Hijrah dan Momentum Perbaikan

Hijrah dan Momentum Perbaikan

613
0
SHARE
Warga Tarogong Kidul Berpawai Semarakkan Tahun Baru Hijriyah 1445 H.

Opini

19 Jul 2023, 06:00 WIB

Warga Tarogong Kidul Berpawai Semarakkan Tahun Baru Hijriyah 1445 H.

“Semangat hijrah harus menjadi momentumi untuk membangun kehidupan yang lebih baik”

RAHMAT HIDAYATPengasuh PP Madinatur Rahmah Tenjo-Bogor, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Penanggalan umat Islam memasuki tahun baru, 1 Muharram 1445 Hijriah. Secara bahasa (lughawi), hijrah bermakna berpindah (al-intiqal) dan meninggalkan (attarku).

Secara istilah, hijrah dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu hijrah secara fisik dan simbolis (maknawi). Secara fisik, hijrah bermakna pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain (al-intigal ‘an syaiin ila syaiin akhar).

Sedangkan secara simbolis bermakna meninggalkan perbuatan yang tidak baik menuju perbuatan yang baik atau meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah SWT.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT” (al-muhajir alladzi yuhajiru ‘amma nahallah).

Hijrah simbolis juga mencakup hijrah semangat (spirit), sebagaimana sabda Nabi SAW, “Tidak ada hijrah setelah terbukanya Kota Makkah (fathu Makkah), tetapi yang ada adalah jihad dan niat” (la hijrata ba’dal fathi walakin jihadun wa niyyatun).

Sebagaimana kita pahami, Rasulullah SAW selama 13 tahun berdakwah di Kota Makkah tidak banyak mengalami kemajuan. Sebaliknya, Nabi SAW banyak sekali menghadapi hambatan, rintangan, tantangan, dan ancaman.

Karena itu, pada tahun ke-13 kenabian, Nabi SAW diperintahkan berhijrah, meninggalkan kota kelahirannya di Makkah hijrah ke Yatsrib yang kemudian diganti nama menjadi Madinah (Madinah al-Munawarah).

Di kota baru inilah Nabi SAW dan para sahabat Muhajirin disambut hangat serta mendapatkan perlakukan yang sangat baik dari para sahabat Anshar.

Allah SWT mengabadikan dalam Alquran, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) ‘tiada menaruh keinginan’ dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka ‘mengutamakan’ orang-orang (Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS al-Hasyr [59]: 9].

Semangat saling mencintai, saling membantu, tidak pamrih, dan saling mendahulukan kepentingan orang lain (al-itsar) yang digambarkan Alquran di atas mampu membangun suasana persaudaraan (ukhuwah) yang sangat indah dan kokoh di antara para sahabat Nabi SAW.

Semangat saling mencintai, saling membantu, tidak pamrih, dan saling mendahulukan kepentingan orang lain (al-itsar) yang digambarkan Alquran di atas mampu membangun suasana persaudaraan (ukhuwah) yang sangat indah dan kokoh di antara para sahabat, sehingga menjadi modal dan fondasi utama bagi Nabi SAW dalam membangun masyarakat madani di Madinah.

Selain itu juga menjadi energi yang luar biasa bagi dakwah Islam, sehingga ajaran Islam berkembang pesat menembus seluruh jazirah Arab. Oleh karena itu, peristiwa hijrah ini oleh Khalifah Umar dijadikan dasar perhitungan kelender Islam.

Spirit dan nilai-nilai hijrah di atas memberikan pelajaran, inspirasi, serta momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan semangat kebersamaan, memperkokoh ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah.

Allah SWT berfirman dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah [2]: 218).

Allah SWT juga menginformasikan bahwa, “Sesungguhnya bumi Allah sangat luas dan kita diminta berhijrah.” (QS an-Nisa (4): 97).

Dalam realitas kehidupan, sebagian besar kita adalah orang-orang yang hijrah (fisik), yaitu berpindah (merantau) dari desa ke kota, dari kota kecil ke kota besar. Atau sebaliknya, dari kota yang satu ke kota yang lain bahkan hijrah ke luar negeri, baik karena alasan belajar, bekerja atau ikut keluarga. Tentu semuanya didorong semangat mewujudkan kehidupan lebih baik.

Bagi kita bangsa Indonesia semangat hijrah (simbolis) penting untuk terus digelorakan agar mampu menjadi energi yang dahsyat untuk membangun, dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Kita bangsa Indonesia baru saja keluar dari status pandemi menuju endemi dan bangsa Indonesia mampu memperbaiki kembali kondisi ekonomi yang sempat terpuruk sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Semangat melakukan perbaikan perlu terus ditanamkan agar bangsa Indonesia mampu meninggalkan berbagai perbuatan tercela seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme, peredaran dan penyalahgunaan narkoba, penyebaran berita hoaks.

Semangat melakukan perbaikan perlu terus ditanamkan agar bangsa Indonesia mampu meninggalkan berbagai perbuatan tercela seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), peredaran dan penyalahgunaan narkoba, serta penyebaran berita hoaks.

Dengan semangat perbaikan kita akan mampu meningkatkan produktivitas, daya saing ekonomi, mengubah dari masyarakat konsumtif menjadi produktif, dari negara yang hanya menjadi pasar bagi produk asing menjadi negara produsen, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Seiring dengan datangnya tahun politik, spirit hijrah juga diharapkan menjadi energi positif bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan pemilu yang damai, berkualitas, jujur, adil, mampu melahirkan kepemimpinan (eksekutif dan legistatif) yang lebih baik dan berkualitas, sehingga terwujud pemerintahan yang baik dan bersih (clean government and good governance).

Dan tentunya Indonesia menjadi negara yang aman, damai, maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain, rakyatnya sejahtera lahir dan batin (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Aamiin.

*********

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY