Hidung Manusia Mampu Cium Triliunan Aroma

by

WASHINGTON, Garut News ( Jum’at, 21/03 – 2014 ).

Ilustrasi. Hidung. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Hidung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Hidung manusia ternyata miliki kemampuan bedakan satu triliun bau, jauh lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan mengira hidung manusia hanya bisa bedakan 10.000 aroma.

Sebelumnya, mereka menempatkan indera penciuman “lebih rendah” daripada indera penglihatan atawa pendengaran.

“Analisis kami menunjukkan kemampuan manusia bedakan bau jauh lebih besar daripada pernah diperkirakan,” kata co-author peneliti juga Kepala Laboratorium Neurogenetika Rockefeller University Leslie Vosshall seperti dikutip AFP dari jurnal Science.

Menurut para peneliti pada tim ini, informasi hidung manusia—dengan bantuan 400 reseptor hanya bisa membedakan sekitar 10.000 bau muncul pada 1920 tanpa dukungan data.

Para peneliti memang meneliti, mata dengan tiga reseptor bisa bedakan beberapa juta warna dan telinga dapat memilah 340.000 suara.

“Untuk bau, tak ada (sebelumnya) punya waktu menguji,” kata Vosshall.

Penelitian Vosshall, dan kawan-kawan melibatkan 26 orang dan campuran bau dari 128 molekul berbeda dapat membangkitkan aroma rumput, jeruk, dan beragam bahan kimia.

Bebauan tersebut dibagi menjadi 30 kelompok.

“Kami tak ingin bebauan itu dikenali eksplisit sehingga sebagian besar campuran itu (berbau) aneh dan buruk,” tutur Vosshall.

“Kami ingin para responden memperhatikan ‘ini hal benar-benar kompleks, dan apakah dapat memilih salah satunya mengatkan itu berbeda’,” kata dia.

Setiap responden menjajal tiga botol aroma dari waktu ke waktu, dengan dua botol beraroma sama, sementara satu aroma berbeda melihat apakah para responden tersebut bisa bedakan bau-bau itu. Ada 264 percobaan dijalani para responden.

Para peneliti kemudian membuat model kombinasi bau yang manusia dapat kenali berdasar rata-rata bau bisa dikenali pada percobaan itu.

Kombinasi dari 128 aroma sampel mendapat perkiraan hasil sekitar satu triliun bau seharusnya bisa dikenali penciuman manusia.

Pemimpin peneliti, Andreas Keller, juga dari Rockefeller University, mengatakan, jumlah ini pun hampir pasti masih terlalu sedikit.

Alasannya, masih banyak pencampuran aroma lain dalam dunia nyata.

Menurut Keller, nenek moyang manusia mengandalkan indera penciuman mereka.

Namun, refrigrasi dan higienitas perorangan membuat kemampuan pengenalan aroma itu menurun pada era modern.

“Ini menjelaskan sikap kita berpendapat (kemampuan) penciuman tak penting dibanding pendengaran dan penglihatan,” kata Keller.

Padahal, para peneliti sebelumnya tahu indera penciuman berhubungan erat dengan perilaku manusia, menjelaskan bagaimana otak manusia memproses informasi kompleks.


Penulis : Palupi Annisa Auliani
Editor : Palupi Annisa Auliani/Kompas.com