation, bahasa Latin transsubstantiatio, adalah perubahan.

Menurut ajaran Gereja Katolik, roti (atau hosti) dan anggur yang digunakan dalam Sakramen Ekaristi, bukan semata-mata tanda atau simbol, melainkan juga merupakan tubuh dan darah Yesus Kristus dalam kenyataan yang sebenarnya.

Kata kunci dalam memahami hoaks ini adalah penipuan ke publik. Maksudnya, pembeda hoaks dengan penipuan lainnya adalah pada karakteristiknya yang menjangkau khalayak luas, populer, dan masif. Sehingga, biasanya ada jejaring yang kerap menghubungkan hoaks, baik melalui media massa maupun media lainnya. Salah satu penyebab hoaks saat ini yang mewabah adalah teknologi media sosial dan smart phone.

Sebab, banyak kanal perbincangan warga difasilitasi oleh keduanya. Di media sosial, misalnya ada Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Sementara itu, di smart phone ada grup whatsapp (WA) dan blackberry messenger (BBM).

Terlebih saat ada banyak momentum di mana warga terpolarisasi sedemikian rupa, seperti saat pilkada, biasanya hoaks merajalela sebagai cara menipu, menghasut, serta menyebarkan rumor dan fitnah.

Dari karakteristik hoaks di atas, bisa dipastikan hoaks itu negatif, berpotensi destruktif, dan tidak membangun! Jika kata membangun disandingkan dengan kritik mungkin saja bisa diterima logikanya. Tetapi, kata membangun yang sandingkan dengan hoaks, menurut penulis, itu sebuah kekeliruan sangat mendasar.

Coba perhatikan penggalan kalimat Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) berikut “Kalau menjatuhkan pemerintah, ujaran tidak baik, itu yang kita larang, kita redam. Kalau hoaks yang sifatnya positif, yang mengkritik, itu saya rasa tidak apa-apa.”

Tampaknya, akan jauh lebih pas jika bukan kata hoaks yang digunakan, melainkan kritik positif, ataupun kritik membangun.

Manajemen komunikasi
Argumen bahwa istilah “hoaks membangun” dipakai sebagai gaya untuk mengetes publik dan hikmahnya adalah sosialisasi adanya pelantikan, juga merupakan kekeliruan dalam manajemen komunikasi. Sebuah lembaga yang baru diluncurkan, atau baru direformulasi sangat penting menumbuhkan kepercayaan publik karena akan sangat berkaitan dengan citra dan reputasi kelembagaan.

Citra terkait dengan cara pandang pihak luar, sifatnya bisa temporer. Sementara reputasi melibatkan pandangan pihak eksternal dan pihak internal dalam waktu panjang dan menjadi rekam jejak.

Salah satu yang harusnya dikelola dengan baik adalah opini publik. Sosialisasi lembaga dengan membangun opini negatif tentu bukanlah manajemen komunikasi yang baik.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tentu saja harus disosialisasikan karena banyak khalayak yang belum mengetahui tugas dan fungsinya. Apa yang membuatnya berbeda dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).

Jika badan siber ini memang memiliki posisi strategis dalam landskap pengelolaan negara, seperti apa konstribusinya saat ini dan ke depan. Akan sangat ideal, jika pernyataan di awal itu dimulai dengan penjelasan runtut, komprehensif, dan membuka wawasan publik tentang apa dan bagaimana BSSN.

Seorang pejabat publik perlu terlatih, cepat beradaptasi dengan lingkungan masyarakat, dan media yang sangat cepat berubah. Terlebih pada era keberlimpahan komunikasi yang terfasilitasi melalui kanal-kanal komunikasi warga.

Dalam Teori Manajemen Privasi Komunikasi dari Sandra Petronio di bukunya Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclousure (2002), harusnya komunikator memiliki pertimbangan dan pilihan peraturan sendiri mengenai apa yang harus dikatakan, dan apa yang harus disimpan dari publik.

Saat ini, publik sangat kritis dan dunia informasi berkembang sangat pesat, kejadian dan pernyataan di satu tempat dengan cepat dibagi dan diketahui oleh banyak orang di berbagai tempat. Mengendalikan pesan menjadi sangat penting dilakukan, agar dapat meminimalisasi kesalahan dan pernyataannya tak menyesatkan!

********

Republika.co.id