Harga Cabe Inul Melesat Tembus Rp83 Ribu

0
251 views

Garut News ( Senin, 29/12 – 2014 ).

H. Dayat, S.Sos
H. Dayat, S.Sos

Komoditi atawa jenis mata dagangan cabe inul maupun “cengek bunteut”, kini Senin (29/12-2014), harganya di pasar Ciawitali Guntur melesat hingga menembus Rp83 ribu per kilogram.

Padahal sebelumnya masih bertengger pada harga Rp60 ribu per kilogram.

Kepala UPTD Pasar tersebut H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha pasar tersebut, Akhmad Wahyudin, SE kepada Garut News katakan, jenis cabe-cabean itu termasuk khas Garut.

Berdatangan dari Cikajang, Samarang, Margawati Garut Kota, serta dari Cilawu.

Menjelang pergantian tahun ini, juga menjadikan harga tomat meningkat, dari semula Rp5 ribu per kilogram, kini harganya bertengger Rp6.500 per kilogram.

Akhmad Wahyudin, SE Pantau Langsung Perkembangan Harga di Pasar Ciawitali Guntur.
Akhmad Wahyudin, SE Pantau Langsung Perkembangan Harga di Pasar Ciawitali Guntur.

Disusul kenaikan harga beras jenis IR 64 kualitas satu, semula Rp8.800 per kilogram menjadi Rp9.000 per kilogram.

Sedangkan telur ayam ras semula Rp18 ribu per kilogram menjadi Rp21 ribu per kilogram, namun kenaikan harga beberapa jenis sayuran termasuk cabe inul ini, lantaran pasokan dari Jateng terhenti akibat gagal panen.

Diperkirakan mendekati hari pergantian tahun setiap seluruh harga sembilan bahan pokok, dan barang kepentingan lainnya rata-rata bisa meningkat sepuluh persen, ungkap H. Dayat serta Akhmad Wahyudin.

Dalam pada itu pemantauan lapangan Garut News, juga antara lain menunjukkan penarikan retribusi pasar pemasok pendapatan asli daerah (PAD), ternyata selama ini banyak dihadang kendala.

Di antaranya jika sejak subuh hingga menjelang siang diguyur hujan dipastikan jumlah konsumen berkurang, dan perolehan penarikan retribusi pasar paling banter hanya 50 persen atawa setengahnya.

Sedangkan kendala lainnya jika terjadi peristiwa kebakaran pasar, otomatis penarikan retribusi pasar bisa terhenti, menunggu proses pemulihan atawa perbaikan.

Kendala lainnya pun apabila telat menangkut sampah pada tempat pembuangan sampah sementara (TPS), berakibat menimbulkan aroma sangat bau, sehingga konsumen menjadi menjauh dari para pedagang berdekatan dengan TPS.

Akibatnya pedagang pun keberatan membayar retribusi. Menyusul setiap hari volume sampah Pasar Ciawitali Guntur mencapai enam hingga tujuh truk per harinya.

Maka bisa dibayangkan jika telat mengangkut sampah selama lima hari saja, aromanya tak tertahan lagi.

********

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here