Hiu Paus Arungi Lautan 6.000 Km 2,5 Bulan

Garut News ( Jum’at, 12/09 – 2014 ).

Hiu Paus (Rhincodon typus). Pageresources.
Hiu Paus (Rhincodon typus). Pageresources.

– Hiu paus, si ikan terbesar di dunia, ternyata jenis ikan sangat aktif. Hasil penelitian tim WWF Indonesia mengungkap, hiu paus mampu menempuh jarak ribuan kilometer selama dua bulan.

Cassandra Tania, Marine Species Officer WWF Indonesia mengatakan hal tersebut melalui surat elektronik kepada Kompas.com pada Ahad (31/09-2014).

Tim WWF Indonesia memantau hiu paus di Taman Nasional Teluk Cendrawasih selama beberapa tahun dengan empat metode.

Ketiganya, Pop Up Satelite Archival Tag (PSAT), Radio Frequency Identification (RFID), Photo Identification.

Serta pengamatan langsung.

Dengan PSAT, tim WWF, memantau pergerakan Rachel, salah satu individu hiu paus dijumpai di taman nasional itu.

“Rachel, satu-satunya individu hiu paus betina berukuran tiga meter dipasangi penanda satelit selama 77 hari, menempuh jarak terjauh dibandingkan hiu paus jantan lainnya. Rachel berenang ke sebelah Timur Filipina di Perairan Internasional dan kembali ke Taman Nasional sebanyak dua kali, menempuh jarak sekitar 6.000 km,”urai Cassandra.

Riset juga mengungkap, Rachel biasa berenang pada kedalaman 50-200 meter. Namun, Rachel pernah menyelam hingga kedalaman 1.800 meter.

Penelitian juga mengungkap wilayah di Teluk Cendrawasih di mana hiu paus paling sering menampakkan diri.

Selain itu, diketahui pula jumlah individu hiu paus, serta ukuran dan proporsi jenis kelaminnya.

Pengamatan langsung dilakukan di empat wilayah, yaitu Wasior, Napan Yaur, dan Kwatisore. Hiu paus paling sering muncul di Kwatisore. Tetapi, dalam dua tahun, penampakan berkurang.

Menurut pengamatan dengan RFID dan Photo Identification, ditemukan 113 individu hiu paus di Teluk Cendrawasih.

Sebanyak 80 persen dari total individu, jantan. Ukuran para pejantan ditemukan masih 3-5 meter, artinya belum matang.

Jantan hiu paus dewasa biasanya berukuran 7-8 meter, sedangkan betina dewasa bisa mencapai ukuran 100 meter.

Dari sejumlah metode pengamatan, tim WWF-Indonesia hanya menemukan empat individu betina. Cassandra mengungkapkan, “Masih menjadi misteri di mana individu betina, baik masih bayi dan dewasa, berada.”

Penelitian hiu paus hingga kini masih minim. Cassandra mengatakan perlunya riset lebih lanjut menguak lebih banyak tentang satwa ini.

Berdasar KEPMEN KP No. 18/2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus, hiu paus satwa dilindungi.

Upaya riset, dan konservasi perlu dilakukan dengan tetap menangkap potensi ekonomi sebagai wisata bahari.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Ben G. Saroy, katakan, hasil riset ini menggarisbawahi pentingnya perhatian pada Teluk Cendrawasih.

“Hasil studi dan pemantauan menunjukkan, kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, khususnya Kwatisore, salah satu habitat penting hiu paus harus menjadi prioritas konservasi di Indonesia, dan dunia,” ungkapnya.

********

Penulis : Risky Wulandari
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Related posts

Leave a Comment