Hidupmu, Jazzmu

by

Purwanto Setiadi
@pwtsetiadi

Garut News ( Kamis, 21/11 ).

Ilustrasi, Hidup itu Tantangan dan Pilihan. (Foto: De Fretes).
Ilustrasi, Hidup itu Tantangan dan Pilihan. (Foto: De Fretes).

Kecuali di kalangan fatalis, umumnya orang percaya sebagian pendorong kemajuan dalam hidup adalah keberanian menantang risiko.

Para pionir, mereka yang menjadi pelopor, di bidang apa pun, adalah orang-orang yang berani mengerjakan sesuatu yang belum pernah dilakukan–dengan risiko bervariasi dari sekadar keliru hingga kehilangan nyawa.

Tidak selalu berarti para pemberani itu menempuh penjelajahan ke wilayah-wilayah baru, di luar batas-batas yang ada–puncak gunung, bagian paling sepi dari samudra, belahan bumi paling jauh dari peradaban.

Wujudnya bisa macam-macam.

Kata “pionir” mungkin mengingatkan kita pada para pendatang dari Eropa yang membuka wilayah barat Amerika bagian utara.

Kisah Daniel Boone sulit diabaikan.

Mantan perwira milisi pada masa Perang Revolusi ini dikenal sebagai penjelajah yang pada 1775, setelah mematahkan perlawanan suku-suku Indian, mendirikan permukiman pertama di wilayah yang kini disebut Kentucky.

Mengikuti rute yang dilaluinya, lebih dari 200 ribu pendatang dari Eropa lalu bermigrasi ke Kentucky/Virginia untuk mengubah nasib.

Sebagai pionir, orang-orang seperti Boone itu memberi contoh.

Dengan kata lain, mengambil risiko sebenarnya bukan pilihan sukarela setiap orang.

Atau, jika pengikut jejak Boone tetap bisa dianggap memilih tahap berisiko dalam hidupnya, urgensi dan dimensinya barangkali sudah jauh berbeda.

Bisa juga dipahami begini: pilihan untuk hijrah ke daerah baru itu, dan menghadapi apa pun risikonya, sebenarnya telah menjadi tindakan kolektif, berlaku sebagai “norma”.

Dan itulah yang lalu mengubah secara signifikan masa depan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengambil risiko bukanlah norma, yang setiap orang akan menjalaninya.

Tapi bukan tak bisa sama sekali menjadi pegangan.

Apa yang berlaku dalam jazz, misalnya.

Musikus aliran musik yang lahir di Amerika ini senantiasa memainkan not yang sama dengan cara berbeda.

Ini tak selalu mudah.

“Setiap not yang kami mainkan adalah sebuah risiko,” kata Steve Lacy, saksofonis yang pernah bermain dengan nama-nama besar, seperti Thelonius Monk, Charles Mingus, dan Duke Ellington.

Bagaimana bisa?

Salah satu aspek penting jazz adalah improvisasi.

Secara teknis, improvisasi berarti menciptakan komposisi secara spontan dan “memetik” melodi langsung dari pikiran.

Hanya musikus berkaliber di atas rata-rata yang sanggup melakukannya.

Dalam praktek, mereka yang sudah makan asam garam pun bisa terpeleset: eksekusi improvisasi yang lemah, keluar dari konteks, juga salah not.

Tapi semuanya tak penting; semua itu menunjukkan aneka risiko yang sudah ditanggung dan, karenanya, tak jadi soal.

Salah bukan bencana.

“Salah itu benar,” kata Thelonius Monk, pianis jazz yang gemar mengakomodasi harmoni yang tergolong “goyah” dan “miring”.

Harus diakui, hal-hal itulah yang ikut menempa jazz.

Dengan begitulah jazz dikukuhkan sebagai musik yang terus-menerus berkembang.

Jika berani menghadapi risiko bisa menjadi norma di lingkup kecil seperti jazz, mestinya tak mustahil berlaku di area kehidupan lainnya.

Katakanlah dalam memilih pemimpin.

Misalnya, jika figur yang dianggap “aman” terbukti tak menghasilkan perbaikan atau kemajuan apa-apa, kenapa tak mencoba memilih seseorang yang bisa jadi bukan siapa-siapa tapi peluang keberhasilannya jauh lebih terbuka?

Sekurang-kurangnya di situ ada harapan.

Kalaupun pilihan itu gagal, masih ada kesempatan lain untuk menguji peluang serupa–dengan menantang risiko yang sama atau yang lebih baru.

Itulah yang menguatkan hidup dan menjadikannya sanggup setiap saat memperbaiki diri.*

***** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co