Harapan dari Pariwisata

by

Garut News ( Jum’at, 06/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Jangan cuma mengandalkan Bali dan Yogyakarta. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Jangan hanya mengandalkan Bali dan Yogyakarta. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Kabar menyejukkan datang dari dunia pariwisata.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Januari-April 2014 meningkat tajam.

Sepanjang periode ini, wisatawan asing berkunjung ke Indonesia mencapai 2,94 juta, atawa naik 10,46 persen dibanding periode sama 2013, sebanyak 2,66 juta wisatawan.

Pertumbuhan itu merupakan tertinggi sepanjang satu dekade terakhir.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif optimistis target pencapaian wisatawan asing tahun ini, 9,3-9,5 juta orang atawa tumbuh 6-8 persen, terlampaui.

Rekor itu patut diapresiasi kendati sektor ini masih jauh tertinggal dibanding di negara tetangga.

Indonesia, dengan potensi wisata besar, seharusnya bisa bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Pariwisata berkembang lebih pesat jika pemerintah menggarapnya lebih serius.

Jangan cuma mengandalkan Bali dan Yogyakarta.

Pemerintah juga perlu mengembangkan wilayah lain.

Pada daftar dilansir World Economic Forum Desember 2013, sektor wisata Indonesia berada pada urutan ke-70 di antara 140 negara.

Peringkatnya hanya naik sedikit dari urutan ke-74 pada 2011 dan ke-81 pada 2009.

Ranking negara kita masih di bawah Singapura (peringkat ke-10), Malaysia (ke-34), dan Thailand (ke-43).

Pemerintah kudu menggenjot pertumbuhan pariwisata di negara kita lantaran berpengaruh besar terhadap perekonomian.

Sektor pariwisata menyumbangkan produk domestik bruto Rp347 triliun.

Sektor ini menempati urutan keempat sebagai penyumbang devisa negara pada 2013.

Wisata juga menimbulkan dampak berantai sebab memicu pertumbuhan bisnis perhotelan, restoran, transportasi, dan kerajinan.

Negeri ini amat kaya seni-budaya dan peninggalan bersejarah, serta memiliki keadaan alam unik.

Industri pariwisata berkembang pesat apabila digarap optimal.

Daya dukung, seperti infrastruktur dan promosi, perlu ditingkatkan.

Banyak obyek wisata Indonesia memiliki daya tarik tinggi dan terkenal di mancanegara, tetapi infrastrukturnya masih buruk.

Akses jalan raya ke lokasi obyek wisata belum memadai, fasilitas hotel dan restoran layak masih minim, dan penerbangan langsung pun masih kurang.

Promosi pariwisata selama ini juga minim.

Meski persepsi tentang Indonesia di mata dunia internasional kian baik, hal ini tak serta-merta mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke sini.

Diperlukan upaya promosi keras dan optimal meningkatkan citra Indonesia di mata internasional sebagai tempat tujuan wisata aman, nyaman, dan indah.

Dengan kerja keras dan visi jelas, sektor pariwisata bisa menjadi ujung tombak pemasukan negara.

Sebab, sektor energi, penyumbang terbesar pemasukan negara saat ini, dipastikan tak bisa diandalkan lagi seiring kian habisnya sumber energi dalam kurun 20 tahun ke depan.

******

Opini/Tempo.co